Berita

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Politik

Prabowo Ingin Tunjukkan RI Bukan Objek Perebutan Pengaruh Global

SENIN, 01 JUNI 2026 | 04:03 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Kerja sama Indonesia dengan Prancis memiliki dimensi simbolik yang penting. Indonesia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Jakarta bukan sekadar objek perebutan pengaruh global, melainkan aktor independen yang mampu menentukan arah strategisnya sendiri.

"Pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengirim pesan penting kepada kawasan Asia Tenggara dan komunitas internasional," kata Amir, dikutip Senin 1 Juni 2026.

Indonesia ingin tampil sebagai kekuatan penyeimbang yang tetap menjaga prinsip bebas aktif, tetapi pada saat bersamaan aktif membangun kapasitas pertahanan modern.


Dalam analisa intelijen geopolitik, langkah Indonesia mendekati Prancis juga bisa dibaca sebagai upaya memperluas jaringan kekuatan di luar poros tradisional Amerika Serikat-China.

Prancis dipandang memiliki posisi unik karena meski bagian dari NATO dan Barat, Paris sering memainkan diplomasi yang lebih independen dibanding Washington.

Karena itu, hubungan Indonesia-Prancis memiliki ruang strategis yang lebih fleksibel dan tidak terlalu dibebani rivalitas ideologis global.

“Prancis melihat Indonesia sebagai jangkar stabilitas Asia Tenggara, sedangkan Indonesia melihat Prancis sebagai pintu masuk teknologi dan dukungan strategis Eropa,” kata Amir.

Selain pertahanan, pembahasan mengenai IEU-CEPA juga dianggap penting dalam konteks geopolitik ekonomi global.

Amir menilai perang modern saat ini tidak hanya soal kekuatan militer, tetapi juga perebutan pengaruh ekonomi, energi, dan rantai pasok teknologi.

Karena itu, penguatan hubungan ekonomi dengan negara-negara Eropa menjadi bagian integral dari strategi pertahanan nasional.

Menurutnya, Prabowo tampak memahami bahwa ketahanan nasional masa depan harus dibangun melalui kombinasi kekuatan militer, ekonomi, teknologi, dan diplomasi internasional.

“Ini bukan diplomasi jangka pendek. Ini desain geopolitik jangka panjang Indonesia,” pungkas Amir.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya