Berita

Ilustrasi Bahaya Gas Metana (Sumber: Gemini Generated Image)

Nusantara

Apa Itu Gas Metana? Ini Sumber dan Dampak Berbahayanya bagi Manusia

SENIN, 01 JUNI 2026 | 19:43 WIB | OLEH: TIFANI

RMOL.Fenomena kebakaran misterius yang terjadi di Sayegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menarik perhatian publik. Sebuah rumah warga dilaporkan terbakar hingga puluhan kali dalam kurun waktu sekitar 10 hari, sejak Sabtu (23/5/2026) hingga Senin (1/6/2026).

Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winard, menduga peristiwa tersebut dipicu oleh gas metana yang terakumulasi di dalam rumah. Ia menjelaskan bahwa material berpori seperti kayu, kain, atau perabot rumah tangga dapat menyerap dan menyimpan gas dalam jumlah tertentu.

Jika gas metana terakumulasi dalam konsentrasi tinggi, kondisi ini berpotensi memicu kebakaran, terutama ketika terdapat percikan api atau sumber panas. Rencananya, tim geolog dari Universitas Gadjah Mada akan melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap kandungan gas metana di lokasi, termasuk menguji sampel air dari sumur dan jalur pipa warga.


Apa Itu Gas Metana?

Gas metana (CH?) merupakan senyawa hidrokarbon ringan yang secara alami terbentuk dari proses pembusukan bahan organik tanpa oksigen (anaerob). Gas ini banyak ditemukan di tempat pembuangan sampah, rawa-rawa, hingga endapan bawah tanah.

Metana dikenal sebagai gas yang tidak berwarna dan tidak berbau, namun memiliki sifat sangat mudah terbakar (highly flammable). Kemunculan gas metana sering kali luput dari perhatian, padahal gas ini bisa muncul di sekitar kita tanpa disadari. 

Dalam beberapa kasus, seperti dugaan kebakaran berulang di Sleman, keberadaan metana bahkan bisa memicu kejadian yang tidak biasa. Secara alami, gas metana terbentuk dari proses pembusukan bahan organik tanpa oksigen atau yang dikenal sebagai proses anaerob. 

Sisa makanan, daun, kayu, hingga kotoran hewan bisa menghasilkan metana saat diuraikan oleh mikroorganisme. Karena itu, gas ini banyak ditemukan di tempat seperti tempat pembuangan akhir (TPA), rawa-rawa, hingga tumpukan limbah organik.

Selain proses alami, aktivitas manusia juga menjadi sumber besar gas metana. Misalnya dari sektor peternakan, persawahan, hingga industri minyak dan gas.

Kebocoran pipa gas atau pengelolaan sampah yang kurang baik bisa membuat metana terlepas ke udara dalam jumlah besar. Dalam beberapa kasus, metana juga berasal dari dalam bumi. 

Gas ini tersimpan di lapisan tanah atau batuan, lalu keluar melalui celah, retakan, atau bahkan sumur air. Berikut beragam bahaya gas metana:

1. Beracun

Paparan gas metana dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius. Beberapa gejala yang bisa muncul antara lain pusing, mual, gangguan penglihatan, dan kehilangan kesadaran.

Dalam kondisi ekstrem, metana dapat menggantikan oksigen di udara sehingga memicu hipoksia (kekurangan oksigen) yang berujung fatal. Selain itu, metana juga berkontribusi terhadap pembentukan ozon troposfer, yaitu polutan berbahaya yang dapat memperparah penyakit pernapasan.

2. Rentan Memicu Kebakaran

Gas metana sangat mudah terbakar, sehingga etika terakumulasi di ruang tertutup atau area tertentu dapat memicu kebakaran. Bahkan metana juga mudah terbakar jika terkena percikan api, panas tinggi, dan sumber listrik.

Kasus di Sayegan diduga terjadi karena akumulasi gas pada benda-benda berpori yang kemudian memicu api secara berulang.

3. Polusi Udara

Metana berperan dalam pembentukan ozon troposfer (ozon permukaan), yaitu polutan yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Emisi metana dari sampah, industri, dan aktivitas manusia menjadi salah satu penyumbang utama pencemaran udara di wilayah perkotaan.

4. Mempercepat Pemanasan Global

Metana termasuk gas rumah kaca yang sangat kuat. Dalam jangka waktu 20 tahun, daya pemanasannya bisa mencapai sekitar 80 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida.

Gas ini menjebak panas di atmosfer dan mempercepat kenaikan suhu bumi. Secara global, emisi metana menyumbang sekitar 30 persen pemanasan sejak era pra-industri.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Serap Aspirasi Warga Pandeglang, Arif Rahman Kawal Sektor Pertanian dan Perikanan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:14

Hormati Putusan MK, Komisi X DPR Minta Pendidikan dan MBG Tetap Jalan Beriringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak Maret

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:51

Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:41

Kesiapan Fasilitas Zikir Kebangsaan Monas: Dari Ambulans Hingga Ratusan Ribu Konsumsi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:34

K-SIGN Rote Ndao Dipacu Jadi Pilar Swasembada Garam Nasional

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:15

Harga Logam Mulia Terkoreksi Meski Mampu Akhiri Tren Penurunan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:02

Dul Mungkin Tak akan Naik Bus Malam Lagi Setelah Ketahuan Bawa Sabu

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:45

Arab Saudi Sambut Kesepakatan Pelucutan Senjata di Gaza, Israel Harus Mundur

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:34

Ramai Mal Pasang Pagar Tinggi di Tengah Situasi Kamtibmas Kondusif

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:23

Selengkapnya