Berita

Ilustrasi. (Foto: Suryawiranto.id)

Politik

Indonesia Harus Belajar Filsafat dan Strategi dari Perang Laut Iran 2026

MINGGU, 19 APRIL 2026 | 02:55 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Peperangan laut Iran 2026 bukan hanya sekadar benturan kinetik, melainkan manifestasi dari filsafat perang terdalam. 

Menurut Dewan Pakar Kesatuan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Salim, peperangan itu mengacu pada pandangan Sun Tzu dalam The Art of War. 

“Iran mempraktikkan seni menaklukkan musuh tanpa bertempur secara langsung" melalui disrupsi kognitif dan ekonomi. Di sini, laut dipandang bukan sebagai medan pertempuran statis, melainkan sebagai ruang aliran yang dinamis,” kata Salim dalam pesan elektronik kepada RMOL di Jakarta, Sabtu malam, 18 April 2026. 


Lanjut dia, teori "Sea Denial" (penolakan laut) yang dianut Iran adalah bentuk modern dari filsafat Small Navies yang berfokus pada pencegahan dominasi lawan, membuktikan bahwa asimetri adalah jawaban atas hegemoni global.

“Strategi ini didukung oleh teori "Antisipasi Strategis" yang dikembangkan oleh filsuf militer modern, yang menekankan bahwa kemenangan dimulai dari dalam pikiran. Iran menggabungkan Teori Attrisi (pengausan) dengan filsafat perlawanan Ashura, sebuah keyakinan bahwa pengorbanan dan keteguhan moral mampu meruntuhkan kekuatan material yang jauh lebih besar,” jelasnya. 

Kandidat doktor di Universitas Airlangga itu menyebut secara teoretis, strategi Iran selaras dengan Doktrin Gerasimov tentang perang hibrida, di mana serangan siber, tekanan ekonomi, dan operasi psikologis memiliki bobot yang sama dengan peluncuran rudal. 

“Mereka (Iran) juga memahami filsafat "The Center of Gravity" dari Clausewitz bukan lagi pada pusat komando militer musuh, melainkan pada opini publik dan kestabilan pasar global,” ungkap Salim.

Bagi Indonesia, sambungnya, peperangan itu mengajarkan filsafat "Catur Laksamana", kemampuan untuk melihat ke empat penjuru mata angin dengan kecerdasan strategis. 

“Teori "Green Water Navy" yang dikombinasikan dengan pertahanan pantai berlapis menunjukkan bahwa kedaulatan maritim tidak selalu menuntut kapal induk besar, melainkan integrasi yang cerdas antara teknologi dan geografis. Kita diingatkan oleh filsafat "Tirta Amarta", bahwa air adalah sumber kehidupan sekaligus senjata mematikan bagi mereka yang tahu cara menghormatinya,” beber Salim. 

“Inspirasi ini memanggil rakyat Indonesia untuk tidak hanya bangga pada luas wilayah, tetapi memiliki kedalaman strategi; bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengubah setiap tantangan di laut menjadi tangga menuju kejayaan global,” tambahnya.

Masih kata Salim, dalam kancah Perang Laut Iran 2026, dunia menyaksikan lahirnya sebuah doktrin pertahanan yang mengguncang pakem militer konvensional. Teheran mengusung filosofi radikal: "Jika kami tidak bisa menang dengan cepat, maka lawan tidak boleh menang sama sekali". 

“Semboyan ini bukan sekadar retorika, melainkan nyawa dari strategi Attrition War (perang pengausan) yang dirancang untuk menjebak kekuatan besar dalam rawa-rawa konflik yang tanpa akhir, mahal, dan melelahkan secara mental. Bagi Indonesia, sebagai negara kepulauan yang berdiri di persimpangan kepentingan global, filosofi ini memberikan pelajaran bahwa ketahanan nasional tidak diukur dari seberapa cepat kita menghancurkan musuh, melainkan dari seberapa mustahil kita untuk ditaklukkan,” bebernya lagi. 

“Kita harus mampu menciptakan kondisi di mana setiap jengkal perairan Nusantara menjadi labirin yang mematikan bagi siapapun yang mencoba mengganggu kedaulatan kita,” tandas Salim.


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Prabowo Perkuat Iklim Investasi Lewat IIFC

Minggu, 02 Agustus 2026 | 06:16

Jaksa Terbebani Pembuktian Ijazah Jokowi Asli

Minggu, 02 Agustus 2026 | 06:07

Kelahiran, Kejayaan, dan Runtuhnya Kekaisaran Romawi

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:40

Puluhan Ribu Warga Maroko Kabur ke Spanyol dengan Berenang

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:23

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Memetakan Lagu Tilawah Al-Qur’an

Minggu, 02 Agustus 2026 | 04:31

Jokowi ke kader PSI NTT: Kalau Butuh Bantuan Boleh ke Solo

Minggu, 02 Agustus 2026 | 04:21

Relawan Slamet Ariyadi Kawal PAN Menuju Tiga Besar 2029

Minggu, 02 Agustus 2026 | 04:06

Pembentukan IIFC Bisa Dongkrak Posisi RI di Panggung Ekonomi Global

Minggu, 02 Agustus 2026 | 03:40

Kompetensi Guru Naik 700 Persen

Minggu, 02 Agustus 2026 | 03:20

Selengkapnya