Berita

Duta Besar RI untuk Iran periode 2012-2016, Dian Wirengjurit. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Politik

Rusia dan China Punya Peluang Besar Redam Konflik Iran-AS

SELASA, 05 MEI 2026 | 14:58 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Peluang mediasi konflik Amerika Serikat dan Iran dinilai semakin sempit. 

Mengetahui kerasnya sikap Presiden AS Donald Trump, hanya Rusia dan China yang disebut masih memiliki kemungkinan untuk memengaruhi arah kebijakan Washington.

Penilaian itu disampaikan mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012-2016, Dian Wirengjurit. Menurutnya, berbagai upaya mediasi internasional saat ini sulit berhasil karena Trump dinilai tidak lagi membuka ruang bagi banyak pihak untuk memengaruhi keputusannya.


“Semua tidak akan mempan kecuali bisa membujuk Trump,” kata Dian kepada RMOL di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Ia menilai Rusia dan China memiliki probabilitas lebih besar untuk didengar karena keduanya merupakan kekuatan global yang mempunyai daya tekan strategis terhadap Amerika Serikat, baik secara ekonomi, geopolitik, maupun keamanan internasional.

Selain sama-sama anggota tetap Dewan Keamanan PBB, kedua negara juga memiliki posisi penting dalam berbagai konflik global sehingga sulit diabaikan oleh Washington.

“Proses perundingan sekarang mau tidak mau harus melibatkan mediator yang punya kemampuan menekan Trump. Yaitu China dan Rusia,” ujarnya.

Dian membandingkan kondisi saat ini dengan era Presiden Barack Obama, ketika mediasi internasional masih relatif efektif karena Amerika Serikat membuka ruang komunikasi dengan banyak negara besar, termasuk negara-negara Eropa.

Namun dalam kepemimpinan Trump, pola itu dinilai berubah. Pendekatan kebijakan luar negeri disebut lebih terpusat pada keputusan personal Presiden AS, sehingga mediator tradisional seperti Eropa dinilai tidak lagi memiliki pengaruh kuat.

Ia juga menilai perubahan sikap negara-negara anggota NATO seperti Prancis dan Inggris bisa membantu meredakan tensi, tetapi tetap tidak cukup kuat untuk menekan Trump secara langsung seperti Rusia dan China.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Pencalonan Kaesang di Solo Raya Sinyal Perang Terbuka PSI vs PDIP

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Araghchi Ancam Balas Serangan Ukraina ke Kapal Dagang Iran

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Istana Tegaskan Mundurnya Perry Warjiyo Murni Keputusan Pribadi

Senin, 27 Juli 2026 | 10:13

Kejaksaan Harus Jawab Klaim Kriminalisasi Febrie dengan Bukti

Senin, 27 Juli 2026 | 10:04

KPK Dalami Aliran Dana yang Diduga Disiapkan Bupati Kuansing untuk Raja Juli

Senin, 27 Juli 2026 | 09:57

Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Perlu SOP yang Ketat

Senin, 27 Juli 2026 | 09:51

IHSG Merah, Rupiah Ambruk ke Rp17.976 per Dolar AS Usai Gubernur BI Mundur

Senin, 27 Juli 2026 | 09:47

Kasatnarkoba Polres Tangsel Ditangkap Bareskrim

Senin, 27 Juli 2026 | 09:37

Pengamat: Sulit bagi Kaesang dan PSI Kuasai Solo Raya

Senin, 27 Juli 2026 | 09:34

Perjalanan Karier dan Rekam Jejak Perry Warjiyo di Kepemimpinan Bank Indonesia

Senin, 27 Juli 2026 | 09:25

Selengkapnya