Berita

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa (Foto: Dokumen Pribadi)

Dunia

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

MINGGU, 12 APRIL 2026 | 13:34 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kegagalan pembicaraan damai antara AS dan Iran di Pakistan adalah buah dan inkonsistensi negara-negara Barat dalam mengimplementasikan Non-Proliferation Treaty (NPT). 

Alih-alih melakukan pelucutan senjata nuklir sejak NPT ditandatangani 1968, negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat terus memperkaya uranium untuk senjata nuklir dan menyebarkan teknologi itu kepada negara-negara sekutunya. Bahkan Israel yang tidak menandatangani NPT bebas memiliki hulu ledak nuklir dan menjadi bully di kawasan.

"Dengan situasi ini, saya kira wajar kalau negara-negara yang merasa rentan terhadap serangan AS dan sekutu merasa harus mengembangkan persenjataan serupa sebagai faktor detterence atau pencegah," ujar Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, kepada media, Minggu, 12 April 2026.


"Kalau negara-negara Barat boleh menterjemahkan doktrin si vis pacem para bellum dengan meningkatkan kapasitas militer termasuk senjata pemusnah massal, maka negara-negara lain yang tidak mau jadi korban dari agresifitas negara-negara superpower akan mendorong diri mereka untuk memiliki kapasitas serupa," urai dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu.

Program Nuklir Iran


Teguh melanjutkan, selama ini, sebagai negara yang menandatangani dan meratifikasi NPT Iran mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai, yang merupakan satu dari tiga pilar NPT.

"Kapasitas nuklir Iran selama ini digunakan untuk energi dan medis, yang dijamin oleh NPT. Namun, setelah serangan terbuka terhadap Iran tahun lalu dan tahun ini, wajar bila berkembang wacana lain tentang arti penting memiliki senjata nuklir untuk mencegah agresi negara lain," masih kata Teguh.

Dia menggarisbawahi bahwa alm. Ali Khamenei sebelumnya mengeluarkan fatwa yang mengharamkan senjata nuklir karena dinilai berlawanan dengan prinsip perang dalam Islam. 

"Dalam ajaran Islam, perang dilakukan sebagai respons atas serangan pihak lain dan bersifat diskriminatif. Artinya, hanya unsur kombatan yang dapat dijadikan sasaran serangan balasan. Sementara senjata nuklir bersifat non diskriminatif yang berarti menghancurkan apapun dan siapapun," kata dia lagi.

Teguh menambahkan, saat ini yang dibutuhkan adalah konsistensi AS dan sekutu dalam implementasi NPT. Tanpa itu, negara-negara lain juga akan berlomba-lomba untuk ikut mengembangkan nuklir untuk senjata pemusnah massal.

Saat ini ada sembilan negara yang memiliki senjata nuklir. Dua negara yang memiliki hulu ledak nuklir terbanyak adalah Rusia dan AS. Masing-masing memiliki 5.459 dan 5.227 hulu ledak nuklir. Kemudian China (600), Prancis (290), Inggris (225), India (180), Pakistan (170), Israel (90), dan Korea Utara (50).

"Selagi hipokrasi dan inkonsistensi terhadap implementasi NPT diteruskan, maka dunia akan menjadi arena perlombaan senjata nuklir," demikian Teguh.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya