Berita

PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Reuters)

Dunia

Oposisi Israel Tuduh Netanyahu Perpanjang Perang untuk Hindari Pemilu

SENIN, 23 MARET 2026 | 10:23 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diduga sengaja memperpanjang konflik di kawasan Timur Tengah untuk mempertahankan kekuasaannya di Israel.

Dugaan tersebut disampaikan oposisi, Ketua Partai Demokrat Israel Yair Golan saat meninjau dampak serangan di Kota Arad, Sabtu waktu setempat.

Golan menilai, alih-alih mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi atau kemenangan yang tegas, Netanyahu justru mempertahankan situasi perang untuk kepentingan politik domestik.


Menurut mantan jenderal itu, kondisi siaga perang sengaja dipelihara guna menghindari pemilihan umum yang berpotensi mengancam posisi Netanyahu sebagai kepala pemerintahan.

"Netanyahu telah menjadikan keamanan nasional sebagai alat untuk kelangsungan politiknya,” tegas Golan dikutip The Times of Israel, Senin 23 Maret 2026.

Ia juga menyoroti konflik berkepanjangan yang tidak diarahkan pada penyelesaian konkret. Padahal, kata dia, pemerintah memiliki peluang untuk menstabilkan situasi jika mengedepankan diplomasi.

“Inilah mengapa kita berada dalam perang tanpa akhir selama dua setengah tahun. Alih-alih memimpin menuju kemenangan yang menentukan dan menggunakan diplomasi untuk menstabilkan situasi, ia malah memperpanjang perang karena berakhirnya perang akan membutuhkan pemilihan umum dan perubahan pemerintahan," ujar Golan.

Israel sendiri dijadwalkan menggelar pemilihan umum paling lambat Oktober mendatang. Namun jadwal tersebut bisa berubah lebih cepat jika tekanan politik dalam negeri memicu runtuhnya koalisi pemerintah.

Belakangan, para tokoh oposisi mulai lebih terbuka mengkritik kebijakan Netanyahu, termasuk langkah pemerintah yang terus mendorong agenda kontroversial di tengah konflik.

Diketahui, ketegangan di kawasan Timur Tengah telah berlangsung hampir tiga tahun sejak serangan 7 Oktober 2023. Meski kelompok Hamas telah dilemahkan, operasi militer Israel justru meluas hingga Lebanon dan Iran.

Konflik dengan Iran sempat memuncak pada 2025 sebelum berujung gencatan senjata, namun eskalasi kembali terjadi dalam beberapa waktu terakhir karena serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya