Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Dolar AS Menguat di Tengah Rekor Perpecahan Internal The Fed

KAMIS, 30 APRIL 2026 | 08:00 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dolar AS di pasar mata uang New York bergerak perkasa terhadap mayoritas mata uang utama pada penutupan Rabu 29 April 2026 waktuj setempat. 

Penguatan greenback ini dipicu oleh keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga serta meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu aksi pemburuan aset aman (safe haven).

Internal The Fed sendiri menunjukkan perpecahan terdalam sejak 1992 dengan hasil voting 8-4. Meski Jerome Powell menegaskan tidak ada rencana kenaikan bunga dalam waktu dekat menjelang akhir masa jabatannya pada 15 Mei, pasar menangkap sinyal kekhawatiran inflasi yang kuat dari sejumlah pejabat. 


Indeks Dolar (DXY) pun melompat 0,35 persen ke level 98,938, sementara Euro dan Poundsterling masing-masing terkoreksi lebih dari 0,3 persen.

Direktur Monex USA, Juan Perez, menilai absennya konsensus di bank sentral global justru menjadi bahan bakar bagi kekuatan Dolar. Terlebih lagi, calon pengganti Powell, Kevin Warsh, diprediksi tidak akan gegabah melakukan pelonggaran kebijakan di tengah tekanan inflasi yang agresif.

Yen Jepang menjadi sorotan setelah terperosok melewati level 160 per Dolar AS, level terendah sejak awal 1990-an. Analis Goldman Sachs, Karen Fishman, menyebut pelemahan ini memicu kekhawatiran akan adanya intervensi mendadak dari pemerintah Jepang.

Harga minyak Brent melonjak ke 118,03 Dolar AS per barel, mencatat kenaikan delapan sesi berturut-turut. Lonjakan ini didorong oleh kekhawatiran blokade pelabuhan Iran yang memaksa Gedung Putih menyiapkan langkah mitigasi energi.

Axel Merk dari Merk Investments menjelaskan bahwa meroketnya harga minyak memicu kenaikan suku bunga riil AS. Hal ini membuat aset berdenominasi Dolar jauh lebih atraktif dibandingkan mata uang negara lain yang terpukul oleh tingginya biaya energi.

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan absennya arah pelonggaran moneter dari bank sentral utama dunia kini menempatkan Dolar AS dalam posisi dominan di pasar global.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya