Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Publika

Kembali Menjadi Bangsa Indonesia dengan Pancasila

SENIN, 01 JUNI 2026 | 17:18 WIB

SETIAP tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum ini bukan sekadar mengenang pidato monumental Soekarno pada 1 Juni 1945, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali posisi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertanyaannya, apakah Pancasila masih benar-benar hidup dalam keseharian kita, atau hanya hadir dalam seremoni, slogan, dan hafalan semata?

Pancasila lahir dari rahim kebudayaan bangsa Indonesia. Nilai-nilainya digali dari pengalaman panjang masyarakat Nusantara yang menjunjung gotong royong, musyawarah, toleransi, keadilan, dan kemanusiaan. Karena itu, Pancasila bukanlah ideologi impor yang dipaksakan dari luar, melainkan cerminan jati diri bangsa Indonesia.

Namun dalam perjalanan sejarah, Pancasila sering kali mengalami pendangkalan makna. Ia diperingati setiap tahun, diajarkan di sekolah, dan dikutip dalam berbagai pidato resmi, tetapi belum sepenuhnya menjadi panduan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Kita masih menyaksikan maraknya intoleransi, polarisasi politik, konflik berbasis identitas, penyebaran ujaran kebencian, korupsi, ketimpangan sosial, hingga eksploitasi lingkungan yang mengabaikan kepentingan generasi mendatang.


Fenomena tersebut menunjukkan adanya jarak antara nilai-nilai Pancasila yang ideal dengan realitas kehidupan kebangsaan yang kita hadapi saat ini. Padahal, jika dicermati lebih dalam, hampir seluruh persoalan bangsa sesungguhnya dapat didekati melalui nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan penghormatan terhadap keyakinan dan kemanusiaan. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menuntut perlakuan yang setara terhadap setiap warga negara. Sila Persatuan Indonesia mengingatkan bahwa perbedaan suku, agama, ras, dan golongan adalah kekayaan bangsa, bukan alasan untuk saling meniadakan. 

Sila Kerakyatan menegaskan pentingnya musyawarah oleh para pemimpin yang berhikmat (bijak) membawa aspirasi rakyat. Sedangkan Sila Keadilan Sosial menjadi pengingat bahwa pembangunan harus menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, bukan hanya sebagian kelompok.

Menjelang 81 Tahun Indonesia Merdeka, tantangan bangsa semakin berat. Perkembangan teknologi digital, persaingan ekonomi global, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik dunia menuntut Indonesia memiliki fondasi nilai yang kokoh. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, Pancasila harus kembali menjadi kompas moral dan arah pembangunan bangsa.

Karena itu, agenda besar yang perlu kita lakukan hari ini adalah “kembali menjadi bangsa Indonesia dengan Pancasila”. Artinya, mengembalikan Pancasila sebagai cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak dalam seluruh aspek kehidupan. Pancasila tidak cukup hanya dipahami secara konseptual, tetapi harus dihidupkan dalam budaya, hukum, sosial, politik, ekonomi, hingga pengelolaan lingkungan.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan yang sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara: ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

Pertama, ing ngarso sung tulodho--di depan memberi teladan. Pembumian Pancasila harus dimulai dari keteladanan para pemimpin. Masyarakat akan lebih mudah menghayati nilai kejujuran, keadilan, dan gotong royong jika melihat contoh nyata dari para pemegang amanah publik.

Kedua, ing madyo mangun karso--di tengah membangun semangat dan inisiatif bersama. Nilai-nilai Pancasila harus tumbuh dalam kehidupan masyarakat melalui partisipasi, kolaborasi, dan gotong royong untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial.

Ketiga, tut wuri handayani--di belakang memberi dorongan dan penguatan. Negara harus menghadirkan kebijakan, regulasi, dan sistem yang mendukung terwujudnya nilai-nilai Pancasila dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, keberhasilan Pancasila tidak diukur dari seberapa sering ia disebut dalam pidato atau dipasang di dinding-dinding kantor. Keberhasilannya terletak pada sejauh mana nilai-nilainya hidup dalam perilaku masyarakat dan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan publik.

Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah benar-benar menjadi bangsa Indonesia yang ber-Pancasila? Jika jawabannya belum, maka pekerjaan rumah kita masih panjang.

Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya dengan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemajuan teknologi. Indonesia Emas membutuhkan manusia Indonesia yang berkarakter, berkeadaban, menjunjung persatuan, dan menjadikan Pancasila sebagai prinsip hidup bersama.

Karena sesungguhnya, jalan menuju masa depan Indonesia dimulai dengan kembali menjadi bangsa Indonesia yang setia pada nilai-nilai Pancasilanya sendiri.


Faisal Tomi Saputra
Dosen Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya