Berita

Partai Persatuan Pembangunan (PPP). (Foto: RMOL)

Politik

Ahli Hukum Tata Negara:

Tidak Lazim SK DPP PPP Diteken Ketum dan Wasekjen

KAMIS, 04 JUNI 2026 | 06:40 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Sidang lanjutan perkara sengketa partai politik yang diajukan Pepep Saepul Hidayat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terhadap Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (DPP PPP) menghadirkan saksi Ahli Hukum Tata Negara dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad) Mei Susanto, pada Rabu 3 Juni 2026.

Di hadapan Majelis Hakim, Mei Susanto menerangkan bahwa mandat UU Partai Politik, harus adanya kepengurusan DPP dengan keterwakilan perempuan 30 persen, membentuk Mahkamah Partai termasuk struktur DPP, mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sebagai konstitusinya partai politik.

"Tidak terpenuhinya ketentuan keterwakilan 30 perempuan perempuan dalam kepengurusan, berimplikasi pada tidak sahnya seluruh keputusan-keputusan atau kebijakan  yang dihasilkan oleh kepengurusan DPP PPP yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana diamanatkan UU partai politik," kata Mei Susanto.


Maka segala surat instruksi maupun surat keputusan yang dikeluarkan bertentangan dengan hukum, cacat hukum dan tidak mempunyai kekuatan mengikat.

Pandangan tersebut, menurut Mei Susanto, semakin diperkuat oleh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 128/PUU-XXIV/2026, yang pada pokoknya menyatakan bahwa terhadap partai politik peserta pemilihan umum yang tidak memenuhi syarat kuota keterwakilan perempuan paling sedikit 30 persen, Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada setiap tingkatan wajib mencoret atau menggugurkan keikutsertaan partai politik tersebut pada daerah pemilihan yang tidak memenuhi ketentuan dimaksud.

Lebih lanjut, ahli menjelaskan bahwa setiap proses pengambilan keputusan strategis di lingkungan DPP PPP harus dilaksanakan secara kolektif dan kolegial, tidak hanya melalui forum yang sah, tetapi juga dengan memperhatikan prinsip kuorum yang demokratis. Oleh karena itu, ketua umum tidak dapat secara sepihak menggunakan hak prerogatif dalam pengambilan keputusan tanpa dasar dan rasionalisasi

Ahli juga menjelaskan bahwa penandatanganan Surat Keputusan (SK) oleh Ketua Umum bersama Wakil Sekretaris Jenderal tidak dapat dipandang semata-mata sebagai tindakan administratif, melainkan mengandung aspek substantif yang berkaitan dengan keabsahan dan legitimasi keputusan organisasi.

Menurut ahli, sepanjang yang diketahuinya dalam praktik umum partai politik, Surat Keputusan pada umumnya ditandatangani oleh ketua umum dan sekretaris jenderal sebagai pejabat yang secara struktural memiliki kewenangan untuk mewakili organisasi. 

Oleh karena itu, penandatanganan oleh ketua umum bersama wakil sekretaris jenderal merupakan hal yang tidak lazim dan menimbulkan pertanyaan mengenai dasar kewenangan serta mekanisme yang melatarbelakangi tindakan tersebut.

Ahli juga menekankan bahwa partai politik sebagai pilar demokrasi harus dikelola secara baik, profesional, serta sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola organisasi yang demokratis.

Berdasarkan keterangan ahli ini, kuasa hukum Pepep, Hardiansyah mengatakan bahwa SK 0022/2026 dan SK 0066/2026 yang menetapkan Uu Ruzhanul ulum sebagai ketua DPW PPP Jawa Barat produk cacat hukum dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Karena SK tersebut ditandatangani oleh ketua umum dan wakil sekjen. Sedangkan kepengurusan DPP belum sesuai dengan aturan UU Partai Politik. 

"Terkait dengan keberadaan tim penyelesaian sengketa internal yang dimaknai oleh DPP PPP sebagai nama lain dari Mahkamah Partai adalah penafsiran yang keliru. Karena tidak ada payung hukum dan tidak diatur dalam AD/ART PPP," kata Hardiansyah.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya