Berita

Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

DPR Desak Polisi Bongkar Komplotan Penjual Pupuk Palsu

SABTU, 25 APRIL 2026 | 03:09 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pemerintah akan menindak tegas peredaran pupuk palsu yang merugikan petani. Hal ini menyusul pengusutan kasus pupuk tanpa kandungan unsur hara penting seperti nitrogen, kalium, dan fosfat yang diibaratkan hanya menjual tanah biasa. 

Dalam kasus ini, para pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara kerugian petani ditaksir mencapai Rp3,3 triliun.

Terkait hal itu, Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mendukung Polri-Kementan mengusut tuntas kasus ini. Ia menilai kejadian ini merugikan petani, negara, dan juga masyarakat.


“Saya miris sekali ketika membaca data tentang banyaknya pupuk palsu beredar dari Satgas Pangan Polri dan Kementan. Kerugiannya juga tidak main-main, mencapai Rp3,3 Triliun,” kata Sahroni dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat malam, 24 April 2026. 

“Ini benar-benar kejahatan serius karena tidak hanya merugikan petani, tapi juga berbahaya bagi pangan kita. Karenanya, saya minta polisi agar menindak tegas para tersangka yang jumlahnya mencapai 70 orangan itu,” tambahnya.

Legislator Nasdem itu meminta pihak kepolisian harus menelusuri dalang dari praktik licik tersebut. Ia melihat besarnya jumlah kerugian dan masifnya pelaku merupakan indikasi bahwa kejahatan ini terorganisir.

“Lebih jauh, dilihat dari jumlahnya sudah pasti ini komplotan. Jadi polisi juga wajib telusuri siapa bos-bos besar di atasnya dan wajib diproses hukum juga. Selain itu tentunya Polri dan Kementan juga perlu terus mempertahankan kerja-kerja kolaboratifnya untuk menghentikan dan mencegah penyebaran pupuk palsu ini agar tidak makin membahayakan petani,” jelasnya.

“Kolaborasi Polri dan Kementan ini sangat krusial agar tidak ada lagi petani yang jadi korban permainan kotor seperti ini,” tandas Sahroni.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya