Berita

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). (Foto: Istimewa)

Hukum

Kasus Suap Impor, IAW: Jaringan Lama Kuasai Lini Bawah

SELASA, 21 APRIL 2026 | 05:23 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Kasus dugaan suap impor di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak bisa dibaca secara dangkal hanya dari siapa pelakunya.

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus menilai  publik selama ini terlalu fokus mencari nama besar untuk disalahkan, padahal akar masalahnya ada pada sistem.

“Dalam kasus besar, nama hanyalah permukaan. Di bawahnya ada sistem yang membiarkan praktik itu tumbuh subur,” kata Iskandar dalam keterangannya, dikutip Selasa 21 April 2026.


IAW melihat adanya indikasi runtuhnya kendali sistem dari dalam, terutama pada lini operasional yang justru menjadi titik paling rawan penyimpangan.

Alih-alih pimpinan mengendalikan staf, IAW menduga terjadi fenomena inverted power structure atau struktur kekuasaan terbalik, di mana jaringan di bawah justru mengendalikan arah kebijakan.

Menurutnya, dugaan itu berangkat dari rangkaian peristiwa di lapangan, salah satunya pertemuan antara Direktur Jenderal Bea Cukai yang baru dilantik pada 23 Mei 2025 dengan para pengusaha forwarder di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Pertemuan tersebut difasilitasi oleh seorang pejabat eselon II bernama Rizal Fadillah, yang sebelumnya menjabat Direktur Penindakan dan Penyidikan.

Namun kejanggalan muncul setelah pertemuan itu berakhir. Para pengusaha disebut tidak langsung pulang, melainkan mendapatkan briefing lanjutan dari Orlando Hamonangan, yang merupakan anak buah Rizal di bidang intelijen.

Dalam briefing itu, para pengusaha diinformasikan bahwa “iuran bulanan” dinaikkan. Dana tersebut disebut akan dialokasikan untuk Direktur Jenderal, bagian penindakan, dan intelijen.

Situasi ini membuat para pengusaha tidak memiliki pilihan. Sejak pertengahan 2025, sekitar 80 hingga 90 persen kargo mereka disebut masuk Jalur Merah --kategori pemeriksaan paling ketat yang berdampak pada keterlambatan dan pembengkakan biaya.

IAW mempertanyakan apakah Direktur Jenderal mengetahui namanya digunakan sebagai tameng, atau justru menjadi korban dari sistem yang telah lebih dulu dikendalikan jaringan bawah.

“Ini yang berbahaya. Ketika otoritas formal dipakai tanpa keputusan resmi, maka muncul apa yang kami sebut sebagai ‘otoritas bayangan’,” kata Iskandar.

Menurut Iskandar, skema seperti ini hanya mungkin terjadi jika pengawasan internal sudah tidak berjalan atau bahkan mati total.

Lebih jauh, IAW menilai tidak logis jika Direktur Jenderal yang baru menjabat dua hingga tiga bulan mampu membangun jaringan pemerasan berskala nasional.

Sebaliknya, yang lebih masuk akal adalah jaringan tersebut sudah terbentuk sebelumnya dan memanfaatkan momentum pergantian pimpinan untuk memperkuat posisi.

Dengan demikian, kata Iskandar, fokus penyidikan seharusnya tidak berhenti pada individu di pucuk pimpinan, melainkan menelusuri jaringan operasional yang telah lama mengakar.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya