Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Rakyat Tercekik Bunga Bank

RABU, 01 APRIL 2026 | 03:45 WIB

ASAP rokok membumbung tinggi. Gerimis masih terus terjadi. Siang itu, kami meriung dalam suasana halbil di kantor "Rakyat Pinggiran," milik kawan pengusaha. Kami menertawakan kisah Indonesia sebagai negeri rente birokrasi, di mana aktor birokrasi memanfaatkan wewenang untuk memperoleh keuntungan pribadi (perburuan rente) melalui prosedur rumit, korupsi, kolusi, nepotisme dan ekonomi berbiaya tinggi.

Ya. 80 tahun sudah kita hidup dalam ekopol kolonial, walau pekik kemerdekaan diteriakkan. Yang ada hanya (dan satu-satunya) ekonomi ekstraktif, ekonomi KKN, ekonomi eksploitasi, dan ekonomi anti kesentosaan bersama. Dus, merdeka hanya slogan, nasib tetap diperbudak. Merdeka hanya tulisan, posisi tetap dimiskinkan.

Itulah mengapa, kita menikmati hadirnya rupiah yang tak berdaulat dan suku bunga tinggi yang mencekik. Dalam rupiah yang rentan dan lemah, ia terdepresiasi terus menerus secara terstruktur, sistematis dan masif. Dalam posisi suku bunga tinggi, ketimpangan meningkat, daya beli melemah, dan mematikan ekspansi bisnis.


Ini aneh tapi nyata. Perbankan kita memilih jadi mesin rentenir dan menelan riba. Persis seperti zaman penjajahan. Mereka mencipta arsitektur bunga bank (terutama kredit) sangat tinggi karena kombinasi faktor struktural, fungsional, risiko, sekaligus BI rate yang mencekik.

Hasilnya, margin bank (NIM) di Indonesia masih paling tinggi di dunia. NIM perbankan kita beredar pada angka 4,4 persen (BRI bahkan ?6,8 persen), jauh di atas China (2,16 persen), India (3,18 persen), Malaysia (1,95 persen) atau Singapura (1,2 persen). Juara, tapi juara untuk hal "pencekikan" ekonomi warganegara.

Kenyataannya, selisih bunga kredit vs bunga simpanan yang sangat lebar ini jadi sumber profit utama. Mencekik konsumen, memecut rakyat dan memeras nasabah adalah "sistem rentenir" dalam pola perbudakan modern.

Tentu saja, hal ini karena inklusi dan literasi keuangan belum optimal. Proses inklusi baru pada angka 75 persen (2025) dan literasi pada angka 50 persen. Pasti ini kesengajaan yang terus dipertahankan. Untuk kepentingan siapa? Elite bank dan oligarki ekonomi.

Akibat dari pola itu, pasokan dana pihak ketiga (DPK) tidak maksimal; saat likuiditas ketat, bank naikan bunga deposito, dan bunga kredit ikut terangkat untuk menjaga margin. Ini simpel tapi remeh; solusi perbankan tanpa kejeniusan.

Herannya, para bangkir juga berargumentasi bahwa biaya operasional dan geografis tinggi. Menurut mereka, Indonesia merupakan negeri kepulauan yang membikin operasional bank kurang efisien dibanding negara lain, jadi beban itu dibebankan ke bunga.

Saat bersamaan, premi risiko kredit, terutama UMKM meningkat. Tentu saja, saat literasi rendah maka risiko gagal bayar dinilai tinggi, jadi bunga kredit segmen UMKM dipatok lebih tinggi sebagai “kompensasi” risiko. Cara ini adalah cara tanpa kerja cerdas. Hanya mengandalkan asumsi dan ongkang-ongkang kaki.

Singkatnya, kebijakan moneter dan faktor eksternal membuat bunga bank tetap tinggi. BI menaikkan suku bunga acuan saat inflasi tinggi (rupiah melemah atau saat The Fed naik) tujuannya kendalikan harga dan stabilkan rupiah, yang otomatis bikin cost of fund bank naik. Posisi subordinat dari The Fed membuat volatilitas tinggi dan bunga tinggi.

Negeri para rentenir itu ujungnya bermain pada margin besar plus likuiditas yang ketat plus biaya operasi dan risiko kredit tinggi menghasilkan bunga tinggi yang terasa mencekik. Inovasi tak tumbuh, bisnis tak invasi, pengangguran tak berkurang, disparitas tak menyempit.

Saat bank tak banyak modal dan dikerjakan dengan "pinjaman antar bank" maka ekonomi pasti stagflasi, kredit rakyat seret, dan beban utang naik. Sayangnya, kehadiran SWF Danantara bukan ikut menyelesaikan warisan perbangkan kolonial, ia justru menajamkannya. Subhanallah.

Yudhie Haryono 
Rektor Universitas Nusantara


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya