Berita

Menu MBG. (Foto: Kantor Komunikasi Kepresidenan)

Politik

Perluasan MBG ke Luar Negeri Jadi Pintu Perlindungan Anak PMI

SELASA, 02 JUNI 2026 | 16:32 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wacana perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) di luar negeri disorot Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Didik Mukrianto. 

Menurutnya, program yang diinisiasi Badan Gizi Nasional (BGN) itu tidak hanya menyangkut pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi instrumen perlindungan bagi anak-anak PMI yang rentan kehilangan akses terhadap hak-hak dasar mereka.

"Inisiatif ini langsung mendapat sambutan hangat dari siswa, yang ingin merasakan manfaat MBG seperti rekan seusia di Tanah Air," katanya lewat akun X, Selasa, 2 Juni 2026.


Menurutnya, persoalan anak PMI undocumented, stateless, atau yang berisiko tidak memiliki kewarganegaraan merupakan masalah serius yang harus menjadi perhatian pemerintah. 

Fenomena tersebut bahkan disebut paling banyak terjadi di Malaysia, dengan jumlah yang diperkirakan mencapai lebih dari 100 ribu anak berdarah Indonesia yang hidup dalam kondisi tidak terdokumentasi atau berisiko stateless.

Sementara di Arab Saudi, meski skalanya lebih kecil, persoalan serupa juga ditemukan. Data menunjukkan sekitar 67 persen siswa Sekolah Indonesia Jeddah berasal dari keluarga PMI undocumented.

Didik menjelaskan kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari orang tua yang berstatus undocumented atau overstayer, pernikahan siri yang tidak tercatat secara sipil, hingga generasi kedua dan ketiga yang lahir di luar negeri tetapi tidak pernah terdaftar secara administratif sebagai warga negara Indonesia.

Akibatnya, banyak anak PMI menghadapi keterbatasan akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga rentan mengalami eksploitasi, diskriminasi, dan krisis identitas.

"Mereka berpotensi menjadi “generasi hilang” yang sulit berkontribusi bagi bangsa kelak," ujarnya.

Karena itu, Didik memandang program MBG dapat menjadi pintu masuk bagi pendekatan yang lebih inklusif dalam menjangkau anak-anak PMI yang selama ini sulit tersentuh layanan negara.

Menurutnya, hak anak untuk mendapatkan gizi yang layak tidak boleh dikorbankan hanya karena persoalan administrasi yang melekat pada orang tuanya.

"Jika berhasil di Jeddah, program ini idealnya diperluas ke Malaysia, di mana masalah stateless jauh lebih besar," katanya.

Didik juga menekankan bahwa penanganan anak PMI undocumented tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Diperlukan kerja sama lintas kementerian dan lembaga agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara komprehensif.

Ia menyebut Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Kementerian Luar Negeri, Kemendikbudristek, Badan Gizi Nasional, hingga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak harus terlibat aktif sesuai tugas dan kewenangannya masing-masing.

Selain itu, dukungan Kemenko Polkam, Kemendagri, Kemenkumham, dan Kementerian Kesehatan juga diperlukan untuk memperkuat aspek koordinasi nasional, pencatatan sipil, kewarganegaraan, dan layanan kesehatan.

Didik menambahkan, distribusi MBG sebaiknya berbasis pada kehadiran anak di sekolah, bukan kelengkapan dokumen administrasi, sehingga anak-anak yang berasal dari keluarga undocumented tetap dapat menerima manfaat program tersebut.

"Yang terpenting adalah memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan hak dasar hanya karena persoalan administrasi. Negara harus hadir dan melindungi mereka," pungkasnya.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya