Presiden Como 1907, Mirwan Suwarso. (Foto: Istimewa)
KISAH tentang Como 1907 mengguncang. Iya, Como. Klub Italia yang dulu lebih tidak terkenal dibanding grup WA alumni SMP.
Sekarang? Resmi tampil di Liga Champions. Yang bikin Italia mendadak ingin belajar ngomong “terima kasih wak,” di balik kebangkitan gila itu ada orang Indonesia bernama Mirwan Suwarso.
Dulu Como itu klub nyaris almarhum. Bangkrut. Stadion kusam. Finansial amburadul. Masa depan suram, madesu. Klub ini hidupnya megap-megap seperti kipas angin tua kena debu tiga generasi.
Mereka bukan Juventus. Bukan Inter Milan. Bahkan aura glamournya kalah sama warung kopi dekat terminal.
Lalu datanglah Mirwan. Awalnya orang Italia bingung setengah mati. “Siapa ini?”
Mereka kira Mirwan cuma pengusaha Asia yang mau numpang gaya. Biasalah, sepak bola Eropa sering didatangi sultan dadakan yang hobinya beli klub buat konten
flexing.
Datang pakai jet pribadi, foto sambil pegang jersey, beli striker harga selangit, lalu kabur saat klub mulai kalah tiga kali beruntun.
Tapi Mirwan beda. Dia tidak datang membawa ego. Dia datang membawa
spreadsheet. Iya,
spreadsheet. Hal paling ditakuti manusia setelah tagihan pinjol.
Mirwan membangun Como pelan-pelan. Akademi dibenahi. Infrastruktur diperbaiki. Sistem scouting dimodernisasi. Klub dijalankan seperti perusahaan profesional, bukan seperti proyek panitia yang anggarannya habis duluan sebelum acara dimulai.
Yang paling bikin warga Italia meleleh kayak mozzarella kena oven, Mirwan menghormati sejarah klub. Dia tidak sok jadi superhero. Tidak ngumbar janji treble. Tidak tiap lima menit bikin konferensi pers ala politisi habis survei naik 0,3 persen. Dia kerja diam-diam. Tahu-tahu Como berubah jadi monster elegan.
Lalu masuklah Cesc Fabregas. Nah ini makin liar. Nuan bayangkan legenda Arsenal dan Barcelona itu sekarang berdiri serius memimpin proyek sepak bola modern bersama orang Indonesia. Rasanya seperti lihat tukang seblak mendadak diskusi taktik sama Pep Guardiola.
Fabregas diberi sistem modern berbasis data statistik ala Moneyball. Pemain direkrut bukan berdasarkan “feeling cocok” atau mimpi ketemu leluhur bola semalam. Semua pakai analisis detail.
Hasilnya? Gila. Como mulai membunuh raksasa-raksasa Serie A pelan-pelan seperti villain anime yang awalnya diremehkan. AC Milan disalip. Juventus dikangkangi.
Tim-tim besar Italia mulai panik melihat klub kecil pinggir danau tiba-tiba bermain seperti gabungan Barcelona 2011 dan anak tongkrongan yang lagi kerasukan semangat hidup.
Puncaknya musim ini. Como resmi mengunci tiket Liga Champions setelah tampil luar biasa dan finis di empat besar Serie A. Stadion meledak. Kota Como menangis. Ultras Italia berteriak “Presidente!” lebih keras dari teriakan mahasiswa menurunkan Gubernur Kaltim.
Ulangi biar tetangga dengar, Como main di UCL Di balik semua itu ada otak Indonesia bekerja.
Mirwan Suwarso membuktikan, orang kita bukan cuma jago bikin
thread konspirasi dan debat wasit di Facebook. Kita juga bisa mengelola klub Eropa dengan visi modern dan mental baja.
Lucunya lagi, orang Italia lebih cepat menghargai talenta Indonesia dibanding negeri sendiri. Di sini kadang orang sukses malah ditanya, “punya backing siapa?”
Sekarang anthem Liga Champions akan berkumandang di Como musim depan. Saat lagu itu terdengar, Eropa akan sadar, keajaiban sepak bola Italia ini ternyata dipimpin oleh seorang pria dari Indonesia. Negeri yang sering diremehkan… tapi diam-diam mulai bikin Eropa tepuk tangan.
“Nampaknya, mau siapkan kopi dan pisang goreng saat Como main nanti, Bang.”
“Selain Hyundai Hillstate, Como layak ditonton, wak. Seruput Koptagusl udah pasti. Bagaimanapun Como ada rasa Indonesia.”
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar