Berita

Presiden Prabowo Subianto (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Politik

Prabowo Pernah Minta BPKP Tak Ragu Usut Orang Dekat Sebelum Dadan Ditangkap

KAMIS, 04 JUNI 2026 | 11:25 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu, 16 Mei 2026 kembali menjadi sorotan setelah Kejaksaan Agung menetapkan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana beserta dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam pidatonya, Prabowo mengungkapkan pernah menerima laporan dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mengenai dugaan penyimpangan yang melibatkan sejumlah orang yang disebut dekat dengannya.

Prabowo mengaku heran ketika menerima laporan tersebut karena petugas yang menyampaikan hasil pemeriksaan terlihat ragu untuk melanjutkan proses hukum.


"BPKP datang ke saya agak gemetar. Heran saya, kenapa agak stres. Karena yang dilaporkan, diketahui beberapa orang dekat sama saya. Jadi dia minta petunjuk, apa boleh diteruskan pemeriksaan karena dia tahu ini dekat dengan Presiden," ujar Prabowo dikutip ulang redaksi.

Mendengar hal itu, Prabowo menegaskan tidak ada perlakuan khusus bagi siapa pun yang terlibat pelanggaran hukum, termasuk orang-orang yang berada di lingkaran dekatnya.

"Saya bilang, masalahnya apa? Bagaimana pak petunjuknya? Saya katakan teruskan pemeriksaan. Tidak ada urusan orang Prabowo atau bukan orang Prabowo, dekat sama saya atau tidak," tegasnya.

Menurut Prabowo, kepercayaan yang diberikan negara justru harus diimbangi dengan tanggung jawab yang lebih besar. Karena itu, setiap pejabat negara wajib menjaga amanah yang diberikan dan tidak menyalahgunakan kewenangan.

Prabowo juga mengingatkan bahwa di era digital saat ini segala bentuk penyimpangan akan lebih mudah terdeteksi. Karena itu, ia mengaku heran jika masih ada pihak yang mencoba melakukan pelanggaran saat menjabat posisi strategis di pemerintahan.

"Saya heran kalau hari gini masih ada yang coba-coba. Sekarang ada digital, ada macam-macam, pasti ketahuan," ujarnya.

Meski mendukung penegakan hukum tanpa pandang bulu, Prabowo mengaku tetap merasa sedih terhadap dampak sosial yang harus ditanggung keluarga para pejabat yang tersandung kasus hukum.

"Saya sedih. Di ujung puncak karier, yang paling saya sedih adalah nanti anak dan istrinya," tuturnya.

Namun demikian, Prabowo menegaskan bahwa jabatan publik merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada negara dan rakyat.

"Saya katakan kepada BPKP, teruskan. Tidak ada siapa pun. Begitu menjabat jabatan negara, berarti tanggung jawabnya kepada negara dan rakyat," pungkasnya.  

Dadan Hindayana diketahui memiliki kedekatan khusus dengan Presiden Prabowo Subianto yang terjalin jauh sebelum dirinya masuk pemerintahan. Kedekatan itu bermula dari persoalan sebatang pohon cemara udang yang berada di depan kamar Prabowo di kediamannya di Hambalang.

Saat itu, pohon tersebut mengalami gangguan kesehatan dan berbagai upaya penanganan disebut belum membuahkan hasil. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rahmat Pambudy yang memiliki latar belakang akademik di bidang pertanian kemudian merekomendasikan Dadan sebagai pakar yang dinilai mampu menangani persoalan tersebut.

Setelah memberikan sejumlah perlakuan dan perawatan, pohon cemara udang tersebut kembali tumbuh sehat. Sejak saat itu hubungan Dadan dan Prabowo semakin dekat. Dadan kemudian kerap dilibatkan dalam tim pakar yang memberikan berbagai masukan kepada Prabowo.

Dalam sejumlah kesempatan, Dadan juga pernah mengungkapkan bahwa dirinya semula tidak membayangkan akan memimpin Badan Gizi Nasional. Ia mengaku sempat berharap mendapat posisi yang lebih ringan, seperti komisaris perusahaan. Namun Prabowo justru memberinya tantangan untuk memimpin BGN dan menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dadan menerima penugasan tersebut dan menjadi salah satu arsitek utama konsep MBG yang diterapkan saat ini, termasuk model Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terpisah dari lingkungan sekolah. 

Meski demikian, sejak awal ia juga mengakui program tersebut menghadapi berbagai kendala dalam aspek infrastruktur dan sumber daya manusia. Sebagai akademisi yang lama berkiprah di dunia kampus, Dadan disebut menghadapi tantangan tersendiri ketika harus memimpin lembaga baru dengan kompleksitas birokrasi yang tinggi.


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Prabowo Instruksikan Harga Minyak Nonsubsidi Turun Ikuti Harga ICP

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:57

Gerakan Koperasi Kerakyatan Soemitro Didorong Jadi Syarat Seleksi Manajerial KDMP

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:46

Merawat Konstitusi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:42

DKI-Bali Perkuat Kerja Sama, Obligasi Daerah Jadi Bahasan Utama

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:34

Tak Benar soal Surpres Pergantian Kapolri

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:31

Gagah saat Malak, Mendadak Ingat Anak-Istri Waktu Mau Dipecat

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:25

Harus Ada Langkah Konkret Atasi Kerugian Peternak Ayam Akibat Pemadaman Listrik

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:23

Prabowo Lepas Kepulangan PM Tailan dari Lanud Halim

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:20

Jalur Wisata Bromo Ditutup Total Gegara Kebakaran Hutan di TNBTS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:11

IHSG Terbang 1,37 Persen ke 6.319

Selasa, 04 Agustus 2026 | 16:44

Selengkapnya