Berita

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, KH Abdussalam Shohib. (Foto: istimewa)

Politik

Dunia Harus Sanksi Israel usai Aktivis Kemanusiaan Diperlakukan Tak Manusiawi

MINGGU, 24 MEI 2026 | 07:25 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Penangkapan ratusan aktivis kemanusiaan pro-Palestina oleh aparat Zionis Israel di perairan internasional menuai kecaman. Sebanyak 428 aktivis dari berbagai negara yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla disebut mengalami perlakuan tidak manusiawi saat menjalankan misi menuju Gaza pada 19 Mei 2026.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, turut menjadi sorotan setelah mengunggah video yang memperlihatkan aparat keamanan Israel memaksa para anggota flotilla berlutut dengan tangan terikat saat ditahan. Dalam rekaman itu, Ben-Gvir tampak mengibarkan bendera Israel sambil melontarkan pernyataan bernada provokatif kepada para aktivis.

Sejumlah aktivis mengaku mengalami penahanan, penyiksaan, hingga pelecehan sebelum akhirnya dibebaskan, termasuk sembilan WNI yang ikut dalam misi tersebut. Padahal, dalam hukum humaniter internasional, misi kemanusiaan seperti Global Sumud Flotilla merupakan misi sipil yang wajib dilindungi dan tidak boleh menjadi sasaran intimidasi maupun penahanan. Konvensi Jenewa juga mengatur bahwa bantuan kemanusiaan harus diberikan akses dan perlindungan.


Menanggapi aksi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, KH Abdussalam Shohib, menegaskan aspek kemanusiaan harus menjadi prioritas utama dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil seseorang. 

“Ketika sedang menjalankan salat wajib saja boleh dibatalkan, bahkan wajib dibatalkan bila kondisi darurat untuk menyelamatkan manusia,” kata sosok yang akrab disapa Gus Salam itu, Minggu, 24 Mei 2026.

Gus Salam meragukan kemungkinan Zionis Israel bersedia tunduk dan patuh terhadap hukum internasional. Ia menilai karakter Zionis Israel selama ini lebih menunjukkan kecenderungan merusak tatanan internasional dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan demi mempertahankan kekuasaan serta dominasi atas pihak lain.

“Susahnya mengubah watak yahudi, terlebih dengan politik zionis membentuk Israel Raya. Itu kalau tidak dihentikan, krisis kemanusian akan terus terjadi di Asia Barat atau Timur Tengah,” ungkap Gus Salam.

“Di jaman Mesir kuno, keturunan Yahuda, disebut Yahudi, rata?rata berotak cerdas, tapi sebagian besar berwatak buruk, kikir, sombong, keduniaan, berkeinginan menguasai bangsa lain, ashabiyah (fanatis), kejam, dan sebagainya,” tambahnya.

Gus Salam menilai kawasan Asia Barat atau Timur Tengah yang kaya minyak dan gas bumi selama ini menjadi arena perebutan kepentingan negara-negara besar. Dalam pandangannya, Zionis Israel kerap ditempatkan sebagai alat kepentingan geopolitik untuk menjaga pengaruh dan kontrol di kawasan tersebut.

Ia juga menyoroti kepemimpinan Benjamin Netanyahu dan Itamar Ben-Gvir yang dinilai merepresentasikan sikap politik Zionis Israel yang lebih mengedepankan kepentingan strategis mereka sendiri dibanding membuka ruang dialog yang setara.

“Kalau seperti itu, korban manusia dan krisis kemanusiaan di Gaza, Yerusalem, Tepi Barat, Lebanon, Suriah dan negara lain di Timur Tengah, tidak pernah berhenti,” ujar Gus Salam.

Menurutnya, para aktivis kemanusiaan internasional yang berupaya menyalurkan bantuan bagi korban konflik bersenjata masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari penghadangan, pengusiran, hingga perlakuan tidak manusiawi.

Karena itu, Gus Salam menilai tekanan internasional terhadap Zionis Israel harus terus dilakukan. Menurutnya, apabila upaya melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa kerap terhambat kepentingan politik negara pemilik hak veto, maka negara-negara yang memiliki kepedulian terhadap isu kemanusiaan dapat mengambil langkah tekanan dan sanksi melalui kebijakan politik masing-masing.

“Bila negara tidak bisa, maka kelompok atau organisasi masyarakat sipil di dunia bisa secara mandiri atau berjejaring melakukan seruan moral untuk menekan dan memberi sanksi terhadap zionis Israel,” kata Gus Salam.

Bentuk tekanan terhadap Zionis Israel dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk boikot terhadap produk maupun pihak yang dinilai memiliki keterkaitan dengan kepentingan ekonomi dan politik Israel.

Ia menegaskan komunitas internasional perlu mendorong Israel agar menghormati tatanan dan aturan bersama dalam kehidupan global, terutama yang berkaitan dengan perdamaian dan perlindungan nilai-nilai kemanusiaan.

“Terlalu naif mengandalkan dialog dengan zionis Israel. Sebaliknya, sikap dan tindakan nyata diperlukan untuk menghentikan kekejaman Israel,” pungkasnya.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya