Berita

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Politik

Diplomasi Pertahanan Indonesia Lebih Antisipatif terhadap Ancaman Global

SENIN, 01 JUNI 2026 | 02:25 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Bagi Indonesia, memperkuat hubungan dengan Prancis memberikan beberapa keuntungan strategis sekaligus.

Demikian pandangan pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menanggapi pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris.

Pertama, diversifikasi sumber persenjataan dan teknologi militer. Indonesia tidak ingin terlalu bergantung pada satu kekuatan besar tertentu. 


"Dengan memperluas kerja sama bersama Prancis, Indonesia memiliki ruang manuver diplomatik yang lebih fleksibel," kata Amir, dikutip Senin 1 Juni 2026.

Kedua, peningkatan kualitas modernisasi pertahanan nasional. Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia mulai memasuki fase modernisasi militer besar-besaran, mulai dari pengadaan jet tempur, kapal selam, radar, hingga sistem pertahanan udara.

Ketiga, kerja sama dengan Prancis membuka peluang transfer teknologi dan penguatan industri pertahanan domestik yang selama ini menjadi kelemahan utama Indonesia.

“Prabowo tampaknya memahami bahwa kekuatan pertahanan modern bukan hanya membeli senjata, tetapi membangun kemandirian industri pertahanan nasional,” kata Amir.

Amir menilai langkah Prabowo mempererat kerja sama pertahanan dengan Prancis juga menunjukkan perubahan paradigma strategis Indonesia.

Jika sebelumnya diplomasi pertahanan Indonesia cenderung bersifat pasif dan administratif, kini arah kebijakan mulai bergerak menuju pendekatan yang lebih antisipatif terhadap ancaman global.

“Prabowo sedang membangun fondasi pertahanan jangka panjang. Ia membaca bahwa ancaman abad ke-21 jauh lebih kompleks dibanding masa lalu,” pungkas Amir.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya