Berita

Peluncuran Buku Jejak Perjuangan Bung Tomo karya Nanang Purwono di RRI Surabaya, Minggu 31 Mei 2026. (Foto: RMOLJatim)

Politik

Warisan Bung Tomo: Lawan Pemimpin yang Tak Berpihak pada Rakyat Kecil!

MINGGU, 31 MEI 2026 | 15:26 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Semangat perjuangan Pahlawan Nasional Bung Tomo dinilai tetap relevan hingga saat ini, terutama dalam menghadapi pemimpin yang tidak berpihak kepada rakyat kecil.

Semangat kepahlawanan Bung Tomo tidak hanya terwujud lewat pekikan takbir di corong radio yang membakar keberanian rakyat jelata melawan penjajah. Lebih dari itu, ruh perjuangan tokoh ikonik pertempuran Surabaya ini berakar kuat pada kecintaan mendalam terhadap rakyat miskin serta tegaknya keadilan sosial di bumi Indonesia.

Demikian antara lain disampaikan putra kandung Bung Tomo, Bambang Sulistomo saat menjadi narasumber dalam acara diskusi dan peluncuran buku "Jejak Perjuangan Bung Tomo" karya Nanang Purwono di RRI Surabaya, Minggu, 31 Mei 2026.


Dalam ceritanya, Bambang mengenang bagaimana sang ayah menghabiskan masa mudanya dengan bergelut langsung di tengah-tengah masyarakat bawah.

Bung Tomo tumbuh dengan rasa empati yang sangat tinggi terhadap penderitaan sesama. Bahkan, sang ibu pun sempat bekerja menjadi binatu demi menyambung hidup.

"Bapak (Bung Tomo) itu berasal dari orang miskin. Bergaulnya ya dengan orang-orang miskin," kata Bambang sebagaimana diberitakan Kantor Berita RMOLJatim.

Begitu dekatnya Bung Tomo dengan realitas sosial, ia bahkan rela bekerja apa saja, termasuk mengambil bola tenis (menjadi ball boy), demi bertahan hidup tanpa kehilangan martabat.

"Bapak itu betul-betul bergelut dan cinta dengan orang miskin. Jika ada kemiskinan yang dihina, beliau pasti akan merasa sangat tersinggung," ujar Bambang mengenang prinsip hidup sang ayah.

Menurut Bambang, Bung Tomo tidak takut dengan siapa pun. Apakah mereka pemimpinnya–jika berani menghina kaum miskin atau mengabaikan kesejahteraan mereka–maka pemimpin tersebut harus dilawan.

Baginya, berbicara mengenai kemiskinan pada hakikatnya adalah berbicara tentang kedaulatan rakyat.

Bambang juga menegaskan bahwa cita-cita kemerdekaan yang diperjuangkan Bung Tomo adalah mewujudkan negara yang berdaulat, agar tidak ada lagi rakyat yang hidup dalam jerat kemiskinan. Cita-cita luhur ini pula yang mendasari langkah politik Bung Tomo saat mendirikan Partai Rakyat Indonesia (PRI) yang berasaskan Pancasila.

Bung Tomo percaya penuh bahwa tidak ada satu pun sila dalam Pancasila yang bertujuan untuk menghasilkan kemiskinan. Pancasila justru hadir untuk menghargai rakyat yang berdaulat secara utuh.

Menyoroti kondisi sosial, Bambang menyampaikan pandangan ayahnya bahwa kemiskinan yang terjadi bukanlah takdir yang boleh diputarbalikkan opininya. Kemiskinan yang masif adalah kesalahan bersama yang lahir dari rahim ketidakadilan.

"Ketika yang korupsi tetap korupsi, dan yang salah justru dibenarkan, di situlah ketidakadilan terjadi. Padahal, keadilan adalah inti dari seluruh perjuangan Bapak," tegas Bambang.

Acara peluncuran buku yang dimoderatori oleh Kuncarsono Prasetyo ini juga menghadirkan Heroe Budiarto dari Dewan Kebudayaan Surabaya. Melalui buku "Jejak Perjuangan Bung Tomo", masyarakat diajak untuk tidak sekadar mengingat Bung Tomo sebagai orator ulung di radio, melainkan sebagai sosok manusia kemanusiaan yang meletakkan keadilan sosial di atas segalanya.

Sementara itu, penulis buku "Jejak Perjuangan Bung Tomo", Nanang Purwono mengungkap motivasi utamanya menulis karya ini adalah sebagai upaya melawan lupa dan merawat ingatan kolektif masyarakat Surabaya, terutama generasi muda.

Nanang menyayangkan hilangnya sejumlah bukti fisik sejarah, seperti bangunan asli rumah sekaligus studio Radio Pemberontakan Bung Tomo di Jalan Mawar Nomor 10-12 yang kini telah rata dengan tanah. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa nilai sejarah dari tempat tersebut tidak boleh ikut musnah.

"Situs ini yang bisa mengembalikan ingatan kolektif masyarakat. Meskipun rumah atau studio radio Bung Tomo sudah dihancurkan dan hilang, kita masih bisa melihat situsnya. Itulah mengapa kami mengabadikan dan menulisnya kembali dalam bentuk buku, agar sejarahnya tidak ikut hilang," kata Nanang.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Ini Lima Kebutuhan Dasar yang Jadi Tantangan Jakarta Versi Fahira Idris

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:21

Dari Modal Rp300 Ribu, IDEacraft Tembus Pasar Jateng Berkat Pemberdayaan BRI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:09

Islam, Sosialisme, dan Keindonesiaan: Jalan Perjuangan Kader SEMMI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:05

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Masih Bisa Dilawan

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:41

Harga Pertamax Cs Diprediksi Turun pada Juli 2026

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:10

Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Sambut HUT ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:04

Belanda Buka Asa Lolos 32 Besar Usai Gulung Swedia 5-1

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:28

Kemendikdasmen Ditagih soal Putusan MK terkait Sekolah Swasta Gratis

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:06

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Untungkan Kubu Jokowi secara Opini

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:01

Aliansi BEM Persatuan Indonesia Dukung MBG, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 01:34

Selengkapnya