Berita

Pengamat politik Dr. Selamat Ginting. (Foto: YouTube Forum Keadilan TV)

Politik

Dr. Selamat Ginting:

Publik Anggap Qodari dan Hasan Nasbi Kelemahan Pemerintah

JUMAT, 15 MEI 2026 | 03:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Penunjukan Muhammad Qodari sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) dan Hasan Nasbi sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi terus menuai sorotan.

Pengamat politik Dr. Selamat Ginting menyatakan keheranannya ketika Presiden Prabowo Subianto masih merangkul kedua orang tersebut.

“Publik kan menganggap bahwa ini salah satu kelemahan (pemerintah) ada di Qodari dan Hasan Nasbi. Tapi pertanyaan yang penting adalah mengapa dia direkrut kembali? Kan begitu,” kata Selamat dalam podcast Madilog dikutip pada kanal YouTube Forum Keadilan TV, Kamis malam, 14 Mei 2026.  


Lanjut akademisi Universitas Nasional (Unas) tersebut, Hasan Nasbi dan Qodari bisa disebut sebagai produk reject yang melekat pada era pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Selamat lantas berargumen bahwa pertimbangan Prabowo merekrut keduanya kembali lebih bersifat politis daripada sekedar teknis komunikasi.  

“Saya melihatnya begini, mereka (Hasan Nasbi dan Qodari) dianggap memahami peta opini publik. Hasan Nasbi dan Qodari itu berasal dari dunia survei dan opini publik. Dua-duanya main di situ. Nah, dalam politik modern, kemampuan membaca persepsi masyarakat sering dianggap sama pentingnya dengan kemampuan membuat kebijakan. Ini yang membuat keduanya masih dipakai oleh Prabowo,” jelasnya.

Selanjutnya, Selamat menyoroti langkah Bakom pemerintah yang baru-baru ini mengundang 40 new media.

“Nah ini memang menarik soal pertemuan badan komunikasi pemerintah dengan new media yang kemudian sekarang dikritik, ini pemerintah apa sedang membangun buzzer-buzzer baru karena ini dianggap homeless,” tegasnya.

“Jadi memang harus ada penjelasan detail, jangan sampai ada kesan pemerintah itu menghidupkan buzzer untuk melawan oposisi,” pungkas Selamat.  


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya