Berita

Ilustrasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (Foto: Istimewa)

Publika

Tak Percaya MBG Diperbaiki

MINGGU, 21 JUNI 2026 | 06:12 WIB

KALIAN pasti dengar teriak para pendemo pro MBG. “Kalau ada masalah, diperbaiki." "Kalau ada kebocoran, dibenahi." "Kalau ada korupsi, pelakunya ditangkap." "Jangan programnya yang dihentikan." Begitukan? 

Sekilas terdengar masuk akal. Bahkan sangat masuk akal. Siapa juga yang tega menolak anak-anak mendapatkan makanan bergizi? Siapa yang berani terang-terangan bilang anak sekolah tidak perlu makan siang?

Masalahnya bukan di situ. Masalahnya justru ada pada pertanyaan paling sederhana yang terus dihindari, “Diperbaiki bagaimana?”


Karena yang sedang dihadapi bukan sekadar kesalahan teknis. Bukan sekadar nasi kurang matang atau lauk kurang garam. Yang sedang dihadapi adalah penyakit kronis bernama korupsi yang sudah bermetastasis ke hampir seluruh organ birokrasi. Sudah jadi budaya, local wisdom, ciri khas negeri.

Kalau pipa bocor, ya diganti. Kalau jalan berlubang, ya ditambal. Kalau mental korupsi sudah akut, mau ditambal pakai apa? Lem Korea? Lakban anti-air? Atau doa bersama tiga malam berturut-turut?

Publik sudah terlalu sering mendengar janji "perbaikan tata kelola". Kalimat itu sudah seperti ringtone lama yang diputar berulang-ulang sejak KPK ngejar Harun Masiku.

Setiap ada skandal, jawabannya sama. Perbaiki tata kelola. Perkuat pengawasan. Tingkatkan transparansi. Evaluasi menyeluruh.

Hasilnya? Koruptor baru lahir lebih cepat dari laporan evaluasinya selesai.

Lihat saja apa yang terjadi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN). Baru seumur jagung, belum juga program berjalan penuh ke seluruh Indonesia, publik sudah disuguhi parade tersangka. 

Gerombolan Dadan Hindayana betapa rakus mengeruk uang rakyat. Siswa dapat jatah MBG seharga Rp10 ribu, mereka sehari Rp1 miliar. Sudah enam jadi tersangka. 

Enam. Bukan satu. Bukan dua. Enam. Jumlah yang cukup untuk membuat satu tim futsal korupsi lengkap dengan pemain cadangan.

Lalu muncul lagi pernyataan yang lebih bikin jidat berkerut. Menurut Sony, ada sekitar 41 nama yang diduga terlibat dalam praktik jual beli titik SPPG. Empat puluh satu. Kalau angka itu benar, berarti yang terlihat sekarang mungkin baru ujung kumis tikus.

Yang ekornya masih berkeliaran di lorong-lorong gelap birokrasi sambil membawa proposal dan stempel. Yang lebih menarik, Kejaksaan Agung masih terus melakukan pendalaman.

Artinya apa? Artinya cerita ini belum tamat. Filmnya mungkin baru masuk episode pembuka. Karena itulah publik mulai kehilangan kepercayaan. Bukan karena mereka anti-gizi. 

Bukan karena mereka ingin anak-anak kelaparan. Bukan juga karena mereka membenci MBG. Mereka hanya sudah terlalu lelah dibohongi.

Hari ini ditemukan korupsi. Besok diumumkan perbaikan. Lusa ditemukan korupsi baru. Minggu depan diumumkan reformasi. Bulan depan muncul tersangka tambahan. 

Siklusnya berputar seperti komidi putar yang mesinnya tidak pernah dimatikan. Lalu ada pertanyaan yang semakin sulit dijawab oleh para pembela program.

Jika sejak awal dana triliunan rupiah saja sudah mengundang kerumunan pemburu rente, apa yang membuat publik yakin gelombang berikutnya tidak akan lebih besar? 

Apa yang mau diperbaiki? Sistemnya? Orangnya? Pengawasnya? Atau tikusnya yang diminta bertugas menjaga gudang beras?

Karena masalah terbesar MBG hari ini bukan lagi soal menu. Bukan soal telur atau susu. Bukan soal ayam atau tempe. Masalah terbesar MBG adalah krisis kepercayaan.

Publik tidak percaya uangnya akan sampai utuh. Publik tidak percaya nilai gizinya akan sesuai laporan. Publik tidak percaya pengawasnya mampu mengawasi. Publik tidak percaya pelakunya hanya enam orang.

Ketika kepercayaan sudah runtuh, presentasi PowerPoint setebal apa pun tidak akan cukup untuk memperbaikinya. Maka ketika ada yang berkata, "Kalau MBG salah, perbaiki, jangan disetop," publik sebenarnya ingin bertanya balik.

Baik. Diperbaiki. Tapi siapa yang memperbaiki? Orang yang sama? Sistem yang sama? Lingkaran yang sama? Atau tikus-tikus yang selama ini ikut menikmati keju?

Sebab kalau jawabannya masih itu-itu juga, jangan salahkan rakyat jika mereka mulai berpikir, yang sedang diperbaiki bukan programnya, melainkan cara membagi-bagi remahannya.

Semoga dibaca yang masih bersemangat mendukung MBG. Kalau merasa baper, yok kita seruput Koptagul, malam minggu ni, wak!

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya