Berita

Illustrasi (Babbe via Gemini AI)

Bisnis

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

SABTU, 28 MARET 2026 | 11:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Utang nasional Amerika Serikat (AS) kini telah melampaui 39 triliun Dolar AS dan terus meningkat. 

Meski angkanya sangat besar, isu ini justru belum menjadi perhatian utama di pasar keuangan global. Banyak investor masih lebih fokus pada berita jangka pendek, padahal ada tekanan besar yang diam-diam terus menumpuk di balik layar.

Kekhawatiran ini disampaikan oleh Nigel Green, pimpinan deVere Group, salah satu perusahaan penasihat keuangan independen terbesar di dunia. Dikutip dari Finnnews, Sabtu 28 Maret 2026, Nigel menilai utang AS bukan sekadar isu sampingan, melainkan masalah mendasar yang bisa berdampak luas.


“Utang sebesar ini memengaruhi cara AS membiayai dirinya, bagaimana pasar menilai risiko, serta bagaimana investor melihat stabilitas ke depan,” ujar Nigel.

Situasi global yang memanas, termasuk ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, semakin memperburuk kondisi. Dampaknya sudah terlihat: harga minyak naik, pasar menjadi lebih tidak stabil, dan obligasi pemerintah AS (Treasuries) mengalami gejolak.

Menurut Green, beban utang sebesar ini memengaruhi banyak hal: cara pemerintah AS membiayai dirinya, bagaimana pasar menilai risiko, hingga kepercayaan terhadap Dolar AS. Ia juga menyoroti bahwa defisit anggaran AS diperkirakan tetap mendekati 2 triliun Dolar AS per tahun, sementara pembayaran bunga utang bisa mencapai 1 triliun Dolar AS per tahun -- dan terus meningkat.

“Ketika sebuah negara membayar sekitar 1 triliun Dolar per tahun hanya untuk bunga, ini bukan lagi isu abstrak, ini sudah menjadi masalah nyata bagi pasar,” ujar Nigel. 

Dampaknya langsung terasa di kehidupan nyata: biaya pinjaman naik, suku bunga kredit dan KPR meningkat, serta aktivitas ekonomi seperti pembelian rumah ikut melambat.

Selain itu, utang besar membuat AS lebih rentan terhadap gejolak, seperti lonjakan imbal hasil (yield), guncangan ekonomi global, atau berkurangnya minat investor asing terhadap obligasi mereka. Bahkan, mulai terlihat tanda-tanda bahwa permintaan terhadap obligasi AS tidak sekuat sebelumnya, sementara likuiditas pasar juga lebih rapuh saat terjadi volatilitas.

Green memperingatkan bahwa pasar selama ini terlalu percaya diri, seolah-olah utang AS akan selalu mudah dikelola hanya karena ukuran ekonominya besar dan Dolar AS masih dominan. Padahal, sikap terlalu santai seperti ini justru berisiko.

Lebih jauh lagi, dampak utang ini tidak hanya terbatas pada pasar obligasi. Beban utang yang terus membengkak bisa menekan pertumbuhan ekonomi, menjaga suku bunga tetap tinggi, dan dalam jangka panjang melemahkan kepercayaan terhadap Dolar.

Kesimpulannya, lonjakan utang AS seharusnya menjadi salah satu isu utama di pasar keuangan global saat ini. Namun anehnya, perhatian terhadap masalah ini masih minim. Jika dibiarkan, saat akhirnya semua orang menyadarinya, dampaknya pada pasar dan aset keuangan bisa saja sudah terlanjur besar.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya