Berita

Ilustrasi

Dunia

Diterpa Konflik Iran, Rupiah Terancam Jebol ke Rp20.000 per Dolar AS

SELASA, 24 MARET 2026 | 21:21 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi memperparah tekanan terhadap nilai tukar rupiah ke kisaran Rp20.000 per Dolar AS.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menilai selama ini Indonesia cenderung terlena oleh narasi kekuatan ekonomi yang kerap disebut pemerintah sebagai indikator stabilitas.

“Indonesia terlena atau diterlenakan oleh narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat, cadangan devisa besar, mencapai lebih dari 150 miliar Dolar AS, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang,” kata Anthony dalam risetnya yang diterima pada Selasa, 24 Maret 2026.


Namun menurutnya, kondisi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas. Ia menyebut fundamental ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal, moneter, maupun nilai tukar, justru masih rentan terhadap guncangan eksternal.

“Fundamental ekonomi baik fiskal, moneter, dan nilai tukar sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh,” lanjutnya.

Ia menyoroti konflik di Iran sebagai salah satu faktor eksternal yang berpotensi memperburuk situasi. Gangguan terhadap pasokan energi global dinilai bisa berdampak luas terhadap perekonomian, termasuk Indonesia.

“Konflik Iran bisa menjadi katalis yang berpotensi mempercepat tekanan yang sudah ada. Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya, cadangan devisa Indonesia tidak lagi mencerminkan kekuatan riil karena sebagian besar berasal dari akumulasi utang luar negeri, untuk menekan kurs rupiah.

“Cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Dengan kata lain, utang luar negeri tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui intervensi,”ujarnya.

Menurutnya, ketergantungan pada utang untuk menjaga stabilitas Rupiah tidak bisa berlangsung selamanya. Ia memperingatkan bahwa tekanan terhadap Rupiah berpotensi kembali terjadi.

Berdasarkan data historis, Anthony mengatakan pelemahan Rupiah sebesar 15-20 persen sudah pernah terjadi berulang kali. Dengan posisi saat ini mendekati Rp17.000 per Dolar AS, nilai tukar berpotensi menembus Rp20.000.

“Dengan pelemahan 20 persen akan membawa nilai tukar ke sekitar Rp20.400 per Dolar AS. Angka ini bukan lagi angka spekulatif, tetapi berbasis data historis,” jelasnya.

Ia bahkan membuka kemungkinan tekanan yang lebih dalam jika situasi global memburuk dalam beberapa bulan ke depan.

“Dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi Rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen. Skenario tersebut dapat terjadi dalam waktu relatif singkat, tiga hingga enam bulan ke depan,” tegasnya.

Sebagai pembanding, Anthony mengingatkan krisis 1997, ketika pelemahan Rupiah yang tajam memaksa pemerintah meminta bantuan internasional

“Sejarah menunjukkan, kejatuhan rupiah sebesar 25-30 persen pada triwulan ketiga 1997 membuat pemerintah meminta bantuan likuiditas kepada IMF,” tandasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya