Berita

Eks Menhan Latvia Andris Spruds (Foto: eng.lsm)

Dunia

Menhan Latvia Mundur Usai Gagal Cegah Drone Ukraina Hantam Tangki Minyak

SENIN, 11 MEI 2026 | 11:07 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Menteri Pertahanan Latvia Andris Spruds pada Senin, 11 Mei 2026 resmi mengundurkan diri menyusul kegagalan aparat pertahanan negara itu mencegah dua drone Ukraina menghantam fasilitas penyimpanan minyak.

Keputusan mundur Spruds terjadi hanya beberapa hari setelah insiden serangan drone yang terjadi Kamis lalu, 7 Mei 2026 yang memicu kekhawatiran serius di kawasan Baltik.

Perdana Menteri Latvia Evika Silina bergerak cepat dengan menuntut pengunduran diri sang menteri, seraya menilai respons pertahanan udara nasional berjalan terlalu lamban saat ancaman memasuki wilayah negaranya.


Silina menegaskan sistem anti-drone Latvia tidak diaktifkan secara memadai untuk menghadapi situasi darurat tersebut.

Sebagai pengganti Spruds, Silina langsung menunjuk Kolonel Angkatan Darat Latvia Raivis Melnis untuk memimpin kementerian pertahanan di tengah meningkatnya tekanan keamanan regional.

Serangan itu juga mendorong Latvia bersama Lithuania mendesak NATO agar segera memperkuat sistem pertahanan udara di kawasan Baltik. 

Kedua negara menilai meledaknya drone di fasilitas minyak Latvia menjadi alarm keras bahwa dampak perang Rusia-Ukraina kini dapat dengan mudah meluber ke wilayah anggota aliansi Atlantik Utara.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengakui drone tersebut memang milik Ukraina. Namun ia menegaskan penyimpangan jalur bukan disengaja, melainkan akibat campur tangan Rusia. 

"Drone itu masuk ke Latvia karena peperangan elektronik Rusia sengaja mengalihkan drone Ukraina dari targetnya di Rusia," ungkap Sybiha di X, seperti dikutip dari Reuters.

Pernyataan itu menempatkan Rusia dalam sorotan baru, dengan tuduhan bahwa alat perang Moskw telah mengubah arah serangan Ukraina hingga berujung pada kerusakan di negara NATO. 

Situasi tersebut semakin memperumit lanskap keamanan Eropa Timur yang sudah berada dalam tekanan tinggi.

Sebagai langkah lanjutan, Ukraina menyatakan tengah mempertimbangkan pengiriman para ahli untuk membantu memperkuat keamanan udara negara-negara Baltik, guna mencegah insiden serupa kembali terjadi.

Populer

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

UPDATE

PT DSI Fokus Genjot Ekspor 3 Komoditas Ini

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:53

Kasus Abu Janda jadi Ujian Polri, Akankah Pilih Kasih?

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:32

Nahdliyin DIY Soroti Konflik PBNU dan Arah Organisasi

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:10

Prabowo Dijadwalkan Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila Besok

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:01

Kedekatan Prabowo dengan Tiga Pemimpin Adidaya Untungkan Indonesia

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:43

Kamboja Bebaskan Denda Overstay 5.950 WNI Terjerat Kasus Online Scam

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24

Rekam Jejak Ryamizard Ryacudu: Dari Titisan Darah Militer hingga Kursi Eksekutif

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:05

Meski Disidangkan, Kasus LCC Empat Pilar Perlu Pertimbangkan Jalan Damai

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:44

Program Bioflok Presiden Prabowo di Karawang Sukses Panen Raya 1,2 Ton Ikan Nila

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:34

Warisan Bung Tomo: Lawan Pemimpin yang Tak Berpihak pada Rakyat Kecil!

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya