Berita

Representative Image (Foto: AIMPSCAP)

Publika

Perundingan Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

SENIN, 13 APRIL 2026 | 12:46 WIB

SESUAI prediksi, perundingan damai Iran vs Amerika bakal gagal. Benar adanya. Kedua belah pihak tak mau berdamai. AS ingin Iran tutup total nuklir. Iran jelas tak mau, itulah senjata andalan. Akankah perang kembali meletus? 

Dua raksasa, Iran dan Amerika Serikat, janjian “berdamai” di Islamabad. Hasilnya malah mirip pasangan yang ribut di warung makan. Satu ngotot benar. Satu lagi angkat kursi duluan sambil bilang, “udah, kau aja yang benar!”

Perundingan ini bukan kaleng-kaleng. Ini pertemuan langsung tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam Iran 1979. Ini momen sakral yang seharusnya bisa jadi titik balik sejarah. Tapi apa daya, 21 jam diskusi dari Sabtu malam sampai Minggu dini hari, 12 April, cuma menghasilkan satu hal, kelelahan kolektif dan nihil kesepakatan. Nol. Kosong. Hampa, wak.


Dari kubu AS, JD Vance tampil dengan muka datar khas pejabat yang baru kehilangan charger. Ditemani Steve Witkoff dan Jared Kushner, dia bilang Iran “memilih untuk tidak menerima syarat kami.” Intinya? Program nuklir Iran mau dihentikan total. Respons Iran? Ya tentu saja, “mimpi kali ye.”

Vance pun menutup bab ini dengan gaya dramatis minimalis, “ini tawaran terbaik dan terakhir.” Setelah itu? Cus. Naik Air Force Two, terbang sekitar pukul 07.00 pagi waktu setempat, meninggalkan Pakistan dengan aroma kegagalan yang lebih pekat dari asap knalpot di jam pulang kantor.

Sementara itu, delegasi Iran? Masih stay di Islamabad, santai tapi penuh kode. Kementerian Luar Negeri mereka bilang pembicaraan “intensif,” tapi AS dinilai mengajukan “tuntutan berlebihan dan tidak sah.” Klasik. Satu bilang fleksibel, satu bilang kelewatan. Ini bukan diplomasi, ini tarik tambang ego internasional.

Sebagai tuan rumah, Pakistan cuma bisa geleng-geleng sambil berharap gencatan senjata dua minggu jangan ambyar dulu. Masalahnya, ceasefire itu cuma berlaku sampai 22 April. Hitungannya tinggal hari, bukan bulan. Dan semua orang tahu, di kawasan panas, “sementara” itu sering berarti “sebentar lagi meledak lagi.”

Yang bikin deg-degan, tentu saja Selat Hormuz, jalur yang mengontrol sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Satu kapal lecet saja, harga minyak bisa loncat seperti kucing kaget. Belum lagi Lebanon yang masih panas, siap jadi panggung tambahan kalau konflik melebar.

Para pengamat pun mulai angkat alis. Trita Parsi dari Quincy Institute bilang ini bukan kiamat, tapi “status quo baru yang tidak resmi.” Bahasa halusnya, kita semua akan hidup dalam ketegangan yang rapuh, seperti kaca mobil yang sudah retak tapi masih dipakai ngebut.

Lalu Farwa Aamer dari Asia Society menyebut ini bisa jadi “make or break” ekonomi global. Sedangkan Zahid Husain masih optimis ada putaran baru. Optimisme yang terdengar seperti orang bilang, “tenang, ini cuma petasan,” padahal di belakangnya gudang kembang api.

Di lapangan, realitanya lebih sinis. AS merasa baru saja menunjukkan superioritas militer. Iran merasa berhasil bertahan. Dua-duanya merasa menang. Dunia? Ya kita semua cuma penonton yang siap kena getahnya, dari harga minyak naik sampai potensi konflik melebar tanpa aba-aba.

Delegasi AS sudah pulang. Iran masih di hotel mewah, entah lagi ngopi, rapat internal, atau kirim sinyal ke Teheran, “bola di tangan mereka.” Sementara itu, kapal-kapal perang mungkin sudah mulai parkir cantik di Teluk, nunggu instruksi berikutnya.

Jadi, besok bagaimana? Bisa saja damai lanjut. Bisa juga tiba-tiba panas lagi. Bisa ada jalur belakang diam-diam. Bisa juga langsung sanksi tambahan plus unjuk gigi militer.

Yang pasti, dunia sekarang seperti main Russian roulette, lima peluru, satu harapan. Kita semua duduk di meja yang sama, cuma beda posisi. Silakan senyum dulu, tapi jangan jauh dari remote TV. Karena di dunia absurd ini, “damai” ternyata cuma jeda iklan sebelum bab berikutnya yang lebih gila.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Dilema Kelas Menengah dan Bawah di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:31

Lewat Surat Terbuka, Forum Guru Besar Indonesia Desak Gibran Mundur dari Wapres!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:20

Prabowo Berbelasungkawa atas Wafatnya Jenderal TNI Purn Subagyo

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:17

Harga Emas Antam Ambruk, Termurah Dijual Rp1,33 Juta

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:13

Sempat Dirumorkan Meninggal, Kim Jong-un Muncul di Pameran Mode Korut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:03

Muslim Arbi Apresiasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Swasembada Beras Jadi Prestasi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:59

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Rupiah Bergerak ke Rp18.023 per Dolar AS

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49

Komisi II DPR Desak HGU Perusahaan Pembakar Hutan Dicabut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44

BEI Pastikan Saham HSC Tetap Diperdagangkan, Hanya Dicoret dari Hitungan IHSG

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:40

IHSG Dibuka Merah, Dua Menit Perdagangan Langsung Lompat 1,8 Persen

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:22

Selengkapnya