Berita

Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas'ud. (Foto: Istimewa)

Publika

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Enam Fraksi Setuju Hak Angket
RABU, 06 MEI 2026 | 06:09 WIB

HASIL sidang paripurna tadi malam, setuju hak angket. Posisi Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas'ud pun di ujung tanduk. 

Malam tadi rakyat Kaltim tidak lagi datang sebagai warga. Mereka datang seperti utusan takdir yang sudah muak dijadikan statistik kemiskinan dan penonton sinetron kekuasaan. 

Kawat duri dicabut seperti cabut rumput liar, pagar ditembus seperti janji kampanye. Lilin dinyalakan, bukan buat romantis, tapi buat nyari di mana sebenarnya hati nurani wakil rakyat disimpan. Kalau masih ada.


Boom! Enam fraksi langsung angkat tangan dukung hak angket. Demokrat-PPP, PKS, PAN-Nasdem, Gerindra, PDI Perjuangan, dan PKB. 

Enam! Ini bukan lagi bisik-bisik politik, ini sudah teriak pakai toa. Artinya apa? Artinya sebagian besar wakil rakyat akhirnya ingat, oh iya, kami ini digaji rakyat, bukan digaji suasana nyaman.

Sementara itu, Golkar masih memainkan jurus yoga politik. Tarik-ulur napas, meditasi data, dialog sana-sini. Bahasa halusnya, “jangan dulu dibuka, nanti anginnya masuk semua.”

Di tengah gemuruh itu, Rudy Mas’ud berdiri di ujung tanduk. Tapi ini bukan tanduk badak biasa, ini tanduk yang dilumuri oli politik, licin, goyang, dan di bawahnya jurang bernama “kemarahan publik.” 

Kemarin santai bilang siap buka data. Sekarang mungkin mulai mikir, “ini tutup botol kok rasanya dilem pakai lem beton.”

Lalu masuklah sang kakak, Hasanuddin Mas’ud, Ketua DPRD sekaligus sutradara episode penundaan. 

Ia tampil dengan narasi sakral. Hak angket ini belum ada sejarahnya di daerah. Seolah-olah kalau belum ada, berarti haram dicoba. 

Logika macam ini kalau dipakai terus, manusia mungkin sampai hari ini masih naik pohon, takut turun karena “belum ada sejarahnya.”

Fraksi lain langsung bantah. Tapi ya begitulah, di negeri ini, fakta sering kalah volume sama mikrofon.

Sekarang bola panas ada di Bamus. Nah, ini bagian paling absurd. Di tempat lain, bola panas dilempar untuk dicetak gol. 

Di sini? Bisa-bisa disimpan di freezer sampai dingin, beku, lalu lupa pernah ada pertandingan. 

Bamus ini kalau niat bisa jadi jalan tol perubahan. Tapi kalau lagi kumat, bisa berubah jadi parkiran masalah, masuk, diam, berdebu, hilang.

Rakyat Kaltim tidak bodoh. Mereka sudah hafal pola. Awal ribut, tengah rapat, akhir hilang. Awal panas, tengah adem, akhir basi.

Makanya malam itu mereka sorak, tapi bukan karena puas. Itu sorak model orang yang lagi lihat pintu penjara dibuka setengah, senang, tapi masih siap dobrak kalau tiba-tiba ditutup lagi.

Yang bikin ngakak sekaligus pengen nangis, ini cerita dua bersaudara. Satu bilang siap transparan, satu lagi sibuk menjelaskan betapa rumitnya transparansi itu. 

Yang satu seperti jualan air mineral, yang satu sibuk ceramah tentang susahnya bikin sumur. Rakyat? Haus tetap haus.

Padahal tuntutannya tidak aneh-aneh. Tidak minta istana, tidak minta karpet merah. Cuma minta, buka data, jelaskan kebijakan, dan hentikan kesan kekuasaan ini diwariskan seperti koleksi piring di lemari kaca.

Enam fraksi sudah nyalakan api. Tinggal lihat, Bamus ini mau masak perubahan atau malah sibuk meniup api sampai padam. Karena di negeri ini, kadang yang paling cepat itu bukan keadilan, tapi alasan untuk menunda.

Rakyat Kaltim sudah bangun. Kalau mereka sudah bangun, biasanya bukan cuma bangun tidur, tapi bangun melawan. 

Mereka bukan lagi penonton, mereka sudah jadi penulis skenario. Kalau ada aktor yang improvisasinya kebablasan, siap-siap saja disoraki, dilempar kritik, bahkan ditarik turun dari panggung.

Ini belum klimaks. Ini baru adegan pembuka, di mana musik mulai naik dan penonton mulai berdiri.

Pesannya sederhana, tapi pedasnya seperti sambal setan. Kalau berani hidup dari suara rakyat, ya siap juga mati karena suara rakyat.

Kaltim itu bukan warisan keluarga.
Ini bukan arisan darah.
Ini republik, bukan ruang tamu dinasti.

"Bamus menjadwalkan sidang lagi. Bila sidang setuju dibentuk Pansus,  Pansus pun bekerja. Endingnya paripurna apakah sepakat Rudy dimakzulkan atau tidak. Prosesnya panjang, Bang."

"Semua tahu itu, wak. Saya yakin rakyat Kaltim kawan satu daratan dengan Kalbar akan mengawalnya sampai titik darah terakhir."

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya