Berita

Kapusjianmar Seskoal Laksma TNI Salim. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Pertahanan

Laksma TNI Salim: Kita sedang Memasuki Era Quantum Warfare

JUMAT, 29 MEI 2026 | 00:20 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Perang antara Iran melawan Israel beserta Amerika dan sekutunya mengalami transformasi besar dari konflik konvensional menuju konflik multidomain yang semakin kompleks, tidak terlihat, dan berbasis teknologi tinggi. 

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Pengkajian Maritim Sekolah Staf dan Komando TNI AL (Pusjianmar Seskoal) Laksma TNI Salim, M.Phil kepada RMOL di Jakarta, Kamis malam, 28 Mei 2026.

Menurut Salim, evolusi ini dapat dipahami melalui tiga fase utama yakni asymmetric warfare, hybrid warfare, dan quantum warfare.


“Asymmetric warfare adalah bentuk peperangan ketika pihak yang lebih lemah menggunakan strategi non-konvensional untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih superior. Karakter peperangan ini antara lain; gerilya, teroris, insurgency, serangan hit and run atau dengan cara lain jangan menyerang kekuatan lawan serang kelemahannya. Contohnya Perang Vietnam, Taliban melawan AS, ISIS dan Piracy di Somalia,” jelas Salim.

Jebolan AAL 1995 ini lebih lanjut menyebut hybrid Warfare muncul ketika konflik tidak lagi hanya menggunakan kekuatan militer, tetapi menggabungkan seluruh instrumen kekuatan nasional, yang merupakan perpaduan kekuatan militer dan non militer. 

“Karakter dalam peperangan ini antara lain cyber warfare, information warfare, economic coercion, maritime militia, lawfare, proxy conflict, disinformasi dan artificial intelligence surveillance. Tujuan utamanya adalah menciptakan dominasi tanpa perang terbuka. Contohnya; operasi hibrid yang dilakukan Rusia, Grey zone di Laut China Selatan, Serangan siber terhadap infrastruktur dan tekanan terhadap ekonomi dan teknologi,” bebernya.

“Fase kita saat ini juga memasuki era dominasi cerdas dan tak terlihat atau quantum warfare fase masa depan dengan peperangan berbasis antara lain quantum computing, artificial intelligence, autonomous systems, cyber-physical integration, cognitive warfare, dominasi ruang angkasa, dan autonomous underwater warfare,” tambahnya. 

Penulis buku ‘Basic Knowledge of Cyber Security’ ini menyebut karakter peperangan pada fase sekarang dan masa mendatang antara lain: AI-driven battlefield, quantum communication, quantum radar,  autonomous swarm, hypersonic weapons, cognitive manipulation, predictive warfare dan real-time data fusion. 

“Pemenang perang masa depan bukan yang memiliki militer terbesar, tetapi yang menguasai data, algoritma, dan kecerdasan strategis,” tegas Salim.

Lanjut dia, hal yang paling penting dilakukan pemerintah Indonesia dalam menghadapi era quantum warfare adalah membangun kedaulatan teknologi dan ketahanan strategis nasional melalui penguatan artificial intelligence, cyber defense, quantum communication, maritime domain awareness, dan penguasaan data nasional secara terintegrasi. 

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi atau arena proxy competition negara besar, tetapi harus menjadi negara maritim yang mampu mengendalikan keamanan informasi, infrastruktur digital, serta kemampuan pengambilan keputusan strategis secara mandiri,” tegasnya lagi.

Masih kata Salim, selain modernisasi pertahanan, Indonesia juga harus memperkuat diplomasi strategis, pendidikan teknologi tinggi, riset nasional, dan kolaborasi regional ASEAN agar mampu menghadapi perang masa depan yang tidak lagi hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga di ruang siber, ruang angkasa, bawah laut, dan ruang kognitif manusia. 

“Karena perang masa depan mungkin tidak dimulai dengan rudal, tetapi dengan algoritma, gangguan siber, manipulasi kognitif, dan sistem otonom. Khusus keamanan maritim masa depan kita membutuhkan adaptive governance, technological resilience, strategic diplomacy, serta kerja sama regional berbasis trust dan innovation,” pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ketika Gerakan Sosial Baru Menggugat Tatanan Politik

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:15

Ada Demo Mahasiswa, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan Monas

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:00

Cegah Perpecahan, Bagusnya Gibran Mundur

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:38

Ada Indikasi Dendam Politik di Balik Wacana Pelengseran Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:24

Legislator PKB Serahkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Majalengka

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:01

Realisasi Investasi Hingga Kuartal III Sentuh Rp1.539 T

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:53

Masyarakat Adat Wanam Merauke Butuh Pelatihan Pertanian Berkelanjutan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:45

BEM-KSI Gelar Silaturahmi ke PBNU dan Beri Apresiasi ke Gus Gudfan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:29

Selengkapnya