Berita

Budayawan Jaya Suprana. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Drama Kalah Debat Lawan Ibu Guru

MINGGU, 29 MARET 2026 | 21:18 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KETIKA masih duduk di bangku sekolah dasar yang pada tahun 50-an abad XX masih disebut sebagai sekolah rakyat, ibu guru ilmu berhitung yang pada masa itu istilah matematika belum digunakan secara umum, mengajukan sebuah pertanyaan ilmu berhitung tentang berapa hasil akhirnya jika dua ditambah tiga dikali empat.

Saya memang yang dari dulu sok pintar padahal goblok, spontan angkat tangan untuk tegas menjawab sama dengan dua puluh, sementara seorang teman sekelas saya yang memang benar-benar pintar menghitung bilang bahwa hasil 2 + 3 X 4 = 14.

Pada saat itu saya yakin bahwa hitungan saya pasti benar namun ternyata menurut ibu guru jawaban yang benar adalah teman saya, yaitu bukan dua puluh tetapi empat belas!


Berhubung saya yakin saya benar, maka saya protes sambil bertanya kenapa 2+3x4 bukan 20 tetapi 14. Ibu guru menjawab bahwa perkalian harus didahulukan ketimbang penambahan.

Saya makin protes sembari berani nekat lanjut bertanya kenapa harus begitu itu. Ibu guru masih sabar menjawab bahwa aturan yang telah disepakati oleh para pakar dan otorita ilmu berhitung di planet bumi sementara itu memang begitu itu.

Saya yang sudah kehabisan perbendaharaan kata untuk bertanya apalagi protes cuma bisa bertanya “Kenapa?!” sambil menggunakan tanda seru di belakang tanda tanya.

Di situ ambang batas kesabaran ibu guru sudah terlanggar di samping beliau juga tidak terlatih menjawab pertanyaan kurang ajar dari seorang murid yang memang kurang ajar sekurang-ajar saya.

Maka ibu guru menghukum saya dengan hukuman harus menulis seratus kali di papan tulis disaksikan seluruh kelas bahwa 2 + 3 X 4 = 14 agar saya kapok membantah aturan matematika yang dogmatis berlaku sebab tidak boleh dibantah. Akibat kalah kewibawaan maupun kalah kekuasaan, pada saat itu saya menyerah kalah maka 100 kali menulis 2 + 3 X 4 = 14 di papan tulis yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa di dalam kemelut polemik aritmatikal saya versus ibu guru.

Sejak peristiwa drama kalah debat lawan ibu guru itu sampai masa kini, di lubuk sanubari saya masih dihantui dendam kesumat akibat merasa yakin bahwa saya memang berada di pihak yang benar dengan jawaban 20 ketimbang 14 sebab dua ditambah tiga sama dengan lima sementara lima dikali empat sama dengan memang tidak bisa tidak, suka tidak suka, menurut keyakinan saya adalah dua puluh.

Juga de facto penambahan berada di depan pengalian lalu kenapa yang berada di belakang justru didahulukan. Seharusnya menurut runutan logika konsisten maupun para konsisten tata krama antri yang berada di depan hukumnya wajib didahulukan. Bukan sebaliknya!

Sebab rumput bergoyang maupun tidak bergoyang juga tidak berkenan memberikan jawaban maka saya hanya bisa mengikhlaskan diri untuk menerima nasib mujur tak teraih, nahas tak tertolak belaka.

Penulis adalah Budayawan dan Pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI)

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

4 Lapis Kegagalan PSSI dan Otoritas Liga

Jumat, 19 Juni 2026 | 02:18

Air Zamzam Jemaah Haji akan Didistribusikan di Tanah Air

Jumat, 19 Juni 2026 | 02:00

Gibran Prioritaskan Program MBG di Wilayah 3T

Jumat, 19 Juni 2026 | 01:21

Ceko Kontra Afsel Berbagi Skor 1-1

Jumat, 19 Juni 2026 | 01:19

Wamendes Dorong Intelektual Muda Mendukung Pembangunan Desa

Jumat, 19 Juni 2026 | 01:00

MBG Bermanfaat untuk Masa Depan Anak-anak

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:26

Bomba Sayang Bumi Bagikan Bibit Tanaman di Muara Enim

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:11

Rupiah Tak Bisa Kuat hanya dengan Kebijakan Moneter

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:00

Warga Papua Surati Presiden Prabowo Minta Atensi Kasus Lahan Rp50 Miliar

Kamis, 18 Juni 2026 | 23:51

Kinerja Mendag Budi Santoso Harus Dievaluasi Demi Akselerasi Ekonomi

Kamis, 18 Juni 2026 | 23:37

Selengkapnya