Berita

Pitra Romadoni Nasution. (Foto: Istimewa)

Publika

Paradoks Penegakan Hukum

MINGGU, 12 APRIL 2026 | 04:12 WIB

INDONESIA secara konstitusional menegaskan dirinya sebagai negara hukum. Hal ini tercermin tegas dalam yang menyatakan bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum.”

Namun dalam praktiknya, realitas penegakan hukum sering kali menunjukkan wajah yang kontradiktif. 

Di satu sisi, hukum digadang-gadang sebagai panglima tertinggi, tetapi di sisi lain, hukum kerap tunduk pada kepentingan, kekuasaan, dan tekanan sosial-politik. 


Inilah yang melahirkan sebuah paradoks besar dalam sistem hukum Indonesia sebuah ironi antara norma dan kenyataan.

Paradoks Penegakan Hukum: Antara Idealitas dan Realitas

Paradoks penegakan hukum di Indonesia tampak dari ketimpangan perlakuan hukum. Prinsip equality before the law seolah hanya menjadi jargon normatif. 

Pasalnya, dalam praktiknya hukum bisa tajam ke bawah, namun tumpul ke atas.

Belum lagi proses hukum cepat bagi yang lemah, namun lambat bagi yang kuat.

Selain itu, kepastian hukum sering dikorbankan demi kepentingan tertentu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa hukum belum sepenuhnya berdiri sebagai sistem yang independen dan berkeadilan. Bahkan, dalam banyak kasus, hukum justru menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Padahal secara teori, hukum memiliki tiga tujuan utama: keadilan, kepastian, dan kemanfaatan. 

Namun dalam praktiknya, ketiganya sering kali tidak berjalan beriringan. Ketika kepastian ditegakkan, keadilan bisa terabaikan. Ketika kemanfaatan diutamakan, kepastian hukum menjadi kabur.

Fatamorgana Keadilan: Ilusi yang Menyesatkan

Keadilan dalam sistem hukum Indonesia kerap kali hanya menjadi “fatamorgana” terlihat ada, namun sulit dirasakan. Banyak masyarakat yang mencari keadilan justru menghadapi:

- Proses hukum yang panjang dan melelahkan

- Biaya tinggi yang tidak rasional

- Putusan yang tidak mencerminkan rasa keadilan

Dalam kondisi seperti ini, keadilan tidak lagi menjadi tujuan akhir, melainkan sekadar formalitas prosedural. 

Putusan pengadilan yang seharusnya menjadi puncak keadilan, terkadang justru memunculkan ketidakpercayaan publik.

Lebih jauh, fenomena ini diperparah oleh adanya praktik-praktik menyimpang seperti mafia peradilan, intervensi kekuasaan, serta konflik kepentingan yang merusak integritas penegakan hukum.

Akar Permasalahan: Sistem atau Mentalitas?

Pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah: apakah masalah ini terletak pada sistem hukum, atau pada manusia yang menjalankannya?

Jawabannya adalah keduanya.

Sistem Hukum
Regulasi yang tumpang tindih, multitafsir, dan tidak sinkron sering menimbulkan ketidakpastian hukum.

Aparat Penegak Hukum
Integritas dan profesionalisme menjadi faktor kunci. Ketika aparat kehilangan moralitas, hukum menjadi komoditas.

Budaya Hukum Masyarakat
Kesadaran hukum yang rendah turut memperburuk kondisi. Hukum sering dianggap sebagai alat untuk “diakali”, bukan ditaati.

Jalan Keluar: Membangun Kembali Marwah Hukum

Untuk keluar dari paradoks ini, diperlukan langkah konkret dan komprehensif:

Reformasi Sistem Hukum
Penyederhanaan regulasi dan harmonisasi peraturan perundang-undangan

Penguatan Integritas Aparat
Penegakan kode etik dan pengawasan yang ketat terhadap aparat penegak hukum

Transparansi dan Akuntabilitas
Proses hukum harus terbuka dan dapat diawasi publik

Pendidikan Hukum Masyarakat
Meningkatkan kesadaran hukum sebagai bagian dari budaya bangsa

Paradoks penegakan hukum dan fatamorgana keadilan bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Ia adalah konsekuensi dari sistem dan perilaku yang harus diperbaiki secara bersama-sama.

Hukum tidak boleh hanya menjadi simbol kekuasaan, tetapi harus menjadi alat keadilan yang nyata. Jika tidak, maka keadilan akan terus menjadi ilusi terlihat indah dari kejauhan, namun tak pernah benar-benar dapat dirasakan.

Sudah saatnya hukum di Indonesia kembali pada jati dirinya: menjadi pelindung, bukan alat penindas;
menjadi penegak keadilan, bukan sekadar prosedur formal.

Pitra Romadoni Nasution
Presiden Perkumpulan Praktisi Hukum & Ahli Hukum Indonesia

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya