Berita

Ilustrasi (Imagined by Babbe)

Bisnis

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

SABTU, 02 MEI 2026 | 10:41 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar mata uang global sedang berada dalam fase ketegangan tinggi setelah otoritas moneter Jepang diduga kuat melakukan intervensi masif untuk menyelamatkan Yen. 

Dolar AS kini berada di jalur kerugian mingguan tertajam terhadap mata uang Jepang tersebut sejak Februari 2026, dengan penurunan sekitar 1,7 persen dalam sepekan.

Dikutip dari Reuters, Sabtu 2 Mei 2026, indeks Dolar (DXY) sempat menunjukkan keperkasaan akibat dorongan harga minyak yang melambung, namun posisinya goyah saat berhadapan dengan langkah agresif Tokyo. 


Setelah menyentuh level terlemahnya sejak Juli 2024 di angka 160,7, Yen tiba-tiba menguat tajam hingga ke level 155,49 per Dolar pada penutupan perdagangan Jumat 1 Mei 2026. 

Data Bank of Japan mengindikasikan bahwa pemerintah kemungkinan telah menggelontorkan dana hingga 5,48 triliun Yen atau setara 35 miliar Dolar AS untuk melakukan aksi beli di pasar.

Diplomat mata uang Jepang, Atsushi Mimura, menegaskan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan spekulatif yang dianggap berlebihan. 

Para analis kini berspekulasi bahwa risiko intervensi susulan tetap tinggi, terutama saat bursa Jepang memasuki periode libur Golden Week. Secara historis, otoritas Jepang sering memanfaatkan momen pasar yang sepi saat libur untuk melakukan intervensi guna memberikan dampak kejutan yang lebih besar terhadap pasangan Dolar AS-Yen.

Meskipun intervensi memberikan napas buatan bagi Yen, fundamental pasar masih berpihak pada penguatan Dolar. Perbedaan suku bunga yang lebar antara Federal Reserve yang tetap hawkish dan Bank of Japan menjadi hambatan utama penguatan Yen yang berkelanjutan. 

Di sisi lain, Euro tetap stabil di level 1,1721 dan menuju kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Sementara itu, Poundsterling mengalami tekanan tipis ke level 1,1358, mengakhiri tren penguatan empat minggu sebelumnya. 

Pasar saat ini berada dalam posisi wait and see menanti apakah langkah intervensi Jepang akan diikuti oleh perubahan kebijakan moneter yang lebih nyata pada pertemuan musim panas mendatang.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya