Berita

Ilustrasi di Kabupaten Bekasi. (Foto: Antara)

Nusantara

Waspada! Cuaca di Bekasi Tak Menentu

Warga Diminta Tingkatkan Kesiapsiagaan
RABU, 15 APRIL 2026 | 16:21 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Masa peralihan musim di Kabupaten Bekasi berpotensi membawa ancaman ganda bagi masyarakat, mulai dari cuaca ekstrem hingga risiko kekeringan yang mulai meningkat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mengingatkan, meskipun wilayah ini diprediksi memasuki musim kemarau dalam waktu dekat, kondisi cuaca saat ini masih belum stabil. 

Hujan masih kerap terjadi di sejumlah wilayah, sehingga potensi bencana hidrometeorologi tetap tinggi.


Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi mengatakan bahwa situasi ini menjadi tantangan karena masyarakat harus bersiap menghadapi dua risiko sekaligus.

"Di satu sisi masih ada potensi hujan dan cuaca ekstrem, di sisi lain kita juga harus mulai mengantisipasi kekeringan," kata Dodi dikutip dari RMOLJabar, Rabu 15 April 2026.

Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026. 

Namun, periode peralihan saat ini justru menjadi fase paling krusial karena perubahan cuaca yang tidak menentu.

Saat ini, Kabupaten Bekasi masih berstatus siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga 30 April 2026. Status tersebut mencakup potensi banjir, cuaca ekstrem, hingga tanah longsor.

"Masyarakat diminta untuk mulai mengatur penggunaan air secara bijak untuk mengantisipasi kemungkinan krisis air bersih saat kemarau," kata Dodi.

Selain itu, potensi kebakaran juga perlu diwaspadai, terutama akibat aktivitas pembakaran lahan atau sampah yang tidak terkendali.

Di sektor pertanian, petani diimbau lebih adaptif dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah, termasuk menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan.

"Di sini, peran masyarakat dalam menjaga lingkungan sangat penting, seperti mempertahankan vegetasi dan tidak merusak kawasan resapan air," kata Dodi.

Dari sisi kesehatan, kata Dodi, perubahan musim juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit, terutama akibat debu dan kualitas udara yang menurun saat kemarau mulai berlangsung.

"Kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam menghadapi masa peralihan musim ini," pungkas Dodi.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

MTI: Saatnya Pilih Pemimpin karena Kualitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:29

Korupsi Kredit Perbankan Rp629,8 Miliar Proyek Apartemen Bekasi Diusut

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:18

Ketika Hukum Konstitusi Berhadapan dengan Realitas Pertahanan Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:01

Kesaktian Nusron Terbukti Lagi, KPK Dibuat Tak Bergigi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:48

Masjid Apung An-Nur di Ancol jadi Landmark Baru di Pesisir Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:20

Prabowo Pimpin Rapat Kabinet di Istana Bogor

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:07

KPK Jangan Gertak Sambal: Segera Jemput Paksa Nusron!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:35

Melampaui Efisiensi, Menemukan Peluang Baru

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:20

5 Jurnalis Hilang di Krakatau Dianugerahi Penghargaan Kemanusiaan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:02

Investor Jangan Gampang Panik soal Ancaman MSCI

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya