Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Wall Street Anjlok Lagi

RABU, 25 MARET 2026 | 08:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Amerika Serikat kembali melemah akibat kekhawatiran investor terhadap konflik di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga yang belum pasti.

Dikutip dari Reuters, Rabu 25 Maret 2026, pada penutupan perdagangan Selasa, indeks Dow Jones melemah 0,18 persen, S&P 500 terkoreksi 0,37 persen, dan Nasdaq turun paling dalam sebesar 0,84 persen. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati investor dalam menghadapi situasi global yang belum jelas.

Sepanjang perdagangan, pasar bergerak fluktuatif. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut adanya komunikasi dengan pihak Iran sempat memberi harapan akan meredanya konflik. Namun sentimen tersebut tertahan oleh laporan bahwa Amerika justru bersiap mengirim tambahan pasukan ke Timur Tengah.


Kondisi ini membuat pelaku pasar berada di posisi sulit. Di satu sisi ada optimisme damai, namun di sisi lain risiko eskalasi perang masih tinggi. Ketidakpastian inilah yang menekan pergerakan saham.

Kenaikan harga minyak turut memperburuk situasi. Harga minyak mentah naik lebih dari 4 persen, memicu kekhawatiran inflasi akan kembali meningkat. Jika inflasi naik, maka suku bunga berpotensi tetap tinggi lebih lama.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga ikut naik, menambah tekanan ke pasar saham. Investor kini mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan peluang kenaikan suku bunga kembali mulai diperhitungkan.

“Pasar sedang berusaha mencari pijakan dan masih dipenuhi kegelisahan,” ujar Carol Schleif dari BMO Private Wealth.

Dari sisi sektor, saham energi menjadi yang paling diuntungkan karena kenaikan harga minyak. Sebaliknya, sektor komunikasi dan teknologi mengalami tekanan paling besar.

Di level perusahaan, saham Jefferies menguat setelah muncul kabar potensi akuisisi oleh grup keuangan Jepang. Sementara itu, saham Estée Lauder anjlok hampir 10 persen setelah mengumumkan rencana merger.

Kekhawatiran juga datang dari sektor kredit swasta, setelah beberapa perusahaan besar membatasi penarikan dana investor. Hal ini menambah tekanan terhadap sentimen pasar secara keseluruhan.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya