Jawapos TV. (Foto: Istimewa)
SATU per satu televisi daerah tumbang. Tumbangnya bukan pelan-pelan macam pohon pisang kena angin. Ini tumbang seperti dinosaurus dihantam meteor algoritma. Yang terbaru, Jawapos TV resmi berhenti mengudara. Duh sedih kali, wak.
Saya jadi teringat Rakyat Kalbar, koran tempat saya pernah bernaung di bawah bendera Jawa Pos Group. Gedungnya paling megah di Jalan Ayani 2, dulu. Sudah lama almarhum. Bedanya, dulu yang dimakamkan koran. Kini yang masuk liang lahat digital televisi.
Tanggal 30 Mei 2026 akan dikenang sebagai hari paling ironis dalam sejarah Jawapos TV. Tepat saat usianya genap 19 tahun, televisi itu mengucapkan salam perpisahan terakhir. Orang normal ulang tahun dapat kue tart. Dapat balon. Dapat ucapan panjang umur. Jawapos TV malah dapat karangan bunga duka cita dari zaman.
Televisi yang lahir tahun 2007 dengan nama SBO TV itu sempat berganti nama menjadi Jawapos TV pada 2018. Sudah ganti nama, sudah berhias, sudah berdandan, ternyata takdir berkata lain. Rupanya kontrak hidupnya dengan semesta hanya sampai usia 19 tahun.
Video dari akun Instagram @surabayaraya_info membuat dada para mantan karyawan terasa seperti diremas debt collector kenangan.
Studio kosong. Ruang kontrol gelap. Monitor mati. Kamera berdiri kaku seperti prajurit yang ditinggal panglima. Meja-meja redaksi sepi.
Tak ada produser berteriak. Tak ada presenter salah sebut nama narasumber. Tak ada wartawan berlari mengejar pejabat yang mendadak hilang setelah ditanya soal anggaran.
Yang tersisa hanya tulisan sederhana: "Rest in Power Jawapos TV 2007–2026."
Astaga. Kalimat itu lebih tajam dari mantan yang bilang, "Kita cukup sampai di sini."
Namun sebenarnya kiamat media ini sudah mengirim surat pemberitahuan jauh-jauh hari. Jawa Pos TV Bali lebih dulu tutup pada 1 Mei 2026.
KPID Bali bahkan turun tangan memastikan kabar tersebut. Saat itu manajemen masih bilang beberapa stasiun di Jawa tetap hidup. Sebulan kemudian, pusatnya ikut mengibarkan bendera putih.
Penyebabnya terdengar sangat keren dan intelektual, transformasi digital.
Kalimat ini sekarang sakti mandraguna. Televisi tutup? Transformasi digital. Radio mati? Transformasi digital. Iklan kabur? Transformasi digital. Karyawan menangis sambil membawa kardus isi barang pribadi? Tetap transformasi digital.
Padahal terjemahan sederhananya adalah penonton pindah ke platform streaming, pengiklan pindah ke media digital, dan biaya operasional televisi digital naik seperti roket yang kehilangan rem.
Tidak hanya televisi yang masuk ruang ICU. Radio pun mulai antre menuju alam baka frekuensi.
Data KPI mencatat sembilan radio grup Sonora berhenti beroperasi serentak per 31 Desember 2025. Sonora Bali tutup. Di Bandung, TRL FM atau bekas Hard Rock FM Bandung mengakhiri perjalanan setelah 25 tahun mengudara.
Sonora FM Bandung ikut lenyap. Menyusul Raka FM, Mom & Kids FM, Cosmo FM, dan Garuda Radio. Di Cirebon, Radio Maritim 102,6 FM off air total. Shelter FM masih ada, tetapi seperti hantu digital yang hanya muncul di internet.
Kalau radio-radio itu manusia, mungkin sekarang sedang reuni bersama pager, VCD bajakan, ringtone polifonik, dan cinta yang tidak direstui orang tua.
Sementara itu, koran masih bertahan. Tapi napasnya sudah seperti pelari maraton yang disuruh naik Gunung Everest.
Jawa Pos yang berdiri sejak 1949 dan kini berusia 77 tahun masih terbit. Radar Surabaya, Radar Jogja, Radar Solo, Radar Madiun, hingga Radar Tuban masih hidup. Bahkan Januari 2026 Jawa Pos Group meluncurkan SulawesiPos.com, BataviaPos.id, dan SulawesiTenggaraPos.com.
Namun data oplah berbicara jujur. Dari 17 koran Radar, hanya tiga yang naik oplahnya: Radar Bali, Radar Kudus, dan Radar Surabaya. Empat belas lainnya turun.
Dulu Jawa Pos pernah mencetak 433 ribu hingga 842 ribu eksemplar per hari. Kini angka oplah menjadi rahasia perusahaan. Mungkin karena tidak ada orang yang suka ditimbang di depan umum saat sedang diet ekstrem.
Inilah zaman paling lucu sekaligus paling kejam. Wartawan memverifikasi berita berjam-jam. Influencer cukup mengangkat alis tujuh detik. Jurnalis mengejar fakta sampai keringatan. Konten receh mengejar jutaan penonton hanya bermodal joget dan ekspresi seperti baru melihat UFO.
Televisi daerah tumbang. Radio berguguran. Oplah koran menyusut. Sementara algoritma duduk di singgasana digital seperti raja baru dunia, tertawa sambil menghitung uang iklan.
Kita semua menyaksikan pemakamannya. Lewat ponsel.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar