Berita

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)

Bisnis

Devisa SDA Wajib Parkir di Dalam Negeri, Pemerintah Siapkan Insentif Pajak

SENIN, 01 JUNI 2026 | 07:06 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah resmi memberlakukan PP No 21/2026 mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) mulai hari ini 1 Juni 2026. 

Langkah strategis ini diambil demi mendongkrak retensi devisa di dalam negeri, yang pada akhirnya akan memperkokoh ketahanan ekonomi nasional serta menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa eksportir sektor komoditas alam wajib merepatriasi DHE SDA ke dalam negeri dengan kepatuhan penuh. 


“Mulai 1 Juni besok, pemerintah mengatur beberapa ketentuan baru terkait penempatan DHE SDA. Eksportir wajib merepatriasi devisa hasil ekspor sumber daya alam ke dalam negeri dengan tingkat kepatuhan 100 persen,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Minggu 31 Mei 2026. 

Dalam aturan baru ini, eksportir sektor nonmigas diwajibkan menyimpan 100 persen DHE SDA di rekening khusus domestik dengan jangka waktu minimal 12 bulan. Sementara itu, eksportir sektor migas wajib menempatkan sedikitnya 30 persen dana mereka selama minimal 3 bulan. 

Seluruh penempatan dana ini dilakukan melalui bank BUMN yang ditunjuk, dengan batas maksimal konversi dari valuta asing ke rupiah ditetapkan sebesar 50 persen demi efektivitas pengelolaan devisa.

Untuk mendorong kepatuhan, pemerintah menawarkan insentif pajak berupa pemotongan tarif Pajak Penghasilan (PPh) atas keuntungan dari instrumen DHE SDA. 

Eksportir berpeluang menikmati tarif PPh kompetitif hingga 0 persen, tergantung pada lamanya jangka waktu penempatan dana di dalam negeri. Stimulus fiskal ini dinilai jauh lebih menarik dibandingkan instrumen investasi lain yang umumnya dikenakan pajak lebih tinggi.

Pemerintah optimistis kombinasi kewajiban dan insentif ini akan menciptakan kepastian regulasi yang mendukung keberlanjutan investasi. 

Meski ketat, fleksibilitas tetap diberikan bagi eksportir yang terikat perjanjian bilateral atau kesepakatan dagang internasional dengan Indonesia agar arus perdagangan tetap lancar. 

Secara keseluruhan, implementasi PP 21/2026 diyakini mampu mendongkrak retensi devisa secara signifikan, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya