Berita

Seminar bertajuk Dana Asing Masuk, Wewenang Aparat Seberapa Kuat, Sih? di UIN Sunan Ampel Surabaya, Rabu, 22 April 2026. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

Dana Asing Mengancam Independensi Riset dan Media

RABU, 22 APRIL 2026 | 21:37 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Aliran pendanaan asing ke sektor penelitian, jurnalistik, dan media dinilai menyimpan potensi risiko serius terhadap independensi narasi di ruang publik.

Demikian antara lain disampaikan Pendiri HOS Tjokroaminoto Scholarship Club, Erfanda Andi Mada Arectya dalam seminar bertajuk Dana Asing Masuk, Wewenang Aparat Seberapa Kuat, Sih? di UIN Sunan Ampel Surabaya, Rabu, 22 April 2026.

Erfanda mengingatkan, suntikan dana dari pihak luar dapat memengaruhi proses agenda setting hingga menciptakan bias dalam penyajian informasi.


“Publik seringkali tidak melihat realitas apa adanya, tetapi realitas yang sudah diframing. Ketika ada kepentingan di balik pendanaan, maka risiko bias naratif menjadi nyata,” ujar Erfanda.

Ketergantungan pada satu sumber dana asing berpotensi membuat hasil riset maupun produk jurnalistik secara tidak sadar selaras dengan kepentingan donatur. Fenomena ini disebutnya sebagai “produksi otoritas semu”.

Dalam kondisi tersebut, laporan riset atau karya jurnalistik tampak objektif dan ilmiah, namun sejatinya telah dipengaruhi kepentingan tertentu.

Lebih jauh, narasi yang telah terdistorsi itu dapat diperkuat melalui media sosial, influencer, hingga jejaring media, sehingga berpotensi memicu polarisasi dan disinformasi di ruang digital.

“Jika tidak dikelola dengan baik, ini bisa menggerus kepercayaan publik terhadap institusi negara dan proses demokrasi,” tegasnya.

Untuk memitigasi risiko tersebut, Erfanda menekankan pentingnya transparansi sumber pendanaan, penguatan kode etik penelitian dan jurnalisme, serta diversifikasi sumber dana.

Selain itu, peningkatan literasi media dan pengawasan independen juga dinilai krusial guna menjaga integritas ekosistem informasi.

“Pendanaan tidak selalu buruk. Namun tanpa transparansi dan akuntabilitas, ia bisa menjadi alat pembentuk narasi yang bias dan berpotensi memicu ketidakstabilan,” jelasnya.

Dari sisi penegakan hukum, ia mendorong adanya pedoman investigasi yang jelas terkait aliran dana asing. Hal ini penting untuk memastikan standardisasi pembuktian dalam perkara kompleks, sekaligus mencegah politisasi isu.

Erfanda juga mengusulkan konsep transparansi terukur melalui publikasi hasil audit secara bertahap, guna menjaga akuntabilitas tanpa mengganggu proses hukum yang berjalan.

Tanpa pengaturan yang jelas, penegakan hukum justru berisiko melahirkan inkonsistensi, kriminalisasi, hingga pembatasan kebebasan sipil.

“Karena itu, proses penanganannya harus berbasis indikator objektif, seperti dugaan pelanggaran hukum atau ketidaktransparanan, bukan sekadar asumsi,” pungkas Erfanda.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya