Berita

Gerakan Ansar Allah Yaman atau Houthi. (Foto: AP)

Publika

Houthi, Selat Strategis, dan Bayang-Bayang Perang Global

SENIN, 30 MARET 2026 | 14:25 WIB

Pendahuluan 

KETIKA kelompok Houthi di Yaman mulai meluncurkan rudal balistik ke arah Israel, banyak pihak melihatnya sebagai eskalasi lanjutan dari konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai. 

Namun, membaca peristiwa ini semata sebagai aksi solidaritas ideologis adalah penyederhanaan yang berbahaya. Yang sedang terjadi sesungguhnya adalah pergeseran medan konflik—dari perang regional menjadi pertarungan strategis yang berpotensi mengguncang sistem global.


Proxy Warfare

Di balik manuver Houthi, terdapat bayang panjang Iran yang memainkan strategi proxy warfare secara cermat. Tanpa harus terlibat langsung dalam konfrontasi terbuka dengan Amerika Serikat, Iran mampu menciptakan tekanan simultan di berbagai front. 

Dari Lebanon melalui Hezbollah, dari Teluk Persia melalui ancaman di Selat Hormuz, hingga kini dari Laut Merah melalui Houthi di Selat Bab el-Mandeb—semuanya membentuk satu pola: pengepungan strategis terhadap kepentingan Barat dan sekutunya.

Yang membuat situasi ini semakin serius adalah pergeseran medan tempur ke jalur maritim global. Kawasan Laut Merah dan Terusan Suez bukan sekadar wilayah geografis, melainkan arteri utama perdagangan dunia. 

Sekitar 10–15 persen perdagangan global melintasi jalur ini. Gangguan kecil saja dapat berdampak besar, apalagi jika dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Dalam perspektif militer, ini adalah bentuk klasik dari chokepoint warfare—menguasai titik sempit untuk melumpuhkan pergerakan lawan. 

Houthi tidak perlu memiliki armada laut besar untuk menciptakan efek strategis. Cukup dengan rudal, drone, dan serangan terbatas terhadap kapal komersial, mereka bisa memaksa dunia menghadapi ketidakpastian. 

Biaya asuransi melonjak, jalur pelayaran dialihkan, dan harga energi terdorong naik.

Potensi Resesi Global

Lebih jauh, dunia kini menghadapi skenario yang dapat disebut sebagai “perfect storm” geopolitik. Bayangkan jika tiga jalur utama perdagangan global terganggu secara bersamaan: Selat Hormuz, Selat Bab el-Mandeb, dan Terusan Suez. 

Dampaknya tidak hanya regional, melainkan sistemik—mulai dari krisis energi, lonjakan inflasi, hingga potensi resesi global.

Di titik ini, dilema terbesar berada di tangan Amerika Serikat. Sebagai kekuatan yang selama ini memposisikan diri sebagai penjamin keamanan jalur perdagangan internasional, Washington menghadapi pilihan sulit. 

Respons militer yang keras terhadap Houthi berisiko memicu konfrontasi langsung dengan Iran. Sebaliknya, sikap menahan diri justru dapat menggerus kredibilitasnya di mata sekutu dan pasar global.

Di sisi lain, aktor-aktor besar seperti Rusia dan Tiongkok berpotensi menjadi "silent beneficiaries" (penerima manfaat yang diam). Ketika perhatian dan sumber daya Barat tersedot ke Timur Tengah, ruang manuver geopolitik mereka di kawasan lain justru semakin terbuka. 

Dalam logika ini, konflik di Laut Merah bukan hanya tentang Timur Tengah, tetapi tentang keseimbangan kekuatan global.

Situasi ini juga mengandung pelajaran penting: dalam era modern, perang tidak lagi selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki kekuatan militer terbesar, melainkan oleh siapa yang mampu mengganggu sistem paling vital. 

Houthi, dengan segala keterbatasannya, menunjukkan bahwa aktor non-negara pun dapat memainkan peran strategis jika berada di titik geografis yang tepat dan didukung oleh kekuatan negara di belakangnya.

Penutup 

Pada akhirnya, serangan Houthi ke Israel bukanlah akhir dari sebuah episode, melainkan awal dari fase baru konflik yang lebih kompleks. 

Dunia tidak hanya menghadapi perang di darat atau udara, tetapi juga perang terhadap jalur perdagangan, energi, dan stabilitas ekonomi global.

Jika eskalasi ini tidak dikelola dengan hati-hati, maka yang kita saksikan hari ini bisa berkembang menjadi krisis global yang jauh lebih luas—sebuah konflik yang tidak lagi mengenal batas wilayah, tetapi merambat melalui urat nadi ekonomi dunia.

Selamat Ginting 
Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya