Berita

Presiden Como 1907, Mirwan Suwarso. (Foto: Istimewa)

Publika

Berkat Mirwan Suwarso Como Tampil di UCL

SENIN, 01 JUNI 2026 | 04:29 WIB

KISAH tentang Como 1907 mengguncang. Iya, Como. Klub Italia yang dulu lebih tidak terkenal dibanding grup WA alumni SMP. 

Sekarang? Resmi tampil di Liga Champions. Yang bikin Italia mendadak ingin belajar ngomong “terima kasih wak,” di balik kebangkitan gila itu ada orang Indonesia bernama Mirwan Suwarso.

Dulu Como itu klub nyaris almarhum. Bangkrut. Stadion kusam. Finansial amburadul. Masa depan suram, madesu. Klub ini hidupnya megap-megap seperti kipas angin tua kena debu tiga generasi. 


Mereka bukan Juventus. Bukan Inter Milan. Bahkan aura glamournya kalah sama warung kopi dekat terminal.

Lalu datanglah Mirwan. Awalnya orang Italia bingung setengah mati. “Siapa ini?”

Mereka kira Mirwan cuma pengusaha Asia yang mau numpang gaya. Biasalah, sepak bola Eropa sering didatangi sultan dadakan yang hobinya beli klub buat konten flexing

Datang pakai jet pribadi, foto sambil pegang jersey, beli striker harga selangit, lalu kabur saat klub mulai kalah tiga kali beruntun.

Tapi Mirwan beda. Dia tidak datang membawa ego. Dia datang membawa spreadsheet. Iya, spreadsheet. Hal paling ditakuti manusia setelah tagihan pinjol.

Mirwan membangun Como pelan-pelan. Akademi dibenahi. Infrastruktur diperbaiki. Sistem scouting dimodernisasi. Klub dijalankan seperti perusahaan profesional, bukan seperti proyek panitia yang anggarannya habis duluan sebelum acara dimulai.

Yang paling bikin warga Italia meleleh kayak mozzarella kena oven, Mirwan menghormati sejarah klub. Dia tidak sok jadi superhero. Tidak ngumbar janji treble. Tidak tiap lima menit bikin konferensi pers ala politisi habis survei naik 0,3 persen. Dia kerja diam-diam. Tahu-tahu Como berubah jadi monster elegan.

Lalu masuklah Cesc Fabregas. Nah ini makin liar. Nuan bayangkan legenda Arsenal dan Barcelona itu sekarang berdiri serius memimpin proyek sepak bola modern bersama orang Indonesia. Rasanya seperti lihat tukang seblak mendadak diskusi taktik sama Pep Guardiola.

Fabregas diberi sistem modern berbasis data statistik ala Moneyball. Pemain direkrut bukan berdasarkan “feeling cocok” atau mimpi ketemu leluhur bola semalam. Semua pakai analisis detail.

Hasilnya? Gila. Como mulai membunuh raksasa-raksasa Serie A pelan-pelan seperti villain anime yang awalnya diremehkan. AC Milan disalip. Juventus dikangkangi.

Tim-tim besar Italia mulai panik melihat klub kecil pinggir danau tiba-tiba bermain seperti gabungan Barcelona 2011 dan anak tongkrongan yang lagi kerasukan semangat hidup.

Puncaknya musim ini. Como resmi mengunci tiket Liga Champions setelah tampil luar biasa dan finis di empat besar Serie A. Stadion meledak. Kota Como menangis. Ultras Italia berteriak “Presidente!” lebih keras dari teriakan mahasiswa menurunkan Gubernur Kaltim.

Ulangi biar tetangga dengar, Como main di UCL Di balik semua itu ada otak Indonesia bekerja.

Mirwan Suwarso membuktikan, orang kita bukan cuma jago bikin thread konspirasi dan debat wasit di Facebook. Kita juga bisa mengelola klub Eropa dengan visi modern dan mental baja.

Lucunya lagi, orang Italia lebih cepat menghargai talenta Indonesia dibanding negeri sendiri. Di sini kadang orang sukses malah ditanya, “punya backing siapa?”

Sekarang anthem Liga Champions akan berkumandang di Como musim depan. Saat lagu itu terdengar, Eropa akan sadar, keajaiban sepak bola Italia ini ternyata dipimpin oleh seorang pria dari Indonesia. Negeri yang sering diremehkan… tapi diam-diam mulai bikin Eropa tepuk tangan.

“Nampaknya, mau siapkan kopi dan pisang goreng saat Como main nanti, Bang.”

“Selain Hyundai Hillstate, Como layak ditonton, wak. Seruput Koptagusl udah pasti. Bagaimanapun Como ada rasa Indonesia.”

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Dokumen dan BBE Usai Geledah Rumah Mewah Anggota Polri Yayat Sudrajat

Kamis, 10 September 2026 | 20:17

Pendalaman Fakta dan Penegakan Hukum Transparan Diperlukan di Kasus DJKA

Kamis, 10 September 2026 | 20:12

Tim 9 Kejagung Temukan Bukti Pemerasan Febrie di Kasus Jiwasraya

Kamis, 10 September 2026 | 20:05

Konsisten Perkuat Investasi Berkelanjutan, DPLK BRI Raih Kehati ESG Award 2026

Kamis, 10 September 2026 | 19:58

Waketum Golkar: Prabowo Konsisten Satukan Berbagai Warna Politik untuk Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 19:50

Rombak Ratusan Pejabat, Purbaya Minta Kemenkeu Bergerak Lebih Cepat

Kamis, 10 September 2026 | 19:40

Iwakum Dorong Pengerahan Maksimal Cari Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 10 September 2026 | 19:31

Menyoal Kasus Dadan Cs, JMI: Jangan Ramai di Awal, Lalu Hilang di Tengah Jalan

Kamis, 10 September 2026 | 19:14

Polisi Siap Sikat Penimbun Masker di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kamis, 10 September 2026 | 19:01

Pembagian 50:50 Kuota Haji Tambahan Ternyata Kebijakan Gus Yaqut

Kamis, 10 September 2026 | 18:45

Selengkapnya