Berita

Diskusi interaktif bertajuk “NU di Persimpangan: Menjaga Peran Civil Society di Era Baru” di Hotel Lumire, Jakarta Pusat. (Foto: Istimewa)

Politik

Kiai Abdul Muhaimin Sentil PBNU Menyimpang dari Khittah dan AD/ART

SELASA, 12 MEI 2026 | 15:31 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Muhaimin melontarkan kritik tajam terhadap kondisi struktur PBNU saat ini dalam diskusi interaktif bertajuk “NU di Persimpangan: Menjaga Peran Civil Society di Era Baru” di Hotel Lumire, Jakarta Pusat, Selasa, 12 Mei 2026.

KH Abdul Muhaimin mengaku prihatin terhadap melemahnya peran advokasi NU di tengah berbagai persoalan rakyat. Ia menyinggung kasus Wadas hingga polemik proyek strategis nasional (PSN) di PIK 2 yang menurutnya justru dikawal oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Muhammadiyah.

“Saya sedih sebagai A’wan. Kasus Wadas itu dikawal LBH Muhammadiyah, yang mengawal kasus PSN di PIK 2 juga LBH Muhammadiyah. Kemana NU-nya?” ujarnya.


Menurutnya, NU saat ini kehilangan bargaining position dalam percaturan kebijakan politik dan ekonomi nasional, termasuk dalam memperjuangkan kepentingan pesantren yang dinilai masih terpinggirkan.

“NU hari ini tidak memiliki bargaining position dalam kebijakan politik-ekonomi, apalagi pesantren yang sampai sekarang masih terpinggirkan,” katanya.

Kiai Abdul Muhaimin juga mengkritik pola kepemimpinan di tubuh PBNU yang dinilainya semakin sentralistik. 

“Struktur PBNU sekarang saya lihat seperti one man show. Acara apa pun, yang datang ya itu-itu saja,” tegasnya.

Pengasuh Ponpes Nurul Ummahat Yogyakarta itu kemudian memaparkan tiga persoalan utama yang menurutnya sedang dihadapi PBNU saat ini. Pertama, PBNU dinilai telah menyimpang dari qonun asasi. Kedua, menyimpang dari khittah perjuangan organisasi. Ketiga, keluar dari semangat AD/ART organisasi.

“Ada tiga problem besar. PBNU hari ini saya kira sudah menyimpang dari qonun asasi, menyimpang dari khittah, dan keluar dari AD/ART,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menyebut kondisi tersebut sebagai situasi yang berbahaya bagi masa depan organisasi. “Kepemimpinan NU saat ini sama saja bunuh diri massal. Dinamika advokasi di jajaran NU mati. Kalaupun ada pergerakan, sifatnya lokalistik. Padahal resources NU itu lengkap,” katanya.

KH Abdul Muhaimin menilai persoalan yang dihadapi NU bukan semata soal politik organisasi, tetapi juga menyangkut persoalan teologis dan spiritual yang berdampak pada hilangnya daya tawar NU di tengah umat.

“Jadi ada persoalan teologis-spiritual di tubuh NU yang membuat organisasi ini tidak bisa didinamisasi menjadi bargaining position di tengah umat,” pungkasnya.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya