MERAYAKAN Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Agus Salim, adalah tokoh ketiga dari tujuh belas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.
Apakah moral kini sudah punah? Apakah etika kini sudah purba? Dua pertanyaan ini patut kita ajukan dalam keseharian saat mengenal Agus Salim. Saat itu, gedung tua di Yogyakarta menjadi saksi bisu tatkala Republik yang baru seumur jagung menghadapi kekuatan militer terlatih Eropa, Belanda. Kala itu, perjuangan republik seperti memiliki dua sisi sayap yang terbang seiring sejalan: pertempuran lapangan dan diplomasi internasional. Kedua hal yang pada akhirnya saling melengkapi dan mengisi dalam pendirian republik.
Di antara riuh revolusi dan gegap nasionalisme, berdirilah seorang lelaki tua dengan janggut tipis yang tak pernah kehilangan kejernihan akal. Lelaki itu adalah Agus Salim, seorang yang pikirannya tajam, teratur, dan mengalir.
Sejarah Indonesia kerap kali dibingkai oleh heroisme: perang, senjata, darah, dan deklarasi. Namun di balik gegap gempita itu, ada sosok-sosok yang berjuang dengan cara yang lebih senyap, melalui bahasa, pikiran, dan kekuatan moral. Agus Salim adalah satu di antaranya. Ia tidak menembak musuh, tetapi melucuti kepalsuan dengan kecerdasan dan keluhuran budi.
Sejak kecil Agus Salim adalah sosok yang menonjol dan pandai. Di sekolah Belanda, Hogere Burgerschool ia menjadi lulusan terbaik se-Hindia Belanda pada tahun 1903. Prestasi yang hampir mustahil bagi seorang bumiputra, prestasi itu semestinya mengantarkan dirinya berkuliah di negeri Ratu Wilhelmina, tapi pemerintah kolonial Belanda menolak memberi kesempatan. Bagi mereka bumiputra yang terlalu pintar adalah ancaman bagi kekuasaan kolonial.
Agus Salim adalah pembelajar yang tekun. Ia belajar peradaban barat tetapi bukan untuk terperangah kagum dan tersihir, melainkan sebagai modal baginya mencerdaskan bangsa dan menyempurnakan ide keislaman. Ia memahami logika modernitas tanpa kehilangan akar spiritualitasnya. Dalam dirinya, rasionalitas Barat dan etika Islam berpadu menjadi satu wujud yang langka: seorang modernis yang beriman, seorang Muslim yang berpikir.
Agus Salim menyaksikan dunia Islam yang bergolak saat menjadi penerjemah konsulat Belanda di Jeddah. Ia bergaul dengan ulama Mesir, pedagang Turki, dan peziarah dari India. Di tanah suci itu, ia menyadari bahwa Islam bukan sekadar ritual, tetapi peradaban global yang membebaskan umat manusia. Islam dapat hadir untuk menentang penindasan dan kolonialisme. Ia menyerap semangat Pan-Islamisme, tetapi tidak dengan fanatisme. Ia menggabungkannya dengan rasionalisme dan cita-cita kebangsaan. Dalam surat-suratnya, ia menulis bahwa “umat Islam harus kembali kepada semangat ilmu pengetahuan dan keadilan, bukan sekadar kemarahan terhadap Barat.”
Kosmopolitanitas Mekkah membuatnya sadar bahwa kemerdekaan sejati tidak bisa dilahirkan dari kebencian, tetapi dari penguasaan akal dan keberanian moral. Maka sekembalinya ke tanah air, ia memilih pena sebagai senjata. Agus Salim tidak memilih jalan politik kekuasaan, melainkan jalan intelektual perlawanan. Ia menjadi wartawan dan redaktur di koran Hindia Baroe dan Neratja. Tulisan-tulisannya tajam dan elegan. Ia tidak berteriak, tapi menembus logika pembacanya dengan kecerdasan yang menohok.
Arus zaman membawanya bergabung bersama Sarekat Islam (SI) bersama H.O.S Tjokroaminoto. Dia menjahit tentang sebuah kesadaran gerakan nasional untuk melawan penjajahan. Dalam Sarekat Islam embrio itu tertanam dengan kehadiran faksi kiri, Islam, dan nasionalis. Itu seperti yang tergambar dalam rumah kecil Tjokro di Surabaya yang dihuni pemimpin pergerakan yang kelak membentuk sejarah Indonesia: Soekarno, Semaoen, dan Kartosuwiryo.
Dalam kemelut zaman, Agus Salim memilih jalan tengah. Jalan dialog antara iman dan rasionalitas, antara emosi revolusisoner dan akal sehat. Kebijaksanaan itu membuatnya tidak mudah terperangkap dalam fanatisme. Ia melihat bahwa musuh bangsa bukan hanya kolonialisme Belanda, tetapi juga kemalasan berpikir dan kemunafikan moral dari bangsa sendiri. “Ilmu,” katanya suatu kali, “hanya bermakna jika menegakkan martabat manusia.”
Pada 1929, Agus Salim menghadiri konferensi buruh sedunia. Di sana menjadi panggung diplomatik bagi dirinya yang mempermalukan Belanda, negeri kolonial yang menjajah Indonesia. “Belanda,” katanya, “begitu kecil sehingga seseorang dapat melintasinya dalam dua jam.”
Di sana Agus Salim menegaskan spirit kemerdekaan bangsa Indonesia di hadapan para meneer Belanda. “Orang belanda tak mengerti bau tanah Nusantara, orang Belanda yang terpelajar semestinya mendukung perjuangan Indonesia.” kalimat diplomatis yang elegan, tetapi tajam menembus jantung Negeri Tanah Tenggelam.
Saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Salim berusia 61 tahun. Ia tidak berambisi pada jabatan, tapi Soekarno memintanya menjadi Menteri Luar Negeri di masa genting. Tahun 1947, ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I, Salim dikirim ke berbagai negara untuk mencari dukungan diplomatik. Di forum-forum internasional, ia hadir tanpa jas, tanpa dasi. Hanya sarung, peci, dan kefasihan yang menusuk.
Pidatonya di Sidang PBB di Lake Success, New York, membuat banyak diplomat terdiam. Ia berbicara bukan dengan emosi revolusioner, tapi dengan moral universal. Ia membandingkan kolonialisme dengan dosa yang diwariskan peradaban Eropa sendiri.
“Anda tidak bisa mengkhotbahkan demokrasi sambil membelenggu rasa keadilan dan kemanusiaan,” ujarnya dingin namun jernih. perkataan itu menegaskan kepada dunia bahwa Indonesia bukan koloni yang melawan, tapi bangsa yang menuntut martabat dan kemerdekaan.
Di penghujung usianya, Agus salim hidup sederhana. Rumahnya di Tanah Abang, hanya berisi buku-buku, meja kayu, dan mesin tik tua. Ia tak punya tanah pribadi dan barang mewah, bahkan sering kekurangan uang untuk membeli kertas tulis. Tetapi rumahnya selalu terbuka bagi mahasiswa, wartawan, dan aktivis muda. Ia bercerita dan berbagi ilmu, mengajarkan bahwa politik sebagai kesadaran moral, bukan sikap haus kekuasaan.
Suatu ketika seseorang bertanya padanya: “Tuan haji, apa arti kemerdekaan bagi tuan?” Agus Salim tersenyum ramah, menatap langit Jakarta yang keruh. “Kemerdekaan,” katanya, “adalah keberanian berpikir dengan hati dan pikiran yang bersih dan bertindak dengan kesadaran etis.” Dan, kalimat itu hingga kini menjadi epitaf tak tertulis di hati republik yang sering lupa arah.
Mikhail Adam
Peneliti ekonomi politik di Nusantara Centre