MERAYAKAN Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Rahmah El-Yunusiyah adalah tokoh keempat dari tujuh belas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.
Di Padang Panjang, kota kecil yang bertengger di lereng Bukit Barisan, fajar selalu datang dua kali. Pertama, dari ufuk timur seperti biasa. Kedua, dari sebuah rumah kayu sederhana yang jendelanya jarang tertutup, karena di situlah seorang perempuan muda bernama Rahmah El-Yunusiyah menyalakan api kecil yang kelak berubah menjadi matahari bagi kaum perempuan Nusantara.
Orang-orang Minangkabau menyebutnya padusi sakti: perempuan yang langkahnya senyap, tetapi kata-katanya mengguncang adat dan mimbar. Lahir pada 29 Oktober 1900, tetapi sejarah seperti menunggu hingga ia berusia 23 tahun untuk benar-benar membuka buku tentang dirinya. Ini tahun ketika ia mendirikan Diniyah Puteri, sekolah perempuan pertama di Nusantara yang tidak hanya mengajarkan membaca, berhitung, dan agama, tetapi juga keterampilan hidup, kemandirian, dan keberanian untuk menjadi manusia utuh.
Padang Panjang awal abad ke-20 adalah kota yang riuh oleh persilangan: kereta api kolonial menderu, pergerakan kaum muda berdebat, dan gempa bumi 1926 meruntuhkan dinding-dinding. Semua seolah mengingatkan manusia bahwa sejarah tidak pernah diam di tanah vulkanik.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Rahmah seperti mendengar suara masa depan memanggilnya. “Bangunlah perempuanmu,” kata suara itu. Mungkin datang dari angin yang menuruni Gunung Marapi, atau dari doa panjang ibunya. Atau dari kenangan tentang kakaknya, Zainuddin Labay El-Yunusy, sang pendidik yang lebih dulu melawan ketertinggalan.
Di Padang Panjang, sistem adat matrilineal bertemu kolonialisme. Perempuan memiliki posisi sosial kuat dalam garis keturunan, tetapi akses pendidikan tetap sempit. Mereka menjadi pemilik rumah, tetapi bukan pemilik masa depan.
Rahmah melihat itu sebagai kontradiksi yang menyakitkan: perempuan diagungkan secara adat, tetapi disempitkan secara intelektual. Kaum perempuan terkunci oleh sistem kolonialisme. Baginya, keterbelakangan bukan nasib, melainkan strategi penjajahan.
Dan, ia memutuskan untuk menentangnya. Untuk Memperjuangkan kaumnya. Ketika Rahmah mendirikan Diniyah Puteri pada 1923, banyak yang mengernyit.
“Perempuan belajar tinggi untuk apa? Apakah tidak cukup mereka di rumah?” Rahmah hanya tersenyum, menatap sawah yang berkilat setelah hujan, seolah di sana ia melihat helaian masa depan: perempuan-perempuan yang berpikir, memimpin, dan berdiri setara di hadapan dunia.
Sekolah itu dimulai dari surau kayu kecil. Dindingnya sederhana, tetapi visinya luas seperti langit. Rahmah memperkenalkan kurikulum yang jauh mendahului zamannya: pendidikan agama, keterampilan hidup, kesehatan, kepemimpinan, bahkan ketahanan mental.
Ia seolah tahu bahwa penjajahan tidak hanya menguasai tanah, tetapi juga kepala dan tubuh. Diniyah Puteri berkembang cepat. Saat gempa besar 1926 menghancurkan sebagian kota, Rahmah membuka kembali sekolah hanya dalam tiga bulan, menjadikannya pusat pemulihan sosial. Di situ, sejarah mencatat bahwa perempuan bisa menjadi pilar saat dunia runtuh.
Rahmah menghadapi Belanda, Jepang, pergolakan lokal, konflik pemikiran, dan politik muda Republik. Namun sejarah seperti melindunginya. Ia tidak memegang senjata, tetapi sekolahnya melahirkan generasi yang kemudian menjadi perawat perang, guru darurat, dan pejuang kemerdekaan.
Jika revolusi Indonesia memiliki dada, maka Rahmah memompa sebagian keberaniannya. Dari suara nurani Rahmah menghasilkan suara jernih dan futuristik: “Jika ingin membangun bangsa, bangunlah perempuan. Karena dari rahim dan akalnya, masa depan dilahirkan.” Kata-kata itu seperti mantra yang menembus waktu. Memandu sejarah, memandu langkah Republik muda. Pada 1955, pemerintah Mesir di bawah Presiden Gamal Abdel Nasser mengundang Rahmah dalam Konferensi Asia–Afrika bidang pendidikan Islam.
Ia hadir bukan sekadar tamu; ia adalah inspirasi. Al-Azhar, universitas Islam tertua di dunia, terkesan oleh model pendidikan Diniyah Puteri yang memadukan ilmu agama dan keterampilan modern. Di Kairo, Rahmah berdiri di depan para ulama besar, bukan hanya sebagai tamu kehormatan, tetapi sebagai cermin masa depan. Mereka kemudian menyatakan: pendidikan perempuan harus menjadi bagian dari sistem Al-Azhar.
Dan, tokoh Rahmah menjadi perempuan pertama di dunia yang menerima gelar kehormatan dari Al-Azhar. Saat itu, Nusantara mungkin belum sepenuhnya sadar, tetapi dunia telah menobatkannya sebagai pemimpin peradaban. Pada akhir hayatnya, Rahmah berjalan pelan. Tetapi sekolahnya berdiri tegar, melampaui zaman yang berganti-ganti seperti cuaca. Ia wafat pada 26 Februari 1969, namun kota Padang Panjang tetap memiliki dua fajar: satu di langit, satu lagi di Diniyah Puteri.
Setiap pagi, seragam para murid berkibar seperti teks-teks yang belum selesai ditulis. Seolah Rahmah berbisik: “Jangan biarkan masa depanmu gelap. Jika dunia gelap, jadilah cahaya itu.” Sejarah Indonesia sering menempatkan perempuan sebagai catatan kaki. Rahmah El-Yunusiyah membalik halaman itu. Ia bukan hanya guru. Ia bukan hanya pendiri sekolah. Ia adalah insinyur sosial yang membentuk ulang hubungan perempuan dengan pendidikan. Dia adalah insinyur yang membangun peradaban.
Ia melawan kolonialisme tanpa senjata, menantang patriarki tanpa mikrofon, dan mengubah kebijakan pendidikan global tanpa birokrasi. Nama Rahmah El-Yunusiyah dalam dunia pendidikan seperti revolusi sunyi. Tak dikenali, tak digali. Warisannya semerbak wangi, tetapi hanya sedikit yang menghayati. Padahal, di hati perempuan Indonesia, ia adalah pintu yang dibuka dengan penuh keberanian.
Dan, dalam ingatan peradaban, ia adalah bukti bahwa perubahan besar sering dimulai oleh seseorang yang tahu betul bahwa dunia dapat dirawat, asal ada keberanian untuk membelai satu fajar baru. Kita membutuhkan tokoh-tokoh sepertinya lebih banyak.
Mikhail Adam
Peneliti ekonomi politik di Nusantara Centre