Berita

Representative Image (Foto: Reuters)

Dunia

Warga AS Tanggung Beban Lonjakan Biaya Energi Rp654 Triliun akibat Perang Iran

SELASA, 12 MEI 2026 | 11:44 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran bukan hanya membakar kawasan Timur Tengah, tetapi juga menguras kantong rakyat Amerika dalam skala mengejutkan. 

Studi terbaru menunjukkan warga AS telah menanggung lebih dari 37,4 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp654 triliun dalam biaya energi tambahan sejak konflik pecah pada 28 Februari, saat Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap Iran.

Data dari Iran War Energy Cost Tracker milik Brown University memperlihatkan beban ekonomi itu terus meningkat secara real-time setiap detik. 


Sebagian besar biaya tambahan berasal dari petroleum yang mencapai 20,41 miliar dolar AS, sementara diesel menyumbang hampir 17 miliar dolar AS, menandakan perang telah memicu gelombang mahal energi yang langsung menghantam kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika.

Dampak paling nyata dirasakan rumah tangga AS, yang kini rata-rata harus membayar tambahan 285,10 dolar AS per bulan untuk kebutuhan bensin dan diesel. 

“Ini adalah pengeluaran yang langsung berasal dari kantong konsumen Amerika,” kata pemimpin studi tersebut, Jeff Colgan, seperti dikutip dari TRT World, Selasa, 12 Mei 2026. 

Lonjakan beban itu kian memburuk setelah Iran mengambil langkah balasan dengan menutup Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu chokepoint energi terpenting dunia. 

Penutupan ini mengguncang pasar global, menekan pelabuhan regional, mengacaukan jadwal pengiriman, serta memperbesar tekanan pada rantai pasok internasional yang sebelumnya sudah rapuh akibat risiko keamanan.

Harga bensin di Amerika pun melonjak drastis. Jika saat perang dimulai harga masih berada di bawah 3 dolar AS per galon, kini rata-rata telah menembus 4,52 dolar AS per galon atau lebih dari 50 persen lebih tinggi.

Selain penutupan Hormuz, serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi milik sekutu Arab Teluk AS semakin memperparah krisis. 

Kombinasi gangguan distribusi dan ancaman keamanan ini mendorong harga energi global meroket, sementara rakyat Amerika dipaksa menanggung konsekuensi finansialnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Serap Aspirasi Warga Pandeglang, Arif Rahman Kawal Sektor Pertanian dan Perikanan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:14

Hormati Putusan MK, Komisi X DPR Minta Pendidikan dan MBG Tetap Jalan Beriringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak Maret

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:51

Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:41

Kesiapan Fasilitas Zikir Kebangsaan Monas: Dari Ambulans Hingga Ratusan Ribu Konsumsi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:34

K-SIGN Rote Ndao Dipacu Jadi Pilar Swasembada Garam Nasional

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:15

Harga Logam Mulia Terkoreksi Meski Mampu Akhiri Tren Penurunan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:02

Dul Mungkin Tak akan Naik Bus Malam Lagi Setelah Ketahuan Bawa Sabu

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:45

Arab Saudi Sambut Kesepakatan Pelucutan Senjata di Gaza, Israel Harus Mundur

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:34

Ramai Mal Pasang Pagar Tinggi di Tengah Situasi Kamtibmas Kondusif

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:23

Selengkapnya