Berita

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Politik

Prabowo Tak Ingin Pengalaman Pahit dengan Washington soal Alutsista Terulang

SELASA, 02 JUNI 2026 | 06:39 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah mengingatkan bahwa Indonesia pernah mengalami pengalaman pahit ketika hubungan politik dengan Amerika Serikat mengalami ketegangan pada akhir dekade 1990-an hingga awal 2000-an.

Saat itu, sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) buatan Amerika Serikat mengalami kesulitan operasional karena pihak Washington tidak mengirimkan suku cadangnya.

“Pesawat-pesawat TNI Angkatan Udara yang sudah terlanjur dibeli dari Amerika seperti F-16 Fighting Falcon, F-5 Tiger, dan C-130 Hercules pernah mengalami masalah serius akibat embargo. Banyak pesawat tidak bisa beroperasi secara optimal karena ketersediaan suku cadang menjadi persoalan,” kata Amir, dikutip Selasa 2 Juni 2026.


Amir menilai pengalaman tersebut merupakan pelajaran strategis yang tidak boleh dilupakan oleh para pengambil kebijakan pertahanan Indonesia.

Menurut dia, dalam dunia intelijen dan geopolitik, ketergantungan terhadap satu negara pemasok alutsista berpotensi menjadi titik lemah yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi perubahan konstelasi politik internasional.

Dalam perang modern, yang menentukan bukan hanya jumlah pesawat atau jumlah kapal perang. Yang menentukan adalah keberlanjutan logistik, rantai pasok, dan kemampuan pemeliharaan

"Kalau suku cadang dihentikan, maka alutsista secanggih apa pun akan kehilangan nilai tempurnya,” kata Amir.

Amir melihat Prancis memiliki karakter berbeda dibanding sejumlah negara pemasok senjata lainnya.

Menurut dia, industri pertahanan Prancis dikenal memiliki tingkat kemandirian teknologi yang tinggi, mulai dari desain, sistem avionik, radar, mesin, hingga berbagai komponen penting yang diproduksi secara mandiri.

Hal itu membuat sejumlah produk pertahanan Prancis relatif tidak terlalu bergantung pada persetujuan pihak ketiga dalam proses produksi maupun distribusinya.

“Prancis merupakan salah satu negara yang memiliki tradisi kemandirian strategis. Mereka mengembangkan industri pertahanannya sendiri. Ini penting bagi Indonesia karena memberi ruang lebih besar untuk membangun kerja sama yang berorientasi pada kepentingan nasional jangka panjang,” kata Amir.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Kejagung Periksa PNS Pemprov Banten terkait Korupsi MBG

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:17

Ahli dari Polri Untungkan Febri Adriansyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:03

Kinerja BUMD DKI Dituntut Lebih Terukur

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:53

Bayar Rp650 Juta tapi Gagal Lolos Kedokteran Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:41

KPK Bongkar Mahar Rp1,12 Miliar di Jalur Mandiri Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:29

Kiai Marsudi Dinilai Mampu Membangun Kemajuan NU Tanpa Kehilangan Jati Diri

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:17

Rektor Unsoed Diduga Terima Gratifikasi Rp680 Juta Lewat Mulyono

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:46

Ahli Praperadilan Febrie Sebut TPPU Perlu Tindak Pidana Asal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:29

Sjafrie Terima Menhan China: Perkuat Kerja Sama Militer

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:16

Mantan Dirdik Jampidsus Jasman Panjaitan Beberkan Kesaksian terkait Febrie

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:05

Selengkapnya