Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Perang di Ruang Server

SENIN, 16 MARET 2026 | 12:04 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DULU perang dimulai dengan dentuman meriam. Lalu manusia meningkatkan dramanya dengan tank, kapal induk, dan rudal balistik yang bisa menyeberangi benua. Namun abad ke-21 rupanya punya selera humor sendiri bahwasanya perang bisa dimulai dengan suara kecil dari keyboard: klik.

Tidak ada asap mesiu. Tidak ada sirene serangan udara. Hanya layar login yang tiba-tiba berubah wajah.

Babak terbaru perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini memasuki medan yang jauh lebih sunyi yakni ruang server. Medannya bukan gurun, bukan lautan, bukan langit. Medannya adalah pusat data, kabel optik, dan komputer yang berdengung pelan seperti lemari es raksasa peradaban digital.


Di medan itu tiba-tiba muncul sebuah nama yang terdengar seperti tokoh komik: “Handala”.

Nama ini bukan sekadar alias hacker. Ia berasal dari tokoh kartun legendaris karya Naji al-Ali, seniman Palestina yang dibunuh di London pada 1987. Handala digambarkan sebagai anak kecil berusia sepuluh tahun yang selalu berdiri membelakangi dunia, simbol perlawanan terhadap ketidakadilan global.

Kini tokoh kartun itu muncul lagi. Bukan di halaman koran. Melainkan di layar login perusahaan Amerika.

Targetnya bukan perusahaan kecil yang servernya disimpan di lemari kantor. Yang diserang adalah Stryker, raksasa teknologi medis Amerika yang memproduksi alat operasi, sistem pemantauan pasien, defibrillator, hingga perangkat medis yang digunakan militer Amerika untuk merawat tentara yang terluka.

Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 56.000 orang dan produknya digunakan oleh lebih dari 150 juta pasien setiap tahun. Dengan kata lain, ini bukan warung servis laptop. Ini infrastruktur kesehatan global.

Serangan terjadi dini hari beberapa hari lalu. Sekitar pukul tiga pagi waktu Amerika, jam ketika dunia biasanya hanya diisi oleh petugas keamanan, dokter jaga, dan programmer yang lupa pulang.

Tiba-tiba sistem berhenti. Laptop tak bisa login. Server tidak bisa diakses. Akun administrasi berubah. Di layar login muncul gambar Handala.

Para hacker itu mengklaim sesuatu yang terdengar seperti adegan film cyberpunk. Mereka mengumumkan telah “menghapus lebih dari 200.000 sistem” mulai dari server, laptop, dan perangkat mobile milik perusahaan, serta mencuri sekitar 50 terabyte data.

Lima puluh terabyte. Jika dicetak menjadi dokumen, mungkin cukup untuk mengisi rak buku satu perpustakaan universitas.

Akibatnya operasi perusahaan di 79 negara mendadak berhenti. Seorang karyawan menulis di forum Reddit dengan kalimat yang terdengar seperti laporan dari medan perang digital, “The entire company is at a complete stop.” Perusahaan berhenti total.

Namun drama belum selesai. Seorang pengguna lain di forum yang sama menulis sesuatu yang lebih mengerikan: banyak ponsel pribadi karyawan ikut “terhapus total”. Perangkat yang sebelumnya terhubung ke jaringan perusahaan melalui aplikasi seperti Intune, Company Portal, Teams, atau VPN, tiba-tiba kehilangan seluruh datanya.

Bahkan sistem two-factor authentication ikut lumpuh. Akibatnya banyak karyawan tidak bisa lagi masuk ke akun mereka sendiri. Seorang pekerja yang mengaku berbasis di Australia menulis dengan nada pasrah, “Semua data pribadi di ponsel saya hilang. Sekarang saya bahkan tidak bisa mengakses email dan Teams.”

Di titik ini perang siber berubah menjadi sesuatu yang sangat personal. Bukan hanya server perusahaan yang tewas. Ponsel di saku karyawan pun ikut menjadi korban.

Serangan yang digunakan disebut wiper attack, jenis malware yang tidak hanya mencuri data, tetapi “menghapusnya secara permanen”. Ini seperti pencuri yang bukan hanya mengambil isi rumah Anda, tetapi juga membakar arsip keluarga.

Teknik ini bukan hal baru dalam geopolitik digital. Salah satu contoh paling terkenal adalah serangan Shamoon terhadap Saudi Aramco pada 2012, yang menghapus data lebih dari 30.000 komputer perusahaan minyak terbesar dunia itu.

Rusia kemudian menggunakan malware wiper secara luas dalam perang sibernya terhadap Ukraina. Tahun ini bahkan muncul laporan bahwa serangan terhadap sistem jaringan energi Polandia juga menggunakan metode serupa.

Korea Utara juga memakai teknik ini dalam peretasan Sony Pictures tahun 2014, yang membuat Hollywood tiba-tiba belajar bahwa film komedi pun bisa memicu perang digital antarnegara.

Dengan kata lain, ini bukan lagi aksi hacker remaja yang bosan di kamar tidur. Ini sudah menjadi doktrin militer abad ke-21.

Yang membuat Washington semakin gelisah adalah ancaman berikutnya. Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), telah memperingatkan bahwa perusahaan Amerika yang infrastrukturnya digunakan untuk membantu operasi militer Israel bisa menjadi target.

Bukan hanya serangan siber. Tetapi juga serangan fisik terhadap infrastrukturnya. Itu artinya bom yang membakar. Daftar perusahaan yang disebut bukan toko komputer pinggir jalan. Google. Palantir. Microsoft. IBM. Nvidia. Oracle. Nama-nama ini bukan sekadar perusahaan teknologi. Mereka adalah tulang punggung peradaban digital modern. Dan umumnya berafiliasi dengan kepentingan pihak Israel.

Menurut berbagai laporan keamanan global, termasuk analisis World Economic Forum Global Cybersecurity Outlook, lebih dari 70% layanan digital dunia kini bergantung pada infrastruktur cloud raksasa teknologi ini. Jika mereka terguncang, dampaknya bisa terasa dari Wall Street sampai mesin kasir minimarket.

Inilah paradoks peradaban digital. Semakin canggih teknologi manusia, semakin rapuh pula fondasinya. Sebuah misil hanya bisa menghancurkan satu gedung. Sebuah virus komputer bisa menghentikan satu perusahaan global.

Satu bom menghancurkan satu kota. Satu serangan siber bisa membuat setengah planet panik mengganti password.

Peradaban modern ternyata seperti gedung pencakar langit yang berdiri di atas fondasi kabel ethernet. Dan kadang fondasi itu bisa digigit tikus.

Manusia hari ini sangat bangga dengan teknologi yang ia ciptakan. Kita membangun satelit, menciptakan kecerdasan buatan, dan membuat komputer yang mampu menghitung triliunan operasi per detik. Namun seluruh sistem itu kadang bisa diguncang oleh sekelompok orang dengan laptop, kopi hitam, dan koneksi internet stabil.

Sejarah memang punya selera humor yang agak sinis. Dulu perang dimulai dengan meriam. Sekarang perang bisa dimulai dengan tombol “enter”.

Dan dunia yang begitu percaya diri dengan teknologi itu kini dipaksa belajar satu pelajaran lama yang sudah berusia ribuan tahun: kekuatan terbesar dalam sejarah manusia bukan selalu pada siapa yang memiliki senjata paling besar.

Tetapi pada siapa yang paling memahami “titik lemah sistem lawannya”. Karena dalam dunia digital, sebagaimana dalam kehidupan, yang paling berbahaya kadang bukan bom yang meledak. Melainkan bug kecil di dalam sistem.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya