Berita

Budayawan Jaya Suprana. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Sekilas Menganalisa Psikoanalisa

KAMIS, 12 MARET 2026 | 21:07 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SETELAH membaca karya-karya Sigmund Freud tertuang di dalam "Studien über Hysterie" , "Die Traumdeutung", "Zur Psychopathologie des Alltagslebens", "Drei Abhandlungen zur Sexualtheorie", "Totem und Tabu”, "Zur Einführung des Narzißmus", "Jenseits des Lustprinzips", "Die Zukunft einer Illusion", "Das Unbehagen in der Kultur"; "Neue Folge der Vorlesungen zur Einführung in die Psychoanalyse" dan lain-lain.

Saya menyimpulkan bahwa Sigmund Freud lebih mahir menulis secara memikat pembaca ketimbang Karl Marx. Dan harus saya akui juga bahwa Freud sangat kreatif dalam mencipta istilah bersuasana intelektual-akademis seperti ego, super ego, id, alam bawah sadar, kompleks oedipus, parapraxis, transference, katarsis, proyeksi, sublimasi, displacement, denial, et cetera et cetera termasuk istilah psikoanalisa itu sendiri.

Tidak semua teori Sigmund Freud, saya setuju karena banyak di antaranya justru memicu gejala self fulfilling idea alias gagasan yang membenarkan dirinya sendiri meski sebenarnya tidak benar.


Semisal oedipus complex malah menimbulkan masalah dalam hubungan internal antar keluarga terutama antara anak dengan ibu yang rawan memusuhi ayah. Terjadi fenomena yang semula begitu akibat terus-menerus dianggap begini maka yang begitu akhirnya benar-benar menjadi begini.

Hubungan internal keluarga yang semula sebenarnya tidak bermasalah akibat teori  kompleks oedipus yang dipetik dari mitologi Yunani kuno, justru benar-benar menjadi bermasalah.

Sebagai penggagas humorologi, saya menilai Sigmund Freud gagal dalam upayanya mengulas humor melalui buku Der Witz. Freud terjebak di dalam perangkap makna lelucon padahal lelucon memang merupakan bagian dari humor namun humor an sich jauh lebih luas dan kompleks ketimbang lelucon. Memang lelucon merupakan satu di antara jenis humor namun humor bukan hanya lelucon.

Terkesan Sigmund Freud gemar menggeneralisir melalui analisa terhadap pasien-pasiennya padahal setiap pasien memiliki karakter dan kasus masing-masing yang saling beda satu dengan lain-lainnya.

Pada hakikatnya keunikan setiap pasien tidak layak dipukul-rata alias digeneralisasikan sebagai konsep akibat lebih bersifat kontekstual ketimbang konsepsual.

Analisa terhadap setiap kasus lebih bersifat subjektif ketimbang obyektif. Maka menurut pendapat subyektif saya, sebenarnya Sigmund Freud tidak layak disebut sebagai Bapak Psikologi sebab lebih pantas disebut sebagai Bapak Psikoanalisa yang sekadar merupakan subdisiplin psikologi.

Di alam semesta ilmu perilaku kontemporer Sigmund Freud tercatat sebagai sejarah belaka. Psikoanalisa yang semula menelaah Das Sein  lambat namun pasti sudah bergeser ke arah Das Sollen terutama dalam bentuk psikologi positif yang kemudian bermetamorfosa menjadi neurosains.

Sigmund Freud juga kerap melalaikan faktor lingkungan kebudayaan. Dapat dibuktikan dengan eksperimen tentang seorang warga pedesaan Indonesia yang semula waras. Apabila sang insan dianalisa dengan teori Sigmund Freud dikhawatirkan bahwa warga pedesaan yang semula waras itu malah menderita gangguan mental.

Sigmund Freud yang dilahirkan kemudian tumbuh kembang di lingkungan kebudayaan urban Eropa sebelum hijrah ke Amerika Serikat, sulit – demi menghindari istilah mustahil -- mafhum batin dan perilaku manusia yang berada di dalam lingkungan kebudayaan rural nun jauh di kecamatan Sayung, kabupaten Demak, pantura Jawa Tengah, Indonesia.

Penulis adalah Budayawan dan Pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI)

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Serap Aspirasi Warga Pandeglang, Arif Rahman Kawal Sektor Pertanian dan Perikanan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:14

Hormati Putusan MK, Komisi X DPR Minta Pendidikan dan MBG Tetap Jalan Beriringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak Maret

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:51

Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:41

Kesiapan Fasilitas Zikir Kebangsaan Monas: Dari Ambulans Hingga Ratusan Ribu Konsumsi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:34

K-SIGN Rote Ndao Dipacu Jadi Pilar Swasembada Garam Nasional

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:15

Harga Logam Mulia Terkoreksi Meski Mampu Akhiri Tren Penurunan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:02

Dul Mungkin Tak akan Naik Bus Malam Lagi Setelah Ketahuan Bawa Sabu

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:45

Arab Saudi Sambut Kesepakatan Pelucutan Senjata di Gaza, Israel Harus Mundur

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:34

Ramai Mal Pasang Pagar Tinggi di Tengah Situasi Kamtibmas Kondusif

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:23

Selengkapnya