Berita

Pengamat politik Dr. Selamat Ginting. (Foto: YouTube Forum Keadilan TV)

Politik

Dr. Selamat Ginting:

Gaya Komunikasi Politik Pemerintah Kocar-kacir

JUMAT, 15 MEI 2026 | 02:37 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto sebagai simbol stabilitas nasional tidak sepenuhnya terkelola dengan baik.

Hal itu disampaikan pengamat politik Dr. Selamat Ginting dalam podcast Madilog dikutip pada kanal YouTube Forum Keadilan TV, Kamis malam, 14 Mei 2026.

“Muncul kritik di mana-mana terhadap gaya komunikasi Presiden Prabowo. Banyak kalangan akademisi atau ahli komunikasi, ahli politik melihat ada perubahan gaya komunikasi politik Prabowo yang tidak diimbangi atau tidak diikuti dengan sistem komunikasi pemerintahan yang rapi,” kata Selamat.


“Kocar-kacir itu. Akibatnya muncul beberapa persepsi terhadap pidato-pidato Prabowo itu. Ya, misalnya presidennya kuat, tapi juru bicara pemerintahnya lemah. Juru bicara negara lemah,” tambahnya. 

Lanjut dia, Prabowo sebagai figur politik dianggap punya kharismatik yang luar biasa. Namun, di sisi lain narasi pemerintah sering tidak relevan dengan apa yang diungkapkan oleh Prabowo.

“Jadi tidak sinkron gitu ya. Kadang-kadang menteri berbicara sendiri-sendiri, berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh presiden. Kadang-kadang klarifikasi pemerintah juga terlambat. Isu bergulir ketika tidak ada reaksi terlambat,” ungkapnya. 

Selamat menyebut banyak isu yang berkembang liar terlebih dahulu di media sosial baru kemudian dijawab. 

“Ini kan ketinggalan, seperti ketinggalan kereta gitu. Satu masih di stasiun, sementara Prabowo-nya sudah naik kereta sedang berjalan. Nah, dalam era digital tentu saja kekosongan narasi ini sangat berbahaya,” jelasnya.   

Wartawan senior ini juga menyoroti gaya komunikasi jubir pemerintah yang cenderung elitis.

“Tim komunikasi pemerintah sering dianggap lebih kuat berbicara kepada elite, kepada sesama menteri di kabinet. Dia kurang membumi dan menyentuh akar rumput,” tandasnya.  

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya