Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Bisnis

Sawit Diyakini Mampu jadi Stabilisator Ekonomi Nasional

SELASA, 12 MEI 2026 | 04:56 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Sawit yang merupakan komoditas penghasil devisa negara dari pungutan ekspor mengalami sejumlah tantangan produktivitas. Sejalan dengan bertambahnya konsumsi minyak sawit dalam negeri dan penerapan program B50 pada bulan Juni, kebutuhan minyak sawit terus meningkat.

Kebutuhan minyak sawit nasional diproyeksi bisa mencapai 41 juta ton pada tahun 2045 seiring dengan bertambahnya konsumsi minyak sawit dalam negeri. Agar kebutuhan dalam negeri terpenuhi tanpa mengurangi volume ekspor, Indonesia dirasa harus berbenah memaksimalkan produktivitas kelapa sawit yang potensi sebenarnya bisa mencapai 5-6 ton Crude Palm Oil (CPO) per hektar per tahun.

Menjawab tantangan tersebut, Media Perkebunan didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyelenggarakan Teknis Kelapa Sawit (TKS), Pameran, dan Field Trip pada tanggal 28-30 April 2026 di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Tengah, Kalteng.


Prof. Dr. Bungaran Saragih dalam keynote speech-nya yang diwakili oleh Dr. Gusti A. Gultom memaparkan bagaimana sawit bukan hanya sebagai penyumbang devisa terbesar, tetapi juga stabilisator ekonomi nasional. 

Menurut dia, Tiga krisis besar yang pernah dialami Indonesia, yaitu krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008, serta krisis pandemi Covid-19 pada 2020-2021 membawa tekanan berat seperti pelemahan nilai tukar, meningkatnya pengangguran, serta lonjakan kemiskinan. 

“Namun, ada satu sektor yang secara konsisten hadir sebagai penyangga, bahkan penyelamat ekonomi nasional di masa krisis yaitu sektor kelapa sawit,” ucap Prof. Bungaran dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.

Lebih lanjut, ia menjelaskan beberapa faktor utama yang membuat sawit mampu menjadi stabilisator ekonomi nasional. Salah satunya adalah basis sektor sawit yang sangat luas dan melibatkan jutaan tenaga kerja. 

“Sektor sawit memiliki keterlibatan sosial-ekonomi yang sangat luas, dengan lebih dari 16 juta tenaga kerja. Dalam setiap krisis, ketika banyak sektor goyah, sawit tetap berdiri tegak,” pungkas Prof. Bungaran.

Dalam hal peningkatan produktivitas, peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat (PSR) sangat mendukung ketahanan pangan dan energi nasional dalam upaya menjamin ketersediaan minyak nabati pangan dan bahan bakar nabati. 

Senada, Dr. Gusti A. Gultom yang juga sebagai Dewan Pakar Media Perkebunan dalam paparannya menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan tanaman tua, produktivitas sawit setelah replanting mengalami peningkatan sebanyak lebih dari 3 ton CPO/ha/tahun).

"Kebutuhan CPO untuk pangan dan energi akan mengalami tren naik, implementasi B50 membutuhkan setidaknya 17-18 juta ton CPO dan kebutuhan untuk pangan pun akan terus naik sehingga harus dilakukan replanting segera," ujar Gusti.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya