Berita

Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas) Selamat Ginting. (Foto: Istimewa)

Politik

Selamat Ginting:

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

SABTU, 30 MEI 2026 | 03:36 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Secara historis, konsep pertahanan Indonesia memang berbeda dengan negara-negara liberal Barat. 

Indonesia menganut sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata), yaitu melibatkan seluruh rakyat, wilayah, dan sumber daya nasional sebagai bagian dari kekuatan pertahanan negara. 

"Doktrin ini lahir dari pengalaman perang kemerdekaan ketika TNI tidak bertempur sendirian, tetapi menyatu dengan rakyat," kata Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas) Selamat Ginting, dikutip Sabtu 30 Mei 2026.


Sebelum terbentuknya Yonif TP jumlah personel TNI sekitar 500 ribu, sedangkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 285 juta jiwa. 

"Itu artinya personel militer kita hanya sekitar 0,175 persen," kata Ginting.

Padahal sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau. Dari perspektif pertahanan keamanan negara, jumlah ini sangat tidak memadai atau lebih tegasnya: tidak masuk akal. 

Maka kehadiran Yonif TP, kata Ginting, ingin menghidupkan kembali konsep tersebut dalam bentuk modern.

Batalyon ini tidak hanya disiapkan untuk perang konvensional, tetapi juga untuk mendukung pembangunan wilayah, penguatan ketahanan pangan, penanggulangan bencana, stabilisasi daerah rawan konflik, hingga pengamanan wilayah strategis nasional. 

Yonif TP terdiri dari tiga kompi senapan infanteri, satu kompi zeni, satu kompi medis, satu kompi pertanian, satu kompi peternakan, satu kompi perikanan, satu kompi markas, dan satu kompi bantuan.

Artinya, TNI sedang mengejar tiga sasaran besar sekaligus, yakni:
Pertama, memperkuat kontrol teritorial negara. Indonesia adalah negara kepulauan raksasa dengan ribuan pulau dan banyak wilayah minim kehadiran negara. Dalam perspektif pertahanan keamanan negara, ruang kosong adalah ancaman. Wilayah yang tidak dijaga berpotensi menjadi titik masuk separatisme, terorisme, penyelundupan, infiltrasi asing, hingga konflik sosial. Pembangunan Yonif TP membuat negara memiliki “mata dan telinga” lebih kuat di daerah.

Kedua, membangun kesiapan menghadapi perang non-konvensional. Perang masa depan tidak selalu berupa invasi militer terbuka. Ancaman bisa datang melalui sabotase ekonomi, krisis pangan, perang informasi, konflik identitas, hingga operasi intelijen asing. Oleh karena itu, TNI ingin membangun struktur yang tidak hanya mampu bertempur, tetapi juga bertahan dalam situasi krisis nasional berkepanjangan.

Ketiga, menciptakan efek deterensi geopolitik. Dalam geopolitik modern, jumlah dan penyebaran pasukan tetap menjadi pesan politik. Ketika Indonesia memperluas infrastruktur militer hingga ke daerah, itu mengirimkan sinyal bahwa negara serius menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional.
Ini penting di tengah meningkatnya persaingan kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik.

TNI menargetkan pembangunan 750 satuan di tingkat kabupaten/kota di seluruh Indonesia hingga 2029. 

Program itu menjadi bagian dari implementasi Optimum Essential Force (OEF) yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 guna mewujudkan postur pertahanan nasional yang adaptif dan modern.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya