Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Logam Mulia Kompak Tumbang Akibat Sentimen Suku Bunga Tinggi

KAMIS, 04 JUNI 2026 | 07:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar logam mulia mengalami tekanan hebat pada akhir perdagangan Rabu 3 Juni 2026. 

Harga emas spot melorot 1 persen ke level 4.440,99 Dolar AS per ons. Pelemahan ini diikuti oleh kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) yang ditutup merosot 1,2 persen di posisi 4.466,90 Dolar AS per ons.

Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran investor bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah akan mengerek harga energi dan memicu inflasi, yang pada akhirnya memaksa bank sentral (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.


Meskipun emas dikenal sebagai aset aman (safe haven) saat krisis, ada dua faktor utama yang menekan pergerakannya saat ini, yaitu beban suku bunga tinggi dan keperkasaan Dolar AS.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding). Ketika suku bunga tetap tinggi atau berpotensi naik, investor cenderung beralih ke instrumen keuangan lain yang lebih menguntungkan.

Penguatan Indeks Dolar AS (DXY) selama tiga hari berturut-turut membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan global.

Arah pergerakan emas selanjutnya akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS. Setelah data ADP menunjukkan pertumbuhan pekerja swasta Mei yang solid, fokus pasar kini tertuju pada laporan nonfarm payrolls pada Jumat men datang. 

Jika data tersebut kembali menunjukkan pasar tenaga kerja yang kuat, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter akan semakin sempit, yang berpotensi memberi tekanan lanjutan pada emas.

Tren negatif ini tidak hanya memukul emas, tetapi juga menyeret jatuh seluruh kelompok logam mulia lainnya pada hari yang sama. Harga perak spot anjlok 2,2 persen menjadi 73,40 Dolar AS. Platinum juga ambles 3,5 persen ke 1.868,58 Dolar AS. Begitu juga dengan palladium yang menyusut 3,5 persen ke 1.321,97 Dolar AS.


Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya