Berita

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, dalam “Pelatihan Digital Creator dan Program Magang Komunikasi Pembangunan 2026” yang diselenggarakan Nexus Digital Strategy di Suites Hotel Surabaya, Senin 11 Mei 2026.(Foto: RMOL)

Politik

Ideologi Pembangunan Prabowo Fokus Bangun Kemandirian di Tengah Pergolakan Dunia

SELASA, 12 MEI 2026 | 12:51 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Kebijakan yang diambil pemerintah saat ini bukanlah langkah sporadis, melainkan sebuah manifestasi dari ideologi pembangunan Presiden Prabowo Subianto yang berakar kuat pada kesadaran akan realisme politik global dan keinginan membangun kedaulatan ekonomi.

Hal itu disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, dalam “Pelatihan Digital Creator dan Program Magang Komunikasi Pembangunan 2026” yang diselenggarakan Nexus Digital Strategy di Suites Hotel Surabaya, Senin 11 Mei 2026.

Teguh menjelaskan bahwa “ideologi pembangunan” ini lahir sebagai jawaban konkret atas kegelisahan yang dituangkan Prabowo dalam bukunya “Paradoks Indonesia”. 


Untuk membedah struktur pemikiran tersebut, Teguh menggunakan tiga karya monumental sebagai pisau analisis, yakni “Politics among Nations” karya Hans J. Morgenthau, “The Tragedy of Great Power Politics” karya John J. Mearsheimer, dan “Breakout Nations” karya Ruchir Sharma.

Menurut Teguh yang juga mengajar Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, fondasi pertama pembangunan Indonesia saat ini berpijak pada kesadaran akan anarkisme dunia internasional. 

Mengutip Morgenthau, ia menyebut tidak ada otoritas tertinggi di dunia yang bisa memaksakan aturan kepada negara berkuasa. Hal ini memaksa Indonesia untuk memprioritaskan keamanan dan kepentingan nasional di atas segalanya melalui sistem self-help yang mandiri.

Sementara dalam perspektif realisme ofensif yang dikembangkan Mearsheimer, mantan Wakil Rektor Universitas Bung Karno (UBK) ini menggarisbawahi kenyataan bahwa sistem internasional memaksa negara untuk terus mengejar kekuasaan demi kelangsungan hidup. 

“Dunia cenderung bergerak dari tatanan liberal menuju anarki. Oleh karena itu, Prabowo melakukan pergeseran paradigma dari ekonomi liberal yang digerakkan pasar (market-driven) menjadi ekonomi yang berbasis intervensi negara atau state-driven,” tegasnya.

Lebih lanjut, Teguh memaparkan apa yang disebutnya sebagai doktrin dasar bahwa keamanan suara negara adalah situasi di mana pertahanannya lebih besar daripada ancaman yang dihadapi. 

Kesadaran akan hal ini, membuat Indonesia di era Prabowo terlibat aktif menjaga keamanan di kawasan dan arena internasional. Ini yang disebut sebagai inclusive security, yang kata kuncinya adalah partisipasi dan keterlibatan.

Indonesia di era Prabowo juga mengembangkan prinsip active neutrality, di mana netralitas dan ketidakberpihakan adalah pilihan yang diambil berdasarkan kalkulasi kepentingan nasional. Bukan karena tekanan pihak lain.

Warisan “Soemitronomics”

Sementara untuk bisa melesat menjadi negara dengan kekuatan dan reputasi yang diperhitungkan, menggunakan kacamata dalam “Breakout Nations”, Teguh menekankan empat syarat utama, yakni stabilitas politik, pemanfaatan demografi produktif, kebijakan ekonomi pragmatis, dan keberanian memutus ketergantungan pada komoditas mentah.

Menariknya, ideologi pembangunan Prabowo ini juga membawa nafas “Soemitronomics”, warisan pemikiran begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo yang merupakan ayah Prabowo. Teguh menyebut implementasi hilirisasi, Trilogi Pembangunan, hingga pembentukan daya dukung finansial melalui BPI Danantara  adalah langkah yang diambil untuk memperkuat struktur ekonomi nasional melalui industrialisasi yang masif.

Teguh juga menyinggung sisi sosialisme demokrasi dalam pemikiran Prabowo. Berbeda dengan Marxisme-Leninisme yang otoriter, konsep ini menekankan manajemen perekonomian nasional secara mandiri melalui koperasi yang dikembangkan dalam sistem demokrasi.

“Tujuannya adalah menghapus praktik kapitalisme yang merugikan dan mewujudkan masyarakat adil melalui cara-cara demokratis, di mana pekerja memiliki akses terhadap alat produksi,” jelasnya.

Strategi “opening up” atau membuka pintu juga diterapkan pemerintahan Prabowo dengan semangat pragmatisme “kucing hitam-putih” ala Deng Xiaoping di Tiongkok. Indonesia, katanya, terbuka terhadap modal dan teknologi asing, namun tetap fokus pada modernisasi empat sektor kunci, yakni pertanian, industri, pertahanan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam tataran praktis, Teguh menyoroti sejumlah program yang sedang dikerjakan pemerintah. Teguh menekankan bahwa modal manusia adalah aset terpenting.

“Tanpa rakyat yang sehat dan terdidik, bonus demografi hanya menjadi beban. Inilah mengapa program Sekolah Rakyat dan akses pendidikan gratis bagi keluarga miskin menjadi pilar yang tidak bisa ditawar,” tambah Teguh.

Teguh juga membela program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi produktivitas jangka panjang. Menurutnya, anak-anak yang bebas dari stunting hari ini adalah tenaga kerja cerdas dan sehat yang akan menggerakkan ekonomi Indonesia setidaknya dalam 20 tahun mendatang. Ini adalah langkah preventif untuk memastikan keberlanjutan bangsa.

Di sektor ekonomi kerakyatan, pembentukan Koperasi Merah Putih disebut sebagai mekanisme desentralisasi kekuasaan ekonomi. Teguh berpendapat bahwa koperasi yang dikelola dengan baik dapat mencegah akumulasi kekayaan pada segelintir elite atau oligarki yang selama ini sering membajak ruang pengelolaan sumber daya alam.

Di sisi lain, Teguh juga memberikan catatan kritis bahwa ujian serius pemerintah terletak pada penegakan hukum, termasuk penertiban pelanggaran lingkungan oleh kelompok oligarki.

Dia juga mengatakan, dalam berbagai referensi disebutkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan stagnasi ekonomi adalah keterlambatan lambat dalam melakukan transisi energi. 

Terkait isu kedaulatan energi, Teguh optimis Indonesia memiliki peluang besar melalui Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti panas bumi, tenaga surya, dan bioenergi dari CPO. Baginya, EBT bukan sekadar isu lingkungan, melainkan soal kedaulatan nasional agar Indonesia tidak lagi bergantung pada pasokan energi luar negeri yang fluktuatif.

Menutup seminarnya, Teguh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi luas dalam pembangunan. Ia menegaskan bahwa kemauan untuk melepaskan diri dari stagnasi ekonomi membutuhkan sinergi antara kebijakan negara yang kuat dan dukungan rakyat yang aktif. 

“Ideologi pembangunan ini adalah peta jalan menuju Indonesia yang kuat, mandiri, dan bermartabat di panggung global,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya