Berita

Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia, Chappy Hakim. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Perang AS Versus Iran: Ilusi Kemenangan dan Realitas Eskalasi

JUMAT, 03 APRIL 2026 | 22:04 WIB | OLEH: CHAPPY HAKIM

SEJAK dimulai pada 28 Februari 2026, konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran kini telah memasuki lebih dari satu bulan peperangan sekitar hari ke-34 hingga ke-35 pada awal April 2026. Hingga hari ini, belum ada tanda-tanda de-eskalasi yang nyata.

Sebaliknya, intensitas serangan, retorika politik, dan dampak global terus meningkat. Di tengah situasi tersebut, pertanyaan paling mendasar pun mengemuka yakni sampai kapan perang ini akan berlangsung, dan apakah para pihak benar-benar memiliki jalan keluar selain terus melanjutkan konflik yang kian sulit dikendalikan?

Perang modern kerap dijanjikan sebagai konflik yang cepat, presisi, dan menentukan. Narasi “short, decisive war” menjadi fondasi legitimasi politik sekaligus alat komunikasi strategis kepada publik domestik. Namun, perkembangan konflik antara AS–Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026 justru memperlihatkan hal sebaliknya.


Perang ternyata jadi semakin panjang, melebar, dan sulit dikendalikan. Memasuki hari ke-34, konflik ini menunjukkan pola klasik yang berulang dalam sejarah peperangan kontemporer, yaitu berupa klaim kemenangan di satu sisi, tetapi eskalasi nyata di lapangan di sisi lain.

Pernyataan Presiden Donald Trump yang mengancam akan menghantam Iran “sangat keras” dalam dua hingga tiga minggu ke depan, sambil menyebut operasi militer hampir mencapai tujuan, mencerminkan kontradiksi mendasar dalam strategi perang itu sendiri.

Jika tujuan hampir tercapai, mengapa eskalasi justru ditingkatkan?

Di sinilah letak problem utama yakni perang tidak lagi berjalan sesuai skenario awal. Bukannya melumpuhkan Iran secara cepat, serangan yang menyasar infrastruktur industri dan sipil justru memperluas spektrum konflik.

Jembatan, fasilitas baja, hingga instalasi ekonomi menjadi target. Dampaknya bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga disrupsi sistemik terhadap kapasitas produksi dan stabilitas sosial Iran.

Respons Teheran menunjukkan bahwa negara tersebut belum kehilangan daya pukulnya. Serangan balasan melalui rudal dan drone oleh Islamic Revolutionary Guard Corps menandakan bahwa rantai komando dan kemampuan operasional Iran masih utuh.

Bahkan, klaim serangan terhadap infrastruktur ekonomi yang terkait dengan kepentingan Barat di kawasan menunjukkan perluasan teater konflik ke domain yang lebih asimetris.

Kondisi ini menegaskan satu hal penting bahwa perang ini telah bergeser dari model “shock and awe” menuju “war of endurance” atau perang ketahanan. Dalam perang jenis ini, kemenangan tidak ditentukan oleh siapa yang menyerang lebih dulu atau lebih keras, tetapi oleh siapa yang mampu bertahan lebih lama secara politik, ekonomi, dan sosial.

Iran tampaknya memainkan permainan ini dengan sadar, sementara pihak AS-Israel masih terjebak dalam ekspektasi kemenangan cepat. Di sisi lain, ruang diplomasi yang masih dibuka oleh Washington menghadirkan paradoks tersendiri. Ajakan dialog di tengah intensifikasi serangan militer seringkali bukan tanda kelemahan, tetapi refleksi bahwa opsi militer tidak menghasilkan hasil yang diharapkan.

Diplomasi dalam konteks ini menjadi “exit strategy” yang disiapkan, bukan pilihan utama sejak awal. Namun bagi Iran, menerima negosiasi dalam kondisi tertekan justru berisiko melemahkan posisi tawar strategisnya.

Pernyataan bahwa perang akan berlanjut hingga “musuh menyerah” menunjukkan bahwa Teheran melihat konflik ini sebagai pertaruhan eksistensial, bukan sekadar sengketa geopolitik biasa.

Dampak dari kebuntuan ini kini meluas ke tingkat global.

Penutupan efektif Selat Hormuz menjadi faktor kunci yang mengguncang sistem ekonomi dunia. Jalur vital energi global ini bukan sekadar choke point regional, melainkan arteri utama ekonomi internasional.

Ketika aliran minyak terganggu, efek domino langsung terasa antara lain berupa harga energi melonjak, biaya logistik meningkat, dan inflasi global terdorong naik. Lebih jauh, krisis ini mulai merambah sektor pangan. Negara-negara Timur Tengah yang sangat bergantung pada impor menghadapi ancaman serius terhadap ketahanan pangan mereka.

Peringatan tentang potensi jutaan orang jatuh ke dalam kerawanan pangan bukanlah spekulasi berlebihan, melainkan konsekuensi logis dari gangguan rantai pasok global.

Dengan demikian, perang ini telah melampaui batas geografisnya. Ia bukan lagi konflik regional, tetapi krisis sistemik global. Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi serangan terhadap infrastruktur sipil. Ketika rumah sakit, pusat penelitian, dan fasilitas publik menjadi target atau terdampak, maka batas antara target militer dan sipil semakin kabur.

Ini bukan hanya persoalan hukum humaniter internasional, tetapi juga indikator bahwa eskalasi telah memasuki fase yang lebih berbahaya dan sulit dikendalikan. Pada titik ini, pertanyaan mendasarnya bukan lagi siapa yang akan menang, tetapi seberapa jauh dunia mampu menahan dampaknya.

Sejarah menunjukkan bahwa perang yang dimulai dengan keyakinan tinggi seringkali berakhir dengan ketidakpastian yang panjang. Konflik ini tampaknya bergerak ke arah yang sama dari perang cepat menuju perang yang menguras.

Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, situasi ini menjadi pengingat penting bahwa stabilitas global adalah fondasi utama pembangunan nasional. Ketika konflik besar terjadi di pusat energi dunia, dampaknya akan terasa hingga ke dapur rumah tangga.

Karena itu, posisi strategis yang mengedepankan diplomasi, stabilitas kawasan, dan ketahanan nasional menjadi semakin relevan. Perang ini mungkin terjadi jauh dari wilayah kita. Namun konsekuensinya, cepat atau lambat, akan sampai juga.

Penulis adalah Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Denny Indrayana Optimistis MK Diskualifikasi Gibran

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:05

Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:03

Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:55

Nonton Film ‘Istimewa’ Bareng Penyandang Disabilitas, Legislator PKS Dorong Kesetaraan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:49

Masuknya RG Jadi Wantimpres Pelajaran untuk Tak Terlalu Anti Kekuasaan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:43

Ribuan Prajurit Dikerahkan Dalam HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:34

SBY dan Jokowi Kompak Hadir di Upacara HUT Ke-81 TNI

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:33

IHSG Positif di Awal Perdagangan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:32

Profil Komandan Upacara HUT Ke-81 TNI Letjen TNI Lucky Avianto

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:18

KPK Telusuri Dugaan Setoran dari Wajib Pajak Sektor Pertambangan di Banjarmasin

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:17

Selengkapnya