Berita

Representative Image (Foto: World Oil)

Global

UEA Ancam Jual Minyak Pakai Yuan Jika Dolar AS Terganggu Imbas Perang

JUMAT, 24 APRIL 2026 | 10:02 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan memberi sinyal keras kepada Amerika Serikat dengan membuka kemungkinan menjual sebagian minyaknya menggunakan yuan China jika perang dengan Iran memicu gangguan serius terhadap pasokan dolar AS di kawasan Teluk. 

Jika diterapkan, kebijakan tersebut dinilai bisa mengguncang sistem petrodolar yang selama ini menjadi fondasi perdagangan energi global.

Gangguan arus energi yang terjadi akibat perang Iran disebut turut memunculkan risiko terhadap likuiditas dolar di negara-negara Teluk.


“Jika pasokan dolar menipis secara signifikan, mereka mungkin tidak punya pilihan lain selain menggunakan mata uang lain, termasuk yuan, untuk beberapa transaksi minyak,” demikian pernyataan sumber pejabat UEA, seperti dikutip dari Middle East Monitor, Jumat, 24 April 2026.

UEA disebut menyampaikan peringatan itu di tengah pembahasan mengenai kemungkinan jalur swap mata uang dengan Washington. 

Reuters sebelumnya melaporkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut sekutu-sekutu AS di Teluk dan Asia meminta fasilitas swap line sebagai mekanisme darurat untuk memperoleh akses cepat terhadap dolar saat pasar tertekan. 

Selama ini negara-negara Teluk lazim menjual minyak dalam denominasi dolar AS. 

Karena itu, jika produsen besar seperti UEA mulai memakai yuan, meski hanya untuk sebagian transaksi, langkah itu akan dipandang sebagai perkembangan besar dalam pasar energi internasional sekaligus memicu kembali perdebatan soal de-dolarisasi.

Meski belum ada tanda UEA akan meninggalkan dolar sepenuhnya, analis menilai ancaman itu merupakan bagian dari upaya menekan Washington agar memberi dukungan finansial di tengah krisis. 

Di saat bersamaan, langkah itu juga berpotensi menguntungkan China yang selama bertahun-tahun berupaya memperluas penggunaan yuan dalam perdagangan global.

Jika skenario tersebut terealisasi, walau terbatas, dampaknya diperkirakan akan melampaui isu transaksi energi semata. 

Perubahan itu bisa menjadi tantangan simbolik terhadap dominasi dolar dalam perdagangan minyak dunia yang selama ini menjadi salah satu pilar kekuatan ekonomi AS.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya