Berita

Kebersamaan Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri. (Foto: Setpres)

Politik

Prabowo Rangkul PDIP Sekaligus Jokowi Demi Jaga Hubungan

SELASA, 02 JUNI 2026 | 14:15 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kedekatan antara PDI Perjuangan dengan Presiden Prabowo Subianto semakin mempertegas karakter politik Prabowo yang selama ini dikenal merangkul semua pihak dan menghindari perpecahan.

Menurut analis komunikasi politik Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa, secara komunikasi politik, ini mengirimkan pesan bahwa Presiden tidak ingin ada kubu-kubuan atau tidak ingin ada yang merasa ditinggal. 

"Pak Prabowo memang konsisten dengan politik merangkul, dan itu terlihat jelas di momen Harlah Pancasila kemarin," ujar Hensa, Selasa, 2 Juni 2026.


Founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini pun melihat kedekatan PDI Perjuangan dan Presiden Prabowo semakin terasa setelah Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto secara terbuka menyebut bahwa masalah-masalah bangsa yang kini dihadapi Prabowo merupakan warisan dari pemerintahan Presiden ke-7, Joko Widodo.

Ia melihat, pernyataan Hasto itu bukan sekadar pernyataan biasa karena secara tidak langsung menempatkan PDI Perjuangan sebagai pihak yang tetap akan membantu di belakang Prabowo, sekaligus menjauhkan diri dari era sebelumnya di mana PDI Perjuangan adalah partai tempat Jokowi bernaung.

"Ini pun menandakan bahwa PDI Perjuangan kini semakin ke sini mendekat, dan sudah terangkul oleh pak Prabowo, meski dalam posisi masing-masing mereka tak harus bermusuhan kan dan ini sekaligus jadi ajang buat PDI Perjuangan kalau mereka memang sudah tak bersama Jokowi," kata Hensa. 

Di sisi lain, Joko Widodo atau Jokowi sudah mulai bergerak. Jokowi yang kini tampak aktif bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) diketahui berencana menggelar tur keliling Indonesia. 

Hensa membaca langkah itu bukan sekadar safari politik biasa, melainkan sebagai upaya menjaga eksistensi politik keluarga, termasuk melindungi posisi putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, yang kini menjabat Wakil Presiden, menjelang kontestasi 2029.

"Jokowi turun gunung itu perlu kita baca dengan cermat. Ini bukan sekadar nostalgia atau silaturahmi. Ini adalah pergerakan politik yang punya misi. Dan ketika Jokowi bergerak bersamaan dengan hangatnya hubungan PDI Perjuangan dan Prabowo, maka kita bisa membaca satu hal dengan sangat jelas, ini pemanasan menuju 2029 sudah dimulai, dan ia dimulai lebih awal dari yang banyak orang perkirakan," kata Hensa.

Di sisi lain, Hensa melihat Prabowo kini berada pada posisi yang tidak sederhana. Kedekatan dengan PDI Perjuangan dinilai membuka satu pintu, namun secara bersamaan Prabowo juga tidak bisa begitu saja menutup pintu yang lain, yaitu pintu ke Jokowi dan ekosistem politiknya yang masih cukup besar.

Hensa menilai, jika dilihat dari pola gerak Prabowo selama ini, situasi ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi Presiden. Ia berpendapat, Prabowo butuh PDI Perjuangan untuk memperluas legitimasi politiknya, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan jaringan dan basis dukungan yang dibangun bersama Jokowi selama ini.

"Prabowo itu politisi yang tahu betul cara menjaga hubungan di banyak arah sekaligus. Tapi sekarang, dua arah itu mulai bergerak ke tujuan yang berbeda. PDI Perjuangan makin mesra, Jokowi makin aktif. Dan Prabowo ada di tengah. Apakah ini masalah? Belum tentu. Tapi apakah ini ujian? Sudah pasti. Yang menarik justru bukan siapa yang dipilih Prabowo, melainkan seberapa lama ia bisa menjaga keseimbangan itu," ujar Hensa.

Bagaimana Prabowo mengelola dua kutub politik ini pada akhirnya akan sangat menentukan seberapa tinggi suhu politik nasional menjelang 2029. Pilihan yang ia buat, atau justru pilihan untuk tidak memilih, akan membentuk peta koalisi yang jauh lebih definitif ke depannya.

"Ya kita lihat nanti saja perkembangannya. Yang jelas, apa yang sedang terjadi sekarang ini bisa jadi pembuka dari fase paling panas perpolitikan kita menuju 2029. Dan para pemain utamanya sudah mulai mengambil posisi masing-masing, sadar atau tidak," pungkas Hensa.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Pasar Minyak Wait and See Situasi Terkini Hormuz

Selasa, 02 Juni 2026 | 10:14

Kedekatan dengan Megawati Menguntungkan Pemerintahan Prabowo

Selasa, 02 Juni 2026 | 10:04

Telur Jatuh di Bawah Harga Impas, BGN Turun Tangan

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:51

Kebakaran Hebat di Kemayoran Ludeskan 250 Rumah

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:38

Video Parade ALF di Perbatasan Aljazair Jadi Sorotan Internasional

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:32

Anies Angkat Topi untuk Dino Patti Djalal: Bukan Diplomat Karbitan

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:31

IHSG Loncat 1,35 Persen, Rupiah Tertekan Pagi Ini di Rp17.888 per Dolar AS

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:26

Iran Ancam Hentikan Negosiasi Jika Israel Terus Serang Lebanon

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:09

Wildan Hakim: Gandengan Tangan Prabowo dan Megawati Peristiwa yang Natural

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:58

GREAT Institute: Shangri-La Dialogue Krusial untuk Navigasi Ketidakpastian Geopolitik

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya